2 months ago
32 mins read

Kisah Petugas Haji: Di Antara Dua Panggilan

Chairul Akhmad, anggota MCH 2026 Daker Madinah. (Foto: MCH 2026)

Kakek yang Menemukan Jalan Pulang
Malam kedua di Mina kembali mempertemukan saya dengan seorang jemaah yang sulit saya lupakan. Kalau malam sebelumnya saya mengantar seorang nenek yang tersesat karena terpisah dari rombongannya, malam itu saya bertemu seorang kakek yang kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit dicari: ingatannya.

Saat berjaga di Pos Pantau G, seorang petugas layanan lansia datang menggandeng seorang lelaki sepuh. Wajah petugas perempuan itu tampak sangat lelah, sama lelahnya dengan raut sang kakek yang ia dampingi.

Ia bercerita sudah cukup lama berusaha mencari rombongan sang kakek, tetapi tidak berhasil. “Pak, tolong dibantu. Saya sudah tidak kuat lagi mengantar bapak ini menuju tendanya,” katanya.

Saya mengangguk dan mengiyakan. Petugas itu lantas berlalu dari hadapan kami. Langkahnya pelan, lalu perlahan menghilang di tengah kepadatan manusia yang memenuhi Mina.

Saya mencoba berbicara dengan sang kakek. Saya menanyakan namanya, asal kloternya, hingga nomor markaznya. Semua pertanyaan itu dijawab dengan bahasa Jawa berlogat ngapak yang tidak saya pahami. Jawabannya panjang, tetapi tak satu pun berkaitan dengan pertanyaan yang saya ajukan.

Saya akhirnya melihat kartu identitas yang tergantung di lehernya. Dari sanalah saya mengetahui nomor markaznya. Ketika membuka peta di telepon genggam, saya langsung menghela napas. Lokasinya cukup jauh, berada di kawasan Markaz 7, di atas bukit.

Karena sang kakek mengalami demensia, saya kembali meminta izin kepada pimpinan untuk mengantarkannya. Setelah mendapat persetujuan, kami pun meninggalkan Pos Pantau G.

Sepanjang perjalanan saya menggandeng tangannya. Sesekali saya mencoba mengajaknya berbicara, tetapi ia hanya mengangguk atau kembali berbicara dalam bahasa Jawa yang tidak saya mengerti. Langkahnya semakin berat. Beberapa kali kami berhenti sejenak agar ia bisa mengatur napas.

Di tengah perjalanan, seorang petugas bernama Musna yang sedang berjaga di Markaz 82 menghampiri kami. Sebenarnya ia bertugas di Markaz 7, tetapi sesekali turun ke Markaz 82.

“Kalau sudah di bawah sini, saya malas naik, Mas,” katanya sambil menyeringai. “Soalnya capek turun naik bukit.”

Saya hanya tersenyum. Musna ternyata mengenali logat kampung halaman sang kakek. Melihat kondisinya yang sudah sangat kelelahan, kami memutuskan menggunakan kursi roda untuk melanjutkan perjalanan menuju Markaz 7. Kursi roda itu kami pinjam dari seorang petugas Arab yang biasa menyewakannya kepada jemaah. Syukurlah, ia mengizinkan kami memakainya tanpa memungut bayaran.

Saya dan Musna bersama-sama mendorong kursi roda melewati jalan yang terus menanjak. Sang kakek lebih banyak diam. Tatapannya kosong. Sesekali bibirnya bergerak pelan, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Saya tidak tahu apakah pikirannya masih berada di Mina atau telah kembali ke kampung halamannya. Yang kami rasakan hanyalah tanjakan yang seolah tak ada habisnya. Beberapa kali kami berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum kembali mendorong kursi roda itu ke atas.

Begitu tiba di Markaz 7, kami segera mencari tenda tempat sang kakek menginap. Karena kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk menunjukkan arah, kami bertanya kepada siapa pun yang kami temui. Hampir tidak ada yang mengetahui letak tenda nomor 43. Kami terus menyusuri lorong-lorong markaz hingga akhirnya seseorang memberi petunjuk arah.

Kami pun berbalik mengikuti petunjuk tersebut. Saat melewati sebuah tembok panjang di salah satu sisi jalan, sesuatu yang tak kami duga terjadi. Sang kakek yang sejak tadi lebih banyak menunduk perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang semula kosong berubah menjadi lebih fokus. 

Ia memandangi tembok itu beberapa saat, lalu mengangkat tangannya sambil berbicara cepat dalam bahasa Jawa.

Musna langsung menoleh kepada saya. “Mas… beliau ingat.”

Saya belum memahami maksudnya.

“Beliau ingat tembok ini.”

Kami kembali mendorong kursi roda mengikuti arah yang ditunjukkannya. Beberapa meter kemudian, sang kakek memberi isyarat agar kami berbelok ke kiri. Tak lama setelah itu, ia kembali menunjuk sebuah tenda.

“Itu,” kata Musna menerjemahkan.

Nomor tenda itu sama persis dengan yang tertera pada kartu identitas sang kakek. Beberapa jemaah yang berada di depan tenda segera menghampiri kami. Mereka mengaku sempat kehilangan sang kakek setelah lontar jumrah.

Saya menjelaskan bahwa sepanjang perjalanan si kakek sudah tidak mampu mengenali arah. Saya juga mengingatkan agar keesokan harinya dia tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Sebelum masuk ke tenda, sang kakek sempat menoleh ke arah saya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menganggukkan kepala pelan.

Saya membalasnya dengan senyum. Alhamdulillah, Pak. Sudah sampai.”

Malam itu saya kembali berjalan menuju Pos Pantau G dengan satu kenangan yang terus terpatri dalam memori. Sepanjang perjalanan, sang kakek tak mampu menunjukkan jalan pulang. Namun di antara lorong-lorong Mina yang nyaris serupa, ingatannya kembali hanya karena melihat sebuah tembok yang pernah dilewatinya.

Sejak malam itu, setiap kali mengingat Mina, saya selalu teringat wajah seorang kakek yang menemukan jalan pulangnya melalui sebuah tembok yang masih tersimpan di dalam ingatannya, dan seorang nenek yang takut pulang sendirian.

Di momen-momen kecil itulah saya merasakan makna pelayanan yang paling nyata. Haji bukan hanya tentang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah. Haji juga tentang memastikan mereka yang lemah tidak berjalan sendirian.

Semakin lama bertugas di Mina, saya semakin memahami bahwa persoalan terbesar tidak selalu berupa peristiwa besar. Sering kali yang datang justru rentetan masalah kecil yang muncul tanpa jeda. Dalam situasi seperti itu, kesabaran menjadi ujian terbesar. 

Saya melihat banyak petugas tetap berdiri, tetap tersenyum, dan tetap membantu, meskipun mereka sendiri kelelahan. Di situlah saya memahami bahwa musim haji sesungguhnya menguji semua orang. Jemaah diuji oleh fisik dan kesabaran. Petugas diuji oleh keikhlasan dalam melayani. 

Beberapa kali saya berdiri di pos pantau sambil memandangi arus manusia yang seperti tak pernah putus. Jutaan orang bergerak menuju tujuan yang sama. Di tengah lautan manusia itu, saya hanyalah seorang petugas kecil yang berusaha membantu semampunya. Perasaan itu justru membuat saya semakin sadar bahwa kehadiran sering kali jauh lebih penting daripada kata-kata. 

Banyak jemaah yang kami bantu sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan panjang. Mereka hanya ingin tahu bahwa ada orang yang bersedia berhenti, mendengarkan, dan tidak membiarkan mereka menghadapi semuanya sendirian.

Dari Pos Pantau G di Mina saya belajar bahwa pelayanan bukan selalu tentang tindakan besar. Sering kali pelayanan dimulai dari kesediaan untuk hadir ketika orang lain sedang kehilangan arah. Dari sebotol air minum. Dari kursi roda yang didorong hingga kembali ke markaz. Atau dari satu kalimat sederhana yang mampu menenangkan orang yang sedang panik.

Ketika meninggalkan Mina, saya membawa satu pelajaran yang terus melekat hingga hari ini. Di antara dua panggilan yang membawa saya ke Tanah Suci, pelajaran terbesar bukanlah tentang besarnya operasional haji ataupun megahnya ritual yang dijalankan jutaan manusia. Melainkan tentang rapuhnya manusia. Dan betapa pentingnya kehadiran orang lain pada saat-saat paling rapuh dalam hidupnya.

Seorang jemaah tidur di luar tenda di Mina untuk menghindari dinginnya AC di dalam tenda. (Foto: Chairul Akhmad/MCH 2026)

Komentar

Your email address will not be published.

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global
Go toTop

Jangan Lewatkan

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak

Kepuasan Jemaah Haji 2026 Tembus 91,45 Persen

JAKARTA — Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2026 mencapai 91,45
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88