3 months ago
32 mins read

Kisah Petugas Haji: Di Antara Dua Panggilan

Chairul Akhmad, anggota MCH 2026 Daker Madinah. (Foto: MCH 2026)

Catatan jurnalis peliput haji di dua era.

Panggilan Pertama
Saya selalu percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk dipanggil ke Tanah Suci. Ada yang datang sebagai jemaah, ada pula yang datang sebagai petugas. Bagi saya, panggilan itu akhirnya datang pada 2017, setelah penantian yang berlangsung cukup lama.

Saat itu saya telah belasan tahun menjadi jurnalis. Perjalanan profesi membawa saya melintasi berbagai ruang liputan: dari Majalah Suara Hidayatullah, Harian Surabaya Sore, Majalah Sabili, hingga Harian Republika. Saya pernah meliput Reformasi 1998, kasus terorisme, konflik-konflik: di Aceh, Poso, Papua, Pattani (Thailand Selatan), hingga perang di Gaza (Palestina). 

Bertahun-tahun saya juga mengelola rubrik Jurnal Haji di Republika. Ironisnya, di antara begitu banyak tulisan tentang penyelenggaraan haji, saya belum pernah sekalipun menyaksikannya langsung di Tanah Suci. 

Setiap musim haji tiba, saya melihat rekan-rekan berangkat ke Arab Saudi. Saya ikut bahagia, tetapi diam-diam menyimpan harapan yang sama. Saya ingin melihat sendiri bagaimana jutaan umat Islam berkumpul di hadapan Allah. Saya ingin menyaksikan ibadah yang selama ini hanya saya tulis dari balik meja redaksi.

Harapan itu sempat kandas pada 2016 ketika saya gagal dalam seleksi petugas haji. Kegagalan tersebut membuat saya datang ke seleksi Media Center Haji (MCH) 2017 dengan perasaan campur aduk. Saya membawa optimisme, tetapi juga kekhawatiran.

Seleksi berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Dalam sesi wawancara saya menyampaikan sejumlah gagasan mengenai pengembangan layanan informasi haji, termasuk pentingnya pusat informasi resmi yang dapat menjadi rujukan masyarakat terkait penyelenggaraan haji dan umrah. Setelah semua tahapan selesai, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu.

Jawaban itu akhirnya datang. Saya dinyatakan lolos sebagai anggota Media Center Haji 2017. Bagi orang lain, mungkin itu hanya hasil seleksi. Namun bagi saya, itulah jawaban atas penantian yang telah saya simpan bertahun-tahun. Pada 25 Juli 2017 saya berangkat ke Arab Saudi bersama ratusan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), termasuk belasan jurnalis yang tergabung dalam tim MCH.

Begitu pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, saya merasakan perjalanan yang berbeda dari semua liputan yang pernah saya lakukan. Saya pernah datang ke daerah konflik dan wilayah bencana. Namun kali ini saya hadir bukan semata sebagai wartawan. Saya datang sebagai bagian dari pelayanan kepada tamu-tamu Allah.

Perasaan itu mencapai puncaknya ketika pertama kali memasuki Masjidil Haram. Pandangan saya tertuju pada Ka’bah yang berdiri di tengah pelataran. Seketika air mata mengalir tanpa mampu saya bendung. Pada momen itu saya tidak sedang memikirkan berita, tenggat waktu, ataupun pekerjaan. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa saya hanyalah manusia kecil yang berdiri di hadapan rumah Allah.

Namun suasana haru itu tidak berlangsung lama. Tugas segera menunggu. Saya ditempatkan di Daerah Kerja Bandara. Tugas utama saya adalah meliput penyelenggaraan haji sekaligus menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. Akan tetapi, kenyataan di lapangan membuat batas antara wartawan dan petugas pelayanan sering kali menjadi kabur.

Kami membantu jemaah lansia yang kebingungan, mendampingi mereka yang kelelahan setelah perjalanan panjang, hingga menolong jemaah yang tersesat. Dalam banyak kesempatan saya tidak lagi sekadar mengamati sebuah peristiwa, melainkan ikut berada di dalamnya.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang profesi jurnalistik. Selama bertahun-tahun saya menulis tentang pelayanan haji dari kejauhan. Di Tanah Suci saya melihat sendiri bagaimana pelayanan itu dijalankan—dengan segala kelelahan, kepanikan, sekaligus keikhlasan para petugas.

Puncak ibadah haji semakin memperdalam pelajaran itu. Di Arafah saya menyaksikan jutaan manusia mengenakan pakaian yang sama. Tidak ada lagi sekat jabatan, status sosial, ataupun kebangsaan. Setelah tugas peliputan selesai, saya larut dalam doa dan istigfar. Di tengah lautan manusia itu saya merasakan betapa kecilnya diri ini di hadapan Allah.

Di Mina, pelajaran lain menunggu. Bersama petugas lain saya membantu jemaah yang tersasar dan kelelahan seusai melontar jumrah. Saya pernah menggotong jemaah yang sakit menuju pos kesehatan. Saya juga pernah menggendong seorang nenek asal Makassar yang terpisah dari rombongannya hingga kembali ke markaz.

Di tengah jutaan manusia yang bergerak hampir tanpa jeda, saya memahami satu hal sederhana: pelayanan juga merupakan bagian dari ibadah. Kesadaran itu terus tumbuh ketika saya bertugas di Madinah.

Di sela pekerjaan, saya beberapa kali mendapat kesempatan beribadah di Masjid Nabawi dan masuk ke Raudah. Di tempat yang diyakini sebagai salah satu taman surga itu, saya tidak meminta banyak hal. Saya hanya memohon ampunan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Musim haji 2017 akhirnya usai. Satu demi satu jemaah Indonesia kembali ke Tanah Air. Bandara yang sebelumnya sibuk perlahan menjadi lengang, begitu pula ruang-ruang kerja para petugas.

Sebelum meninggalkan Madinah, saya kembali mendatangi Masjid Nabawi untuk ‘berpamitan’ kepada Rasulullah. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah saya baru saja menyelesaikan perjalanan yang sangat besar, tetapi hati belum benar-benar siap meninggalkannya.

Saat itu saya mengira kisah saya dengan Tanah Suci telah selesai. Saya tidak pernah membayangkan bahwa hampir sembilan tahun kemudian Allah akan kembali memanggil saya ke tempat yang sama. Dengan tugas yang serupa. Namun dalam zaman yang telah berubah.

Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad/MCH 2026)

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Siapkan Satu Haji Berbasis AI

BOGOR – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mendorong integrasi data

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88