Menanti Panggilan Kedua
Pulang dari musim haji 2017, saya tidak kembali ke kehidupan yang sama. Tanah Suci memang saya tinggalkan, tetapi di Tanah Air saya justru berhadapan dengan kenyataan yang tidak ringan: pekerjaan yang saya tinggalkan ternyata tak lagi menunggu saya pulang.
Saat itu saya bekerja di portal berita yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ketika memutuskan berangkat sebagai petugas haji, saya sebenarnya sudah memahami risikonya. Kantor memberi dua pilihan yang sama-sama berat: tetap bekerja atau berangkat ke Arab Saudi menjalankan tugas selama musim haji, namun menerima pemutusan hubungan kerja (PHK).
Keputusan itu datang ketika seluruh persiapan hampir selesai. Saya telah mengikuti pelatihan petugas, seluruh administrasi rampung, dan kesempatan yang saya tunggu bertahun-tahun akhirnya berada di depan mata. Saya memilih berangkat.
Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terdengar nekat. Namun bagi saya, kesempatan menjadi petugas haji bukan sesuatu yang datang setiap saat. Ada panggilan-panggilan dalam hidup yang terasa tidak tepat jika terus ditunda.
Saya tidak pernah tahu apakah kesempatan seperti itu akan datang lagi beberapa tahun kemudian. Saya juga tidak tahu apakah kelak masih memiliki kesehatan dan kemampuan yang sama untuk menjalaninya. Karena itu saya memilih berangkat, sambil meyakinkan diri bahwa urusan pekerjaan akan menemukan jalannya sendiri.
Ternyata kenyataan berkata lain. Setelah sekitar dua setengah bulan bertugas di Arab Saudi, saya kembali ke kantor hanya untuk menyerahkan kartu identitas dan menyelesaikan urusan administratif. Setelah itu, saya praktis menganggur.
Masa itu berlangsung hampir satu tahun. Hari-hari yang biasanya dipenuhi rapat redaksi, tenggat berita, dan liputan mendadak berubah menjadi ruang sunyi. Saya hidup dari tabungan sambil terus bertanya dalam hati, apakah keputusan meninggalkan pekerjaan demi memenuhi panggilan ke Tanah Suci memang harus dibayar semahal itu?
Pertanyaan itu beberapa kali datang menghampiri. Namun setiap kali keraguan muncul, ingatan saya selalu kembali ke Arab Saudi. Saya teringat malam pertama menuju Makkah. Saya teringat air mata yang jatuh ketika pertama kali melihat Ka’bah.
Saya teringat wajah-wajah jemaah lansia yang kami bantu di bandara, lautan manusia di Arafah, padatnya Mina, hingga ketenangan yang saya rasakan ketika berdoa di Raudah. Kenangan-kenangan itu selalu mengingatkan bahwa tidak semua keputusan hidup dapat diukur dengan untung dan rugi.
Setahun kemudian, Allah kembali membuka jalan. Saya diterima bekerja di CNN Indonesia TV sebagai Producer Planning. Tugas saya adalah mencari, menghubungi, meyakinkan, dan mengundang narasumber agar hadir di studio untuk berbagai program dialog televisi.
Bagi saya, pekerjaan itu menjadi babak baru dalam perjalanan jurnalistik yang telah dimulai sejak 1998. Bekerja di televisi merupakan salah satu keinginan yang lama saya simpan, dan kesempatan itu akhirnya datang setelah masa sulit yang cukup panjang. Saya menjalani pekerjaan tersebut melewati berbagai dinamika, termasuk ketika pandemi Covid-19 mengguncang industri media. Tekanan terhadap perusahaan berlangsung cukup lama, bahkan setelah pandemi mulai mereda.
Pada 2024, perjalanan saya di CNN Indonesia TV berakhir. Hidup kembali bergerak ke arah yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Berbekal gelar Sarjana Hukum, saya mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), kemudian lulus Ujian Profesi Advokat (UPA) di PERADI. Proses itu berlanjut hingga pengangkatan dan pengambilan sumpah advokat di Pengadilan Tinggi Jawa Timur. Sejak saat itu, saya resmi menyandang profesi baru sebagai advokat.
Saya kemudian bergabung dengan MAF Law Firm di Jakarta Selatan. Dunia hukum mempertemukan saya dengan berbagai perkara, mulai dari korupsi, sengketa perdata, hingga perselisihan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi. Ruang sidang tentu berbeda dengan ruang redaksi. Namun keduanya memiliki kesamaan yang saya rasakan: sama-sama menuntut ketelitian membaca fakta, menyusun argumentasi, dan bertahan di tengah detail.
Saya tidak merasa meninggalkan dunia jurnalistik. Saya hanya sedang menambahkan satu wajah baru dalam perjalanan hidup. Di tengah proses itu, jalan saya kembali bersinggungan dengan dunia media. Saya membidani kelahiran situs berita Total Politik.
Kalau dipikir-pikir, hidup saya setelah musim haji 2017 memang bergerak melewati banyak lorong. Dari media online, televisi nasional, dunia advokat, hingga media politik digital. Jalannya tidak pernah lurus. Ada masa ketika semuanya terasa mapan. Ada masa ketika saya harus berhenti dan memulai dari awal. Ada pula masa ketika saya hanya diminta bertahan sambil menunggu pintu berikutnya terbuka.
Namun di balik semua perpindahan itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidup saya: kerinduan pada Tanah Suci. Kenangan tentang musim haji 2017 tidak pernah benar-benar hilang. Kadang ia datang ketika saya membaca berita tentang haji. Kadang muncul saat melihat siaran televisi. Kadang hadir ketika berbincang dengan teman-teman sesama anggota Media Center Haji 2017 yang masih aktif di grup WhatsApp.
Tetapi yang paling membekas bukanlah pekerjaannya. Melainkan perasaan. Perasaan ketika pertama kali memandang Ka’bah. Perasaan ketika berdiri di Arafah. Perasaan ketika membantu jemaah yang kebingungan. Perasaan ketika berdoa di Raudah. Semua pengalaman itu seperti terus hidup di dalam diri saya.
Saya sering merasa panggilan pertama itu sebenarnya belum benar-benar selesai. Lalu, pada 8 Desember 2025, sebuah unggahan di Instagram menghentikan langkah saya. Kementerian Haji dan Umrah membuka rekrutmen petugas haji 2026. Saya membaca pengumuman itu berulang-ulang. Sederhana saja: barcode, persyaratan, dan jadwal pendaftaran.
Namun bagi saya, pengumuman itu terasa seperti pintu lama yang kembali terbuka. Tanpa berpikir terlalu panjang, saya memindai barcode, menyiapkan seluruh dokumen, lalu mengunggah persyaratan yang diminta. Beruntung, sebagian besar berkas dari musim haji 2017 masih saya simpan dengan baik. Tak lama kemudian, hasil verifikasi keluar. Saya dinyatakan lolos seleksi administrasi.
Pintu itu memang belum sepenuhnya terbuka. Namun untuk pertama kalinya setelah jeda yang panjang, saya kembali merasakan getaran yang sama seperti sembilan tahun sebelumnya. Saya menelepon ibu di kampung, meminta doa dan restu. Saya juga berbicara kepada istri dan anak-anak agar ikut mendoakan langkah saya.
Sebab saya tahu, saya tidak sedang melamar pekerjaan biasa. Saya sedang kembali mengetuk pintu yang dulu pernah mengubah perjalanan hidup saya. Dan saya belum tahu, ujian sesungguhnya justru baru akan dimulai di tempat yang sangat saya kenal: Asrama Haji Pondok Gede.

