2 months ago
32 mins read

Kisah Petugas Haji: Di Antara Dua Panggilan

Chairul Akhmad, anggota MCH 2026 Daker Madinah. (Foto: MCH 2026)

Pos Pantau G di Mina
Kalau ada satu tempat yang paling mengubah cara saya memandang tugas sebagai petugas haji pada 2026, tempat itu adalah Mina. Bukan Masjidil Haram yang selalu membuat dada bergetar setiap kali Ka’bah terlihat dari kejauhan. Bukan pula Masjid Nabawi yang menghadirkan ketenangan melalui doa-doa di Raudah. Melainkan sebuah ‘pos pantau’ sederhana di tengah lautan tenda dan jutaan manusia yang sedang menjalani puncak ibadah haji.

Di situlah saya memahami bahwa haji tidak hanya berbicara tentang ritual yang agung. Di baliknya ada kerja-kerja sunyi yang sering luput dari perhatian. Ada jemaah lansia yang kehilangan arah, ada tubuh-tubuh yang kelelahan setelah berjalan jauh, ada kepanikan kecil yang bisa berubah menjadi persoalan besar jika tidak segera ditangani.

Pada musim haji 2017 saya pernah membantu jemaah yang tersesat atau kelelahan. Namun pengalaman itu terasa berbeda pada 2026. Di Mina, saya benar-benar berada di tengah denyut pelayanan. Hari-hari di Mina memiliki ritme yang khas. Panas, padat, dan nyaris tidak pernah benar-benar sepi.

Setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jutaan jemaah bergerak menuju Mina untuk melaksanakan lontar jumrah. Di saat yang sama, kelelahan mulai mencapai puncaknya. Banyak jemaah harus berjalan kaki cukup jauh, berdesakan dengan jutaan orang dari berbagai negara, lalu kembali mencari markaz masing-masing.

Di situlah berbagai persoalan bermunculan. Ada yang terpisah dari rombongannya. Ada yang kehilangan arah. Ada yang kehabisan tenaga. Ada pula yang masih sanggup berjalan, tetapi sudah tidak lagi mampu mengingat jalan pulang.

Pos Pantau G tempat saya bertugas menjadi salah satu titik persinggahan bagi mereka. Tugas kami terdengar sederhana: mengamati, bertanya, mendengar, lalu membantu semampunya. Namun justru dari pekerjaan yang tampak sederhana itu saya melihat wajah pelayanan yang sesungguhnya.

“Tolong Antarkan Saya Pulang”
Suatu malam saya melihat seorang jemaah perempuan lanjut usia berjalan dengan wajah kebingungan. Langkahnya pelan. Tatapannya cemas.  Begitu melihat rompi petugas yang saya kenakan, ia langsung menghampiri sambil menangis. “Tolong, Nak… saya tersesat.”

Saya mencoba menenangkannya, memintanya menuturkan apa yang dialaminya hingga ia terlihat begitu sedih. “Tenang, Bu. Coba ceritakan kenapa Ibu sampai tersesat? Apa Ibu ketinggalan rombongan?”

Setelah isaknya mulai mereda, ia bercerita baru kembali dari Jamarat. Dalam perjalanan pulang ia berhenti sebentar untuk mengambil air minum. Ketika selesai minum, rombongannya sudah tidak terlihat lagi. Ia mencoba mengejar. Tetapi semakin berjalan, ia justru semakin jauh ketinggalan. Rombongannya bak tenggelam dalam lautan manusia yang memadati terowongan Mina.

Saya tahu nenek ini sangat kelelahan. Malam itu ia berjalan kurang lebih enam kilometer. Begitu keluar terowongan di kawasan markaz jemaah Indonesia, ia tak tahu jalan kembali ke arah tenda. Syukurlah, ia masih mengingat nomor markaznya: 74. Saya membuka peta di telepon genggam. Lokasinya ternyata tidak terlalu jauh. Saya lalu menjelaskan rute menuju tendanya.

Biasanya penjelasan seperti itu sudah cukup bagi jemaah. Tetapi nenek itu hanya menggeleng. “Saya takut, Nak. Saya tidak berani sendiri. Tolong antarkan saya,” pintanya dengan isak yang kembali pecah.

Saat itu saya sedang berjaga sendirian. Pos Pantau G tidak boleh ditinggalkan karena ribuan jemaah masih terus melintas. Namun, si nenek tetap bersikeras meminta saya mengantarkannya kembali ke tenda. Tangisnya kini pecah lebih keras dari sebelumnya.

Hati saya serasa diremas. Di satu sisi, saya memiliki tanggung jawab untuk tetap berada di pos. Di sisi lain, saya melihat seorang jemaah lansia yang benar-benar ketakutan dan tidak berani berjalan sendiri. Saya harus memilih di antara dua tanggung jawab yang sama-sama berat. 

Akhirnya, saya memutuskan mengantarkannya, meski saya sudah memperkirakan keputusan itu tidak akan mudah diterima oleh rekan-rekan di Pos Pantau G.

Sebelum meninggalkan pos, saya meminta izin melalui grup WhatsApp Pos Pantau G. Benar saja, perdebatan langsung muncul. Sebagian besar rekan meminta saya tetap berjaga dan membiarkan si nenek kembali ke tenda seorang diri. Sebagian lainnya mendukung keputusan saya untuk mengantarkannya.

Saya kemudian menjelaskan kembali kondisi si nenek yang benar-benar tidak berani pulang sendirian. Setelah mempertimbangkan penjelasan tersebut, Kepala Pos Pantau G akhirnya memberikan izin. Saya diperbolehkan mengantar si nenek, dengan syarat segera kembali ke pos setelah memastikan ia tiba dengan selamat.

Begitu mendapat lampu hijau dari pimpinan, saya menghampiri si nenek. “Ayo, Bu… kita jalan sama-sama,” kata saya.

Ia mengangguk pelan, lalu meraih tangan saya. Tangisnya mulai mereda. Namun sejak saat itu, genggamannya tak pernah terlepas. Kami berjalan perlahan menuju tenda di Markaz 74. Beberapa kali ia meminta berhenti untuk mengatur napas. Sesekali tangisnya kembali pecah, bukan karena kesakitan, melainkan karena takut kembali kehilangan arah di tengah lautan manusia.

Di sela perjalanan, ia kembali bercerita. Semua itu berawal ketika ia berhenti sejenak untuk mengambil air minum. Saat hendak melanjutkan langkah, rombongannya sudah tidak terlihat. Dalam hitungan menit, ia merasa benar-benar sendirian di tengah jutaan orang. Saya tidak banyak bertanya. Saya hanya mendengarkan.

Sesampai di tenda di Markaz 74, beberapa orang langsung menghampiri kami. Dari nada bicara mereka, saya menangkap kesan bahwa si nenek sedang dipersalahkan karena tertinggal dari rombongan.

Saya kemudian menjelaskan bahwa ia terpisah setelah berhenti mengambil air minum. Saya juga meminta agar mereka tidak memarahinya karena kondisinya sudah sangat lelah dan masih diliputi rasa takut. Perlahan, suasana pun mereda.

Setelah memastikan si nenek telah kembali bersama rombongannya, saya berpamitan untuk kembali bertugas. Namun baru beberapa langkah meninggalkan tenda, saya mendengar suara memanggil dari belakang.

Nenek itu kembali menghampiri saya. Ia membuka tas kecil yang diselempangkan di bahunya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang riyal dan memaksa saya menerimanya. Saya menolak dengan halus. 

Saya menjelaskan bahwa membantu jemaah memang merupakan tugas petugas haji dan kami tidak diperbolehkan menerima pemberian dalam bentuk apa pun. Meski begitu, ia tetap berkali-kali menyodorkan uang tersebut.

Akhirnya saya meraih tangannya, melipat kembali lembaran riyal itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Kali ini ia tidak lagi memaksa. Sebaliknya, ia kembali menggenggam tangan saya, lebih erat daripada sebelumnya. Lalu ia mengangkat kedua tangannya dan memanjatkan doa.

Saya sudah tidak lagi mengingat seluruh kalimat doa itu. Yang masih membekas dalam ingatan hanyalah sosok seorang perempuan tua yang baru saja menemukan kembali jalan pulangnya, berdiri di hadapan saya dengan kedua tangan terangkat dan mata yang masih basah oleh air mata.

Saat itu, air mata saya pun jatuh perlahan tanpa mampu saya cegah. Saya kemudian berpamitan dan berjalan kembali menuju Pos Pantau G.

Seorang jemaah minum air di keran yang terdapat di kawasan Mina, Makkah. (Foto: Chairul Akhmad/MCH 2026)

Komentar

Your email address will not be published.

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global
Go toTop

Jangan Lewatkan

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak

Kepuasan Jemaah Haji 2026 Tembus 91,45 Persen

JAKARTA — Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2026 mencapai 91,45
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88