Kembali ke Pintu Pertama
Ketika nama saya diumumkan lolos sebagai anggota Media Center Haji (MCH) 2026, ada satu harapan yang diam-diam tumbuh di dalam hati. Saya ingin kembali bertugas di Daerah Kerja (Daker) Bandara. Harapan itu lahir bukan tanpa alasan.
Pada musim haji 2017, Daker Bandara menjadi tempat pertama saya belajar bahwa pelayanan kepada jemaah bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari ibadah. Di sanalah saya menyambut kedatangan jemaah Indonesia, membantu mereka yang kebingungan, dan menyaksikan berbagai luapan emosi ketika akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Saya masih mengingat wajah-wajah yang basah oleh air mata begitu keluar dari terminal. Ada yang spontan melantunkan shalawat. Ada yang bersujud syukur. Ada pula yang hanya memandang langit Arab Saudi sambil berulang kali mengucap hamdalah. Bandara menjadi pintu pertama yang mempertemukan penantian panjang dengan kenyataan.
Karena itulah saya berharap bisa kembali ke sana. Namun harapan itu tidak terwujud. Ketika pembagian penugasan diumumkan, saya ditempatkan di Daker Madinah. Sekilas saya merasa kehilangan kesempatan untuk mengulang kenangan lama. Namun perasaan itu tidak berlangsung lama. Saya sadar, setiap penempatan memiliki cerita yang telah disiapkan Allah.
Jika Daker Bandara menjadi gerbang kedatangan jemaah, maka Madinah adalah ruang tempat mereka memulai perjalanan spiritualnya. Saya pun menerima penugasan itu dengan lapang.
Visa yang Hilang
Namun, ternyata ujian belum selesai. Beberapa hari menjelang keberangkatan, kami mengalami salah satu peristiwa paling menegangkan selama proses menjadi petugas haji 2026. Visa Haji yang sebelumnya sudah dinyatakan terbit melalui aplikasi resmi Pemerintah Arab Saudi, E-Visa, tiba-tiba hilang dari sistem.
Kabar itu datang ketika seluruh persiapan keberangkatan hampir rampung. Tiket sudah disiapkan, perlengkapan mulai dikemas, dan koordinasi dengan sesama anggota Media Center Haji terus dilakukan. Kami tinggal menunggu hari keberangkatan. Tiba-tiba semuanya berubah.
Nama saya dan puluhan anggota Media Center Haji lainnya tidak lagi ditemukan dalam sistem visa. Kecemasan pun muncul. Waktu terus berjalan, sementara visa merupakan syarat utama untuk memasuki Arab Saudi. Berbagai pertanyaan bermunculan. Apakah keberangkatan akan tertunda? Apakah tugas yang telah dipersiapkan berbulan-bulan harus batal? Apakah kami tidak jadi berangkat ke Tanah Suci?
Hari-hari menjelang keberangkatan terasa berjalan sangat lambat. Komunikasi dengan berbagai pihak yang menangani administrasi dan penerbitan visa dilakukan hampir tanpa henti. Setiap bunyi notifikasi telepon genggam seolah memunculkan harapan baru. Namun kabar baik yang dinanti tak jua datang.
Di grup WhatsApp Media Center Haji, saya berusaha menenangkan teman-teman. Saya meyakinkan mereka bahwa persoalan ini kemungkinan hanya masalah teknis. Saya juga mengajak mereka memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW serta menghidupkan shalat tahajud jika memungkinkan.
Sebelumnya saya telah meminta kawan-kawan yang kehilangan visa agar menuliskan nama lengkap beserta nomor paspor untuk saya teruskan kepada seorang rekan yang bertugas di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah. Saya berharap kawan lama itu dapat membantu menelusuri persoalan yang sedang kami hadapi.
Situasinya benar-benar menegangkan. Bahkan hingga H-1 keberangkatan, visa kami belum juga muncul. Padahal anggota Media Center Haji merupakan bagian dari PPIH yang bertugas menyampaikan informasi penyelenggaraan haji kepada publik. Jika persoalan itu tidak selesai, bukan hanya keberangkatan kami yang terancam, tetapi juga kesiapan layanan komunikasi selama operasional haji.
Syukurlah, penantian itu akhirnya berakhir. Menjelang waktu Subuh pada Jumat, 17 April 2026,, di hari yang sama pesawat akan lepas landas ke Arab Saudi, kabar yang kami tunggu akhirnya datang. Visa yang sempat hilang kembali muncul di sistem, namun dengan nomor yang baru. Rasa syukur langsung memenuhi grup WhatsApp. Ucapan bernada syukur pun bermunculan. Kami akhirnya bisa bernapas lega. Beberapa jam kemudian, kami mengikuti pelepasan dan bersiap terbang menuju Tanah Suci.
Saya kembali diingatkan bahwa setiap panggilan menuju rumah Allah selalu memiliki ujiannya sendiri. Meski demikian, kenangan tentang Daker Bandara terus mengikuti perjalanan saya menuju Arab Saudi. Saat pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, saya merasakan sensasi yang sulit dijelaskan. Sembilan tahun sebelumnya saya pernah berada di perjalanan yang hampir sama, menuju tujuan yang sama, dengan tugas yang juga tidak jauh berbeda.
Bedanya, pada 2017 saya datang sebagai orang yang benar-benar baru. Kali ini saya datang membawa kenangan. Perbedaan lain segera terasa ketika saya bertemu kembali dengan rekan-rekan Media Center Haji. Pada 2017, jumlah anggota MCH hanya 24 orang. Kami saling mengenal hampir seluruhnya. Sebelas orang bertugas di Madinah, sebelas di Makkah, dan hanya dua orang ditempatkan di Daker Bandara: saya dan Ardiyamsi Sarmoko, seorang profesional di bidang media.
Kini suasananya berbeda. Jumlah anggota MCH meningkat menjadi lebih dari 60 orang. Skala organisasinya jauh lebih besar. Di tengah wajah-wajah baru itu saya juga bertemu kembali dengan Abdul Basir. Pada musim haji 2017, ia menjabat Kepala Seksi (Kasi) MCH Daker Bandara. Sembilan tahun kemudian, posisinya berubah menjadi Kepala Daker Bandara. Pertemuan itu membuat saya menyadari satu hal. Haji memang berlangsung setiap tahun, tetapi orang-orang di dalamnya terus bertumbuh, berganti peran, dan memikul tanggung jawab yang berbeda.
Saya pun datang dengan peran yang tidak lagi sama. Bukan lagi petugas yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Suci, melainkan seseorang yang kembali setelah sembilan tahun membawa pengalaman hidup yang jauh lebih panjang. Namun pertanyaan terbesar saya justru sangat sederhana. Apakah bandara masih sama seperti yang saya ingat?
Pada 2017, proses imigrasi di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, berlangsung sangat lama. Pemeriksaan paspor, sidik jari, dan dokumen bisa memakan waktu hingga empat jam. Karena itu, menjelang pesawat mendarat, saya membayangkan antrean panjang yang sama. Ternyata saya keliru. Begitu memasuki area imigrasi, perubahan langsung terlihat. Jumlah konter pemeriksaan jauh lebih banyak. Alur kedatangan lebih tertata. Pemeriksaan berlangsung lebih cepat sehingga antrean bergerak jauh lebih lancar dibandingkan delapan tahun sebelumnya.
Saya benar-benar merasakan perbedaan itu. Tetapi pengalaman di bandara tetap menyisakan cerita kecil. Ketika tiba giliran saya di loket imigrasi, proses pemindaian biometrik beberapa kali gagal. Sidik jari saya tidak langsung terbaca. Wajah saya harus difoto berulang kali. Sementara itu, rekan-rekan lain satu per satu sudah meninggalkan loket menuju area pengambilan bagasi. Saya justru tertahan sendirian.
Dalam hati saya hanya bisa tersenyum. Ternyata, sebaik apa pun sistem berubah, bandara selalu memiliki cara sendiri untuk menguji kesabaran para pendatang. Namun secara keseluruhan, kesan saya tetap sama. Bandara yang dulu saya kenal kini jauh lebih tertata. Perubahan itu tidak berhenti di area imigrasi.
Dalam perjalanan menuju Makkah, saya menyaksikan sesuatu yang sama sekali belum ada pada musim haji 2017: Nusuk. Kartu identitas digital itu kini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan haji. Pemeriksaan identitas dilakukan lebih ketat. Petugas Arab Saudi naik ke dalam bus untuk memastikan setiap data sesuai dengan sistem.
Pemandangan seperti itu belum pernah saya temui sembilan tahun sebelumnya. Di situlah saya mulai benar-benar merasakan bahwa saya sedang berada di dua zaman yang berbeda.
Perubahan bukan hanya terjadi pada struktur kelembagaan atau jumlah petugas, tetapi juga pada cara penyelenggaraan haji dijalankan.
Meski demikian, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Kerinduan ketika kembali memasuki Masjidil Haram. Saat pertama kali melihat Ka’bah pada musim haji 2026, seluruh kenangan dari 2017 seperti datang bersamaan. Saya melangkah menuju titik awal thawaf, mengucapkan “Bismillah, Allahu Akbar” di garis sejajar Hajar Aswad, lalu mulai mengelilingi Baitullah bersama ribuan orang dari berbagai penjuru dunia.
Di tengah putaran pertama, saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Penantian itu benar-benar telah berakhir. Saya bukan lagi orang yang bertanya apakah Allah akan membuka jalan kembali. Saya sudah berada di hadapan rumah-Nya. Membawa seluruh kenangan dari panggilan pertama. Dan memulai perjalanan baru pada panggilan kedua.
Saat itulah saya merasa kisah ini benar-benar dimulai. Bukan ketika nama saya dinyatakan lulus sebagai petugas. Bukan pula ketika pesawat lepas landas dari Jakarta. Melainkan ketika kaki ini kembali mengitari Ka’bah, di tempat yang sama, tetapi dengan hati yang telah banyak berubah.

