2 months ago
32 mins read

Kisah Petugas Haji: Di Antara Dua Panggilan

Chairul Akhmad, anggota MCH 2026 Daker Madinah. (Foto: MCH 2026)

Menyaksikan Dua Zaman
Ketika pertama kali berangkat ke Tanah Suci pada 2017, saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan itu kelak menjadi penanda sebuah zaman. Saat itu saya hanya merasa sedang memenuhi panggilan yang telah lama saya tunggu. 

Saya datang sebagai anggota Media Center Haji, meliput penyelenggaraan ibadah haji dari dekat, membantu jemaah sebisa mungkin, lalu pulang membawa pengalaman yang saya kira cukup untuk dikenang seumur hidup.

Namun sembilan tahun kemudian, Allah kembali membuka jalan. Saya kembali ke Tanah Suci dengan tugas yang hampir sama, tetapi dalam suasana yang berbeda. Baru saat itulah saya menyadari bahwa dua perjalanan tersebut bukan sekadar dipisahkan oleh waktu. Saya sedang menyaksikan perubahan besar dalam penyelenggaraan haji Indonesia.

Pada 2017, penyelenggaraan haji masih berada di bawah Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Sembilan tahun kemudian, saya datang ketika urusan haji telah ditangani oleh Kementerian Haji dan Umrah.

Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin hanya tampak sebagai pergantian nama lembaga. Namun dari dalam sistem, saya melihat perubahan yang jauh lebih luas. Saya merasakan proses seleksi petugas yang lebih panjang dan lebih ketat.

Saya mengikuti pendidikan dan pelatihan yang jauh lebih intensif dibandingkan pembekalan pada 2017. Saya melihat penggunaan teknologi yang semakin dominan dalam pelayanan, mulai dari proses imigrasi hingga penggunaan kartu Nusuk yang menjadi identitas penting bagi jemaah dan petugas.

Saya juga menyaksikan bagaimana komunikasi publik berkembang menjadi bagian penting dari operasional haji. Jumlah anggota Media Center Haji bertambah lebih dari dua kali lipat dibandingkan musim haji 2017. Arus informasi bergerak jauh lebih cepat. Tuntutan kepada petugas pun semakin besar.

Semua itu menunjukkan bahwa penyelenggaraan haji terus beradaptasi mengikuti perubahan zaman. Tetapi di balik seluruh perubahan tersebut, saya menemukan satu hal yang tetap sama: manusia. Teknologi dapat berubah. Struktur organisasi dapat berganti. Sistem pelayanan terus disempurnakan.

Namun pada akhirnya, haji tetap berbicara tentang manusia. Tentang seorang jemaah yang menangis ketika pertama kali melihat Masjid Nabawi. Tentang seorang ayah yang datang ke Raudah sambil membawa duka kehilangan putrinya. Tentang seorang lansia yang kehilangan arah di Mina. Tentang petugas yang berdiri berjam-jam demi memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal.

Di situlah saya memahami bahwa ukuran keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan pelayanan yang benar-benar dirasakan oleh jemaah.

Pengalaman selama dua musim haji juga mengubah cara saya memandang profesi yang saya jalani. Sebagai jurnalis, saya terbiasa berdiri di luar peristiwa. Mengamati, mewawancarai, menulis. 

Namun di Tanah Suci, batas itu sering kali hilang. Saya tidak hanya meliput pelayanan. Saya ikut berada di dalamnya. Saya membantu jemaah yang tersesat. Saya mendampingi mereka yang kelelahan. Saya menyaksikan air mata, doa, dan harapan dari jarak yang sangat dekat.

Di situlah saya belajar bahwa jurnalisme tidak selalu harus menjaga jarak. Ada saat-saat ketika empati justru menjadi cara terbaik untuk memahami sebuah peristiwa. Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa setiap panggilan menuju Tanah Suci selalu diawali dengan ujian.

Pada 2017, saya harus menerima kenyataan kehilangan pekerjaan setelah pulang berhaji. Pada 2026, saya kembali diuji ketika visa yang telah terbit mendadak hilang dari sistem beberapa hari menjelang keberangkatan. Saya pernah bertanya-tanya mengapa jalan menuju Tanah Suci selalu terasa berliku.

Namun kini saya memahami bahwa mungkin memang begitulah cara Allah mempersiapkan hamba-Nya. Bukan dengan jalan yang selalu mudah. Melainkan dengan perjalanan yang membuat setiap langkah terasa lebih bermakna. 

Ketika menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa hampir seluruh perjalanan hidup saya dipenuhi perpindahan. Dari media cetak ke media daring. Dari televisi ke dunia advokat. Lalu kembali lagi ke ruang redaksi.

Begitu pula perjalanan menuju Tanah Suci. Saya datang sebagai petugas pada 2017. Kemudian kembali lagi pada 2026. Dua perjalanan yang dipisahkan hampir satu dekade, tetapi dihubungkan oleh satu panggilan yang sama. 

Saya tidak tahu apakah setelah ini Allah masih akan memberi saya kesempatan lain untuk kembali ke Tanah Suci. Saya juga tidak tahu apakah panggilan itu akan datang lagi sebagai petugas, sebagai jurnalis, atau mungkin suatu hari sebagai jemaah biasa yang datang membawa usia yang lebih tua dan hati yang lebih sunyi. 

Tetapi kalaupun perjalanan itu berhenti sampai di sini, saya sudah menerima satu karunia yang sangat besar: kesempatan untuk menjadi saksi kecil bagi dua zaman haji Indonesia. Dan kesempatan untuk melihat bahwa di balik seluruh perubahan besar itu, Allah tetap bekerja dengan cara-Nya yang tenang di dalam hidup seorang hamba yang kecil.

Saya menyaksikan bagaimana pelayanan terus bertransformasi. Saya melihat ribuan petugas bekerja tanpa mengenal lelah. Saya bertemu jemaah-jemaah yang mengajarkan arti sabar, syukur, dan ikhlas. Semua pengalaman itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup saya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kisah Di Antara Dua Panggilan ini bukan hanya berbicara tentang dua kali keberangkatan ke Tanah Suci. Ia juga berbicara tentang perjalanan seorang manusia. Tentang panggilan untuk melayani. Panggilan untuk belajar. Panggilan untuk bersyukur. Dan panggilan untuk terus memperbaiki diri.

Sebab pada akhirnya, setiap perjalanan ke Tanah Suci akan selesai. Pesawat akan kembali mendarat di Tanah Air. Seragam petugas akan disimpan. Koper akan kembali ke rumah. Namun pelajaran yang dibawa pulang seharusnya tidak ikut berakhir. Ia terpendam dalam ingatan. Menjadi pengingat bahwa di hadapan Allah, jabatan, profesi, dan segala kebanggaan dunia pada akhirnya akan luruh.

Yang tersisa hanyalah amal, keikhlasan, dan jejak-jejak kecil yang sempat kita tinggalkan saat melayani sesama. Barangkali itulah makna terbesar yang saya bawa pulang dari dua musim haji yang saya jalani. Saya berangkat sebagai seorang jurnalis. Saya pulang sebagai pribadi yang belajar bahwa melayani adalah bagian dari ibadah. Dan di antara dua panggilan itu, saya bersyukur pernah menjadi saksi dua zaman penyelenggaraan haji Indonesia.*

Chairul saat meliput pusat riset dan studi sejarah di Madinah. (Foto: MCH 2026)

Komentar

Your email address will not be published.

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global
Go toTop

Jangan Lewatkan

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak

Kepuasan Jemaah Haji 2026 Tembus 91,45 Persen

JAKARTA — Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2026 mencapai 91,45
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88