Air Mata dari Madinah
Selama bertugas di Madinah pada musim haji 2026, saya mewawancarai banyak jemaah Indonesia. Sebagian saya temui di pelataran Masjid Nabawi, sebagian lagi di hotel tempat mereka menginap, di restoran, atau di lorong-lorong yang mempertemukan ribuan orang dengan tujuan yang sama: memenuhi panggilan Allah.
Setiap orang membawa cerita. Ada yang datang dengan nazar, ada yang membawa rasa syukur, ada yang memikul kehilangan, dan ada pula yang sekadar ingin menumpahkan kerinduan yang telah disimpan bertahun-tahun.
Namun di antara semua kisah itu, ada dua yang paling membekas dalam ingatan saya. Bukan karena paling dramatis. Justru karena keduanya sangat sederhana. Kesederhanaan itulah yang membuat saya sulit melupakannya. Yang pertama adalah Nurhari, jemaah asal Batang, Jawa Tengah. Yang kedua Nurmatias Kari Sutan dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Keduanya saya temui di Madinah. Dan keduanya membuat saya ikut menitikkan air mata.
Tangis di Nabawi
Saya bertemu Nurhari selepas salat Ashar di Masjid Nabawi. Awalnya, percakapan kami berlangsung seperti wawancara biasa. Saya hanya bertanya bagaimana perasaannya ketika akhirnya tiba di Madinah dan bisa beribadah di masjid yang selama ini hanya ia lihat melalui televisi.
Belum lama berbicara, suara Nurhari mulai bergetar. Beberapa detik kemudian ia menangis. Bukan sekadar berkaca-kaca. Lelaki berusia 63 tahun itu benar-benar terisak di hadapan saya. Saya sempat terdiam.
Pertanyaan yang saya ajukan sebenarnya sangat sederhana. Namun rupanya, yang saya sentuh bukan sekadar pengalaman perjalanan, melainkan kerinduan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. Nurhari bercerita bahwa dirinya dan sang istri menunggu tiga belas tahun untuk bisa berangkat haji.
Selama masa penantian itu, mereka berusaha menjaga satu kebiasaan. Salat Dhuha berjamaah, dan Tahajud berjamaah. Ia mengatakannya tanpa nada membanggakan diri. Justru sebaliknya, kalimat-kalimat itu keluar di sela tangis yang terus berusaha ia tahan.
Ketika pesawat akhirnya mendarat di Madinah, hal pertama yang ia lakukan bukan menghubungi keluarga ataupun mengabadikan momen dengan telepon genggam. Ia bersujud syukur di lantai bandara. Bagi Nurhari, kedatangan itu bukan sekadar tiba di sebuah kota. Itu adalah jawaban atas doa yang ia dan istrinya panjatkan selama belasan tahun.
Di tengah wawancara, ia mengucapkan satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya. “Haji itu panggilan. Tidak semua yang mampu bisa sampai ke sini.”
Kalimat itu mungkin sering kita dengar. Namun dari mulut Nurhari, kalimat tersebut terasa berbeda. Ia mengucapkannya sebagai seseorang yang telah menunggu tiga belas tahun, menjaga harapan dengan doa-doa yang tak pernah putus, hingga akhirnya benar-benar berdiri di Masjid Nabawi.
Yang lebih mengharukan, Nurhari datang ke Tanah Suci bukan hanya membawa doa untuk dirinya sendiri. Ia membawa titipan doa dari tetangga, kerabat, dan orang-orang di kampungnya. Satu per satu nama-nama itu ia ingat. Satu per satu permohonan doa itu ia panjatkan di Raudah dan di hadapan makam Rasulullah SAW.
Saya memandangi wajahnya yang terus basah oleh air mata. Seorang mantan tukang pos dari Batang yang tidak datang membawa ambisi apa pun selain beribadah. Ia tidak berbicara tentang gelar haji. Tidak pula sibuk mengeluhkan fasilitas. Ia hanya berharap pulang sebagai manusia yang lebih baik dibanding ketika berangkat.
Dari Nurhari saya kembali diingatkan bahwa perjalanan haji sesungguhnya dimulai jauh sebelum seseorang mengenakan pakaian ihram. Ia dimulai dari kesabaran menunggu. Dari doa-doa yang tak pernah berhenti. Dan dari keyakinan bahwa panggilan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat.
Seorang Ayah yang Membawa Duka
Beberapa hari kemudian saya bertemu Nurmatias Kari Sutan di Hotel Front Taiba, Madinah. Ia datang dari Sumatera Barat. Berbeda dengan Nurhari, kisah Nurmatias bukan tentang panjangnya penantian. Melainkan tentang kehilangan.
Ia bercerita bahwa dirinya, sang istri, dan putri bungsunya semula berencana berangkat haji bersama pada 2026. Semua telah dipersiapkan. Namun beberapa bulan sebelum keberangkatan, putri yang paling dekat dengannya jatuh sakit. Mereka berusaha mencari kesembuhan. Dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain di Sumatera Barat, hingga Jakarta. Bahkan ia membawa putrinya berobat ke Malaysia. Takdir berkata lain. Putri yang mereka cintai meninggal dunia di negeri jiran.
Ketika sampai pada bagian tersebut, suara Nurmatias pecah. Air matanya mengalir deras. Saya duduk di depannya sambil memegang alat perekam. Tetapi saat itu saya merasa tidak lagi sekadar sedang mewawancarai seorang jemaah. Saya sedang mendengarkan seorang ayah yang membawa kehilangan paling besar dalam hidupnya. Sebagai seorang ayah yang juga memiliki anak perempuan, saya dapat merasakan sedikit dari luka yang sedang ia ceritakan.
Nurmatias tidak menggunakan kata-kata yang berlebihan. Ia hanya berkisah tentang rencana yang tidak pernah menjadi kenyataan. Tentang seorang anak yang seharusnya berangkat bersama kedua orang tuanya, tetapi justru lebih dahulu dipanggil Allah. Di Raudah, ia menumpahkan seluruh kesedihan itu. Ia mendoakan putrinya. Menyampaikan kerinduan yang tidak sempat selesai. Dan memohon agar Allah menguatkan hatinya untuk menyelesaikan ibadah haji.
Ia mengaku, setelah berdoa di sana, dadanya terasa lebih lapang. Bukan karena kehilangan itu lenyap. Melainkan karena ia mulai belajar menerima takdir yang telah ditetapkan Allah. Saya berusaha menahan air mata. Namun saya gagal. Saya membayangkan betapa beratnya menjalani ibadah haji sambil membawa duka sebesar itu.
Dua kisah itu menjadi pengalaman paling emosional selama saya bertugas di Madinah. Padahal pertanyaan yang saya ajukan kepada para jemaah sebenarnya tidak pernah rumit. Saya hanya meminta mereka menceritakan apa yang mereka rasakan ketika akhirnya tiba di Tanah Suci. Entah mengapa, hampir setiap kali percakapan menyentuh pengalaman paling pribadi, air mata selalu mengalir.
Seorang rekan jurnalis bahkan sempat berkelakar kepada saya. “Kamu ini aneh. Kok setiap jemaah yang kamu wawancarai selalu menangis?”
Saya hanya tertawa. Tetapi dalam hati saya tahu, mungkin saya hanya mengetuk satu pintu kecil yang selama ini mereka simpan rapat. Pintu tempat harapan, penantian, rasa syukur, dan kehilangan bersemayam selama bertahun-tahun.
Dari mereka saya kembali belajar bahwa musim haji tidak hanya berisi angka keberangkatan, data kloter, atau laporan pelayanan. Di balik seluruh statistik itu ada manusia-manusia yang datang membawa kisah hidupnya masing-masing. Ada mantan tukang pos yang menjaga tahajud bersama istrinya selama tiga belas tahun sebelum akhirnya bisa sujud syukur di Madinah. Ada seorang ayah yang datang ke Raudah sambil membawa kerinduan kepada putri yang tak sempat menemaninya berhaji.
Mereka datang bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Mereka datang membawa doa, harapan, penyesalan, syukur, dan air mata. Barangkali karena itulah Madinah terasa begitu berbeda bagi saya. Di kota inilah saya tidak hanya melihat jemaah sebagai bagian dari operasional haji, tetapi sebagai manusia-manusia yang sedang menempuh perjalanan batin.
Dan dari wajah-wajah mereka saya belajar satu hal yang terus saya ingat hingga hari ini. Bahwa haji bukan sekadar perjalanan menuju Makkah dan Madinah. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang menuju diri yang ingin diperbaiki. Pulang menuju hati yang ingin ditenangkan. Dan pulang menuju Allah, tempat seluruh doa, kerinduan, dan air mata akhirnya bermuara.

