Pos Pantau G di Mina
Kalau ada satu tempat yang paling mengubah cara saya memandang tugas sebagai petugas haji pada 2026, tempat itu adalah Mina. Bukan Masjidil Haram yang selalu membuat dada bergetar setiap kali Ka’bah terlihat dari kejauhan. Bukan pula Masjid Nabawi yang menghadirkan ketenangan melalui doa-doa di Raudah. Melainkan sebuah ‘pos pantau’ sederhana di tengah lautan tenda dan jutaan manusia yang sedang menjalani puncak ibadah haji.
Di situlah saya memahami bahwa haji tidak hanya berbicara tentang ritual yang agung. Di baliknya ada kerja-kerja sunyi yang sering luput dari perhatian. Ada jemaah lansia yang kehilangan arah, ada tubuh-tubuh yang kelelahan setelah berjalan jauh, ada kepanikan kecil yang bisa berubah menjadi persoalan besar jika tidak segera ditangani.
Pada musim haji 2017 saya pernah membantu jemaah yang tersesat atau kelelahan. Namun pengalaman itu terasa berbeda pada 2026. Di Mina, saya benar-benar berada di tengah denyut pelayanan. Hari-hari di Mina memiliki ritme yang khas. Panas, padat, dan nyaris tidak pernah benar-benar sepi.
Setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jutaan jemaah bergerak menuju Mina untuk melaksanakan lontar jumrah. Di saat yang sama, kelelahan mulai mencapai puncaknya. Banyak jemaah harus berjalan kaki cukup jauh, berdesakan dengan jutaan orang dari berbagai negara, lalu kembali mencari markaz masing-masing.
Di situlah berbagai persoalan bermunculan. Ada yang terpisah dari rombongannya. Ada yang kehilangan arah. Ada yang kehabisan tenaga. Ada pula yang masih sanggup berjalan, tetapi sudah tidak lagi mampu mengingat jalan pulang.
Pos Pantau G tempat saya bertugas menjadi salah satu titik persinggahan bagi mereka. Tugas kami terdengar sederhana: mengamati, bertanya, mendengar, lalu membantu semampunya. Namun justru dari pekerjaan yang tampak sederhana itu saya melihat wajah pelayanan yang sesungguhnya.
“Tolong Antarkan Saya Pulang”
Suatu malam saya melihat seorang jemaah perempuan lanjut usia berjalan dengan wajah kebingungan. Langkahnya pelan. Tatapannya cemas. Begitu melihat rompi petugas yang saya kenakan, ia langsung menghampiri sambil menangis. “Tolong, Nak… saya tersesat.”
Saya mencoba menenangkannya, memintanya menuturkan apa yang dialaminya hingga ia terlihat begitu sedih. “Tenang, Bu. Coba ceritakan kenapa Ibu sampai tersesat? Apa Ibu ketinggalan rombongan?”
Setelah isaknya mulai mereda, ia bercerita baru kembali dari Jamarat. Dalam perjalanan pulang ia berhenti sebentar untuk mengambil air minum. Ketika selesai minum, rombongannya sudah tidak terlihat lagi. Ia mencoba mengejar. Tetapi semakin berjalan, ia justru semakin jauh ketinggalan. Rombongannya bak tenggelam dalam lautan manusia yang memadati terowongan Mina.
Saya tahu nenek ini sangat kelelahan. Malam itu ia berjalan kurang lebih enam kilometer. Begitu keluar terowongan di kawasan markaz jemaah Indonesia, ia tak tahu jalan kembali ke arah tenda. Syukurlah, ia masih mengingat nomor markaznya: 74. Saya membuka peta di telepon genggam. Lokasinya ternyata tidak terlalu jauh. Saya lalu menjelaskan rute menuju tendanya.
Biasanya penjelasan seperti itu sudah cukup bagi jemaah. Tetapi nenek itu hanya menggeleng. “Saya takut, Nak. Saya tidak berani sendiri. Tolong antarkan saya,” pintanya dengan isak yang kembali pecah.
Saat itu saya sedang berjaga sendirian. Pos Pantau G tidak boleh ditinggalkan karena ribuan jemaah masih terus melintas. Namun, si nenek tetap bersikeras meminta saya mengantarkannya kembali ke tenda. Tangisnya kini pecah lebih keras dari sebelumnya.
Hati saya serasa diremas. Di satu sisi, saya memiliki tanggung jawab untuk tetap berada di pos. Di sisi lain, saya melihat seorang jemaah lansia yang benar-benar ketakutan dan tidak berani berjalan sendiri. Saya harus memilih di antara dua tanggung jawab yang sama-sama berat.
Akhirnya, saya memutuskan mengantarkannya, meski saya sudah memperkirakan keputusan itu tidak akan mudah diterima oleh rekan-rekan di Pos Pantau G.
Sebelum meninggalkan pos, saya meminta izin melalui grup WhatsApp Pos Pantau G. Benar saja, perdebatan langsung muncul. Sebagian besar rekan meminta saya tetap berjaga dan membiarkan si nenek kembali ke tenda seorang diri. Sebagian lainnya mendukung keputusan saya untuk mengantarkannya.
Saya kemudian menjelaskan kembali kondisi si nenek yang benar-benar tidak berani pulang sendirian. Setelah mempertimbangkan penjelasan tersebut, Kepala Pos Pantau G akhirnya memberikan izin. Saya diperbolehkan mengantar si nenek, dengan syarat segera kembali ke pos setelah memastikan ia tiba dengan selamat.
Begitu mendapat lampu hijau dari pimpinan, saya menghampiri si nenek. “Ayo, Bu… kita jalan sama-sama,” kata saya.
Ia mengangguk pelan, lalu meraih tangan saya. Tangisnya mulai mereda. Namun sejak saat itu, genggamannya tak pernah terlepas. Kami berjalan perlahan menuju tenda di Markaz 74. Beberapa kali ia meminta berhenti untuk mengatur napas. Sesekali tangisnya kembali pecah, bukan karena kesakitan, melainkan karena takut kembali kehilangan arah di tengah lautan manusia.
Di sela perjalanan, ia kembali bercerita. Semua itu berawal ketika ia berhenti sejenak untuk mengambil air minum. Saat hendak melanjutkan langkah, rombongannya sudah tidak terlihat. Dalam hitungan menit, ia merasa benar-benar sendirian di tengah jutaan orang. Saya tidak banyak bertanya. Saya hanya mendengarkan.
Sesampai di tenda di Markaz 74, beberapa orang langsung menghampiri kami. Dari nada bicara mereka, saya menangkap kesan bahwa si nenek sedang dipersalahkan karena tertinggal dari rombongan.
Saya kemudian menjelaskan bahwa ia terpisah setelah berhenti mengambil air minum. Saya juga meminta agar mereka tidak memarahinya karena kondisinya sudah sangat lelah dan masih diliputi rasa takut. Perlahan, suasana pun mereda.
Setelah memastikan si nenek telah kembali bersama rombongannya, saya berpamitan untuk kembali bertugas. Namun baru beberapa langkah meninggalkan tenda, saya mendengar suara memanggil dari belakang.
Nenek itu kembali menghampiri saya. Ia membuka tas kecil yang diselempangkan di bahunya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang riyal dan memaksa saya menerimanya. Saya menolak dengan halus.
Saya menjelaskan bahwa membantu jemaah memang merupakan tugas petugas haji dan kami tidak diperbolehkan menerima pemberian dalam bentuk apa pun. Meski begitu, ia tetap berkali-kali menyodorkan uang tersebut.
Akhirnya saya meraih tangannya, melipat kembali lembaran riyal itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Kali ini ia tidak lagi memaksa. Sebaliknya, ia kembali menggenggam tangan saya, lebih erat daripada sebelumnya. Lalu ia mengangkat kedua tangannya dan memanjatkan doa.
Saya sudah tidak lagi mengingat seluruh kalimat doa itu. Yang masih membekas dalam ingatan hanyalah sosok seorang perempuan tua yang baru saja menemukan kembali jalan pulangnya, berdiri di hadapan saya dengan kedua tangan terangkat dan mata yang masih basah oleh air mata.
Saat itu, air mata saya pun jatuh perlahan tanpa mampu saya cegah. Saya kemudian berpamitan dan berjalan kembali menuju Pos Pantau G.

