Catatan jurnalis peliput haji di dua era.
Panggilan Pertama
Saya selalu percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk dipanggil ke Tanah Suci. Ada yang datang sebagai jemaah, ada pula yang datang sebagai petugas. Bagi saya, panggilan itu akhirnya datang pada 2017, setelah penantian yang berlangsung cukup lama.
Saat itu saya telah belasan tahun menjadi jurnalis. Perjalanan profesi membawa saya melintasi berbagai ruang liputan: dari Majalah Suara Hidayatullah, Harian Surabaya Sore, Majalah Sabili, hingga Harian Republika. Saya pernah meliput Reformasi 1998, kasus terorisme, konflik-konflik: di Aceh, Poso, Papua, Pattani (Thailand Selatan), hingga perang di Gaza (Palestina).
Bertahun-tahun saya juga mengelola rubrik Jurnal Haji di Republika. Ironisnya, di antara begitu banyak tulisan tentang penyelenggaraan haji, saya belum pernah sekalipun menyaksikannya langsung di Tanah Suci.
Setiap musim haji tiba, saya melihat rekan-rekan berangkat ke Arab Saudi. Saya ikut bahagia, tetapi diam-diam menyimpan harapan yang sama. Saya ingin melihat sendiri bagaimana jutaan umat Islam berkumpul di hadapan Allah. Saya ingin menyaksikan ibadah yang selama ini hanya saya tulis dari balik meja redaksi.
Harapan itu sempat kandas pada 2016 ketika saya gagal dalam seleksi petugas haji. Kegagalan tersebut membuat saya datang ke seleksi Media Center Haji (MCH) 2017 dengan perasaan campur aduk. Saya membawa optimisme, tetapi juga kekhawatiran.
Seleksi berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Dalam sesi wawancara saya menyampaikan sejumlah gagasan mengenai pengembangan layanan informasi haji, termasuk pentingnya pusat informasi resmi yang dapat menjadi rujukan masyarakat terkait penyelenggaraan haji dan umrah. Setelah semua tahapan selesai, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu.
Jawaban itu akhirnya datang. Saya dinyatakan lolos sebagai anggota Media Center Haji 2017. Bagi orang lain, mungkin itu hanya hasil seleksi. Namun bagi saya, itulah jawaban atas penantian yang telah saya simpan bertahun-tahun. Pada 25 Juli 2017 saya berangkat ke Arab Saudi bersama ratusan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), termasuk belasan jurnalis yang tergabung dalam tim MCH.
Begitu pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, saya merasakan perjalanan yang berbeda dari semua liputan yang pernah saya lakukan. Saya pernah datang ke daerah konflik dan wilayah bencana. Namun kali ini saya hadir bukan semata sebagai wartawan. Saya datang sebagai bagian dari pelayanan kepada tamu-tamu Allah.
Perasaan itu mencapai puncaknya ketika pertama kali memasuki Masjidil Haram. Pandangan saya tertuju pada Ka’bah yang berdiri di tengah pelataran. Seketika air mata mengalir tanpa mampu saya bendung. Pada momen itu saya tidak sedang memikirkan berita, tenggat waktu, ataupun pekerjaan. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa saya hanyalah manusia kecil yang berdiri di hadapan rumah Allah.
Namun suasana haru itu tidak berlangsung lama. Tugas segera menunggu. Saya ditempatkan di Daerah Kerja Bandara. Tugas utama saya adalah meliput penyelenggaraan haji sekaligus menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Akan tetapi, kenyataan di lapangan membuat batas antara wartawan dan petugas pelayanan sering kali menjadi kabur.
Kami membantu jemaah lansia yang kebingungan, mendampingi mereka yang kelelahan setelah perjalanan panjang, hingga menolong jemaah yang tersesat. Dalam banyak kesempatan saya tidak lagi sekadar mengamati sebuah peristiwa, melainkan ikut berada di dalamnya.
Pengalaman itu mengubah cara saya memandang profesi jurnalistik. Selama bertahun-tahun saya menulis tentang pelayanan haji dari kejauhan. Di Tanah Suci saya melihat sendiri bagaimana pelayanan itu dijalankan—dengan segala kelelahan, kepanikan, sekaligus keikhlasan para petugas.
Puncak ibadah haji semakin memperdalam pelajaran itu. Di Arafah saya menyaksikan jutaan manusia mengenakan pakaian yang sama. Tidak ada lagi sekat jabatan, status sosial, ataupun kebangsaan. Setelah tugas peliputan selesai, saya larut dalam doa dan istigfar. Di tengah lautan manusia itu saya merasakan betapa kecilnya diri ini di hadapan Allah.
Di Mina, pelajaran lain menunggu. Bersama petugas lain saya membantu jemaah yang tersasar dan kelelahan seusai melontar jumrah. Saya pernah menggotong jemaah yang sakit menuju pos kesehatan. Saya juga pernah menggendong seorang nenek asal Makassar yang terpisah dari rombongannya hingga kembali ke markaz.
Di tengah jutaan manusia yang bergerak hampir tanpa jeda, saya memahami satu hal sederhana: pelayanan juga merupakan bagian dari ibadah. Kesadaran itu terus tumbuh ketika saya bertugas di Madinah.
Di sela pekerjaan, saya beberapa kali mendapat kesempatan beribadah di Masjid Nabawi dan masuk ke Raudah. Di tempat yang diyakini sebagai salah satu taman surga itu, saya tidak meminta banyak hal. Saya hanya memohon ampunan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Musim haji 2017 akhirnya usai. Satu demi satu jemaah Indonesia kembali ke Tanah Air. Bandara yang sebelumnya sibuk perlahan menjadi lengang, begitu pula ruang-ruang kerja para petugas.
Sebelum meninggalkan Madinah, saya kembali mendatangi Masjid Nabawi untuk ‘berpamitan’ kepada Rasulullah. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah saya baru saja menyelesaikan perjalanan yang sangat besar, tetapi hati belum benar-benar siap meninggalkannya.
Saat itu saya mengira kisah saya dengan Tanah Suci telah selesai. Saya tidak pernah membayangkan bahwa hampir sembilan tahun kemudian Allah akan kembali memanggil saya ke tempat yang sama. Dengan tugas yang serupa. Namun dalam zaman yang telah berubah.

