3 months ago
32 mins read

Kisah Petugas Haji: Di Antara Dua Panggilan

Chairul Akhmad, anggota MCH 2026 Daker Madinah. (Foto: MCH 2026)

Malam Panjang di Pondok Gede
Menjelang subuh di Asrama Haji Pondok Gede, peserta yang masih bertahan tinggal tiga orang. Saya, Diky Firmansyah dari Salam Radio, dan Yusuf, wartawan senior Harian Fajar Makassar. Kami duduk di lorong gedung dengan mata berat dan tubuh yang nyaris kehabisan tenaga. Setelah menunggu hampir semalam suntuk, kami seperti tiga orang yang sedang menanti sebuah vonis.

Padahal, pagi itu saya datang dengan bayangan yang sangat sederhana. Pada 18 Desember 2025, saya mengikuti rangkaian seleksi petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026. Tahapannya hanya dua: Computer Assisted Test (CAT) dan wawancara. Saya memperkirakan seluruh proses selesai menjelang sore.

Kenyataannya jauh berbeda. Sejak pagi, tanda-tanda kekacauan mulai terlihat. Ujian CAT yang seharusnya dimulai pukul 07.30 terus mengalami penundaan. Ratusan peserta telah memenuhi aula gedung serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, tetapi sistem belum juga siap digunakan.

Orang-orang hanya bisa menunggu. Saya sendiri sempat salah memasuki barisan. Bukannya bergabung dengan peserta Media Center Haji, saya justru duduk di kelompok Perlindungan Jemaah (Linjam) yang sebagian besar diisi anggota TNI dan Polri. Ketika menyadarinya, ruangan sudah penuh. Saya memilih tetap berada di tempat sambil menunggu ujian dimulai.

Sekitar pukul 09.30 WIB, seleksi CAT akhirnya dimulai. Seratus soal harus diselesaikan melalui telepon genggam masing-masing selama sekitar satu jam. Sebagian besar pertanyaan terasa akrab karena saya pernah menjadi petugas haji pada 2017. Namun ada pula sejumlah soal yang membuat saya ragu, terutama mengenai detail manasik dan perbedaan pandangan imam mazhab terkait rukun dan wajib haji.

Usai mengerjakan seluruh soal, saya mencoba menghitung peluang. Kalau salah lima atau enam, pikir saya, nilai masih berada di atas sembilan puluh. Tetapi begitu hasil muncul di layar, saya terdiam. Nilai saya nol. Bukan hanya saya. Hampir semua peserta memperoleh nilai yang sama.

Ruangan mendadak gaduh. Protes bermunculan dari berbagai sudut aula. Peserta saling menunjukkan layar ponsel. Ada yang kesal kepada vendor penyedia sistem, ada yang mempertanyakan kesiapan panitia, sementara sebagian lain mengeluhkan minimnya pengawasan selama ujian berlangsung.

Kekacauan itu semakin terasa ironis karena selama CAT berlangsung, sebagian peserta bahkan leluasa membuka telepon genggam kedua untuk mencari jawaban. Saya tidak melakukannya. Saya mengerjakan soal berdasarkan kemampuan sendiri. Namun pada akhirnya, peserta yang jujur maupun yang curang sama-sama memperoleh nilai nol karena sistem bermasalah.

Panitia kemudian memutuskan ujian harus diulang. Kami keluar ruangan, beristirahat sejenak, lalu kembali masuk menjelang pukul sebelas. Soalnya masih sama. Hanya urutan pertanyaan dan pilihan jawaban yang diacak.

Saya mengerjakannya lagi dengan ritme lebih cepat karena sebagian besar soal masih saya ingat. Hasilnya tetap mengecewakan. Nilai kembali nol. Aula kembali riuh. Waktu sudah mendekati Zuhur, tetapi ujian yang seharusnya selesai pagi itu belum juga menemukan titik terang.

Setelah shalat dan makan siang, kami dipanggil mengikuti ujian untuk ketiga kalinya. Soalnya tetap sama. Kali ini saya menyelesaikannya hanya dalam sekitar tiga belas menit. Ketika hasil muncul di layar, angka yang saya tunggu akhirnya terlihat: 86. Prediksi saya ternyata terlalu optimistis. Saya tidak salah enam soal, melainkan 14. 

Meski begitu, saya tetap lega. Setidaknya kali ini hasil yang muncul benar-benar mencerminkan jawaban yang saya kerjakan. Namun saya sadar, nilai itu belum menentukan apa pun. Dalam sistem seleksi, CAT hanya berbobot 60 persen. Sisanya ditentukan melalui wawancara. Artinya, perjuangan belum selesai.

Kalau ujian CAT menguji pengetahuan, wawancara tampaknya akan menguji hal lain: kesabaran. Sesi wawancara yang semula dijadwalkan siang ikut bergeser hingga malam karena seluruh agenda mundur akibat kekacauan sejak pagi. Satu per satu peserta dipanggil. Media-media besar yang mengirim beberapa orang mendapat giliran lebih dahulu. Sementara kami yang berasal dari media dengan jumlah peserta lebih sedikit harus terus menunggu. 

Waktu berjalan pelan. Malam semakin larut. Nama saya belum juga dipanggil. Menjelang tengah malam, lorong gedung mulai lengang. Peserta yang selesai wawancara pulang satu demi satu. Kursi-kursi kosong bertambah banyak. Saya hanya bisa mondar-mandir. Tidur tidak mungkin. Kalau sampai tertidur ketika nama dipanggil, semua penantian itu bisa sia-sia. 

Sesekali saya mengabari keluarga melalui grup WhatsApp. Saya memberi tahu bahwa hingga lewat pukul dua dini hari saya masih menunggu giliran. Istri saya yang memang biasa bangun malam untuk tahajud terkejut mengetahui saya belum juga selesai ujian. Saya bisa membayangkan kecemasannya di rumah. Tetapi malam itu saya hanya bisa menunggu. 

Menjelang Subuh, peserta yang belum dipanggil tinggal tiga orang. Saya, Diky, dan Yusuf. Dalam kelelahan yang sulit dijelaskan, kami justru sempat berfoto bersama menggunakan ponsel Diky. Bukan karena sedang ingin mengabadikan momen, melainkan karena merasa sama-sama berada di ujung penantian yang panjang.

Sesaat setelah memencet layar telepon genggam untuk memotret, Diky berkata pelan, “Semoga kita bertiga lulus, karena kita orang-orang terakhir.”

Saya dan Yusuf mengangguk. Kalimat sederhana itu terasa hangat di tengah tubuh yang hampir menyerah. Tak lama kemudian nama kami dipanggil. Yusuf masuk lebih dulu. Lalu giliran saya dan Diky. 

Semua kegelisahan yang saya bayangkan ternyata tidak terjadi. Salah satu pewawancara yang saya temui adalah Ichsan Marsha, sosok yang saya kenal melalui jalur narasumber. Wawancara berlangsung singkat. Saya diminta membaca al-Qur’an, menjelaskan pengalaman bertugas pada 2017, serta memaparkan kontribusi yang dapat saya berikan jika kembali dipercaya menjadi anggota Media Center Haji.

Tidak ada pertanyaan menjebak. Tidak ada perdebatan panjang. Hanya percakapan singkat, kemudian selesai. Justru karena berlangsung begitu cepat, saya keluar ruangan dengan perasaan gamang. Apakah jawaban saya cukup? Apakah nilai CAT saya aman? Apakah saya benar-benar memiliki peluang untuk lolos?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiringi langkah saya menuju masjid. Langit Pondok Gede masih gelap ketika azan Subuh berkumandang. Sebelum shalat, saya hanya mampu berdoa dalam hati. “Ya Allah, sebagaimana Engkau mudahkan langkahku pada 2017, mudahkan pula langkahku kali ini.”

Seleksi memang telah selesai. Tetapi penantian baru saja dimulai. Enam hari kemudian, tepat pada 24 Desember 2025, Kementerian Haji dan Umrah mengumumkan hasil seleksi melalui Instagram. Saya memindai barcode, membuka daftar nama, lalu mencari bagian Media Center Haji. Di sana tertera 15 nama. Nama saya berada di urutan ke-10.

Saya terdiam beberapa saat. Lalu segera menelepon ibu di kampung. Beliau menangis lebih dulu. Saya pun tak mampu menahan haru. Telepon berikutnya saya tujukan kepada istri dan anak-anak. Pintu yang selama berhari-hari hanya terbuka sedikit, akhirnya benar-benar terbuka.

Malam panjang di Pondok Gede bukan sekadar kisah tentang seleksi yang kacau. Bagi saya, malam itu adalah gerbang. Gerbang menuju panggilan kedua. Perjalanan yang hampir sembilan tahun saya tunggu akhirnya dimulai kembali.

Suatu siang di Masjid Nabawi, Madinah. (Foto: Chairul Akhma/MCH 2026)

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Siapkan Satu Haji Berbasis AI

BOGOR – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mendorong integrasi data

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88