JAKARTA – Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, serta menguatnya kecenderungan unilateralisme dalam politik global, Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan lama: ke mana politik luar negeri Indonesia diarahkan?
Presiden Prabowo Subianto memilih pendekatan yang lebih aktif. Indonesia bergabung dengan BRICS, memperkuat engagement dengan berbagai kekuatan dunia, dan pada saat yang sama berusaha mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Bagi Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng, langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya Prabowo menempatkan Indonesia sebagai penyeimbang di tengah persaingan kekuatan global.
Prabowo, menurut Andi, berusaha menjadi teman bagi semua pihak. Bahkan, Indonesia didorong untuk memainkan peran sebagai jembatan dan mediator dalam berbagai konflik internasional. Namun, posisi tersebut bukan tanpa risiko. Ketika Indonesia terlalu dekat dengan salah satu kekuatan, posisi sebagai negara nonblok bisa dipertanyakan.
Andi mencontohkan persoalan kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz. Menurut dia, persepsi Iran bahwa Indonesia terlalu dekat dengan Amerika Serikat bisa menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam diplomasi Indonesia.
Di sisi lain, Andi melihat ASEAN sebagai modal strategis Indonesia. Dengan posisi Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dan sebagai middle power, ia meyakini Indonesia masih memiliki ruang untuk memainkan peran kepemimpinan regional.
Dalam wawancara dengan Total Politik, di rumahnya yang teduh dan asri di kawasan Jakarta Timur, Andi juga berbicara tentang Laut China Selatan, Taiwan, rivalitas Amerika-China, peluang Indonesia menjadi mediator global, masa depan ASEAN, hingga demokrasi dan koalisi pemerintahan Prabowo.
Ia juga membandingkan pengalaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pemerintahan Prabowo, termasuk cara keduanya membangun koalisi, menyerap informasi, menjalankan diplomasi, dan menerjemahkan gagasan besar menjadi kebijakan. Berikut petikan wawancaranya.
Saat ini pemerintahan Prabowo berusaha aktif di berbagai forum, mulai Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Brazil, Rusia, India, China, South Africa (BRICS), dan Board of Peace (BoP) bersama Amerika Serikat dan berbagai forum lainnya. Tapi di saat yang sama tetap mempertahankan politik bebas aktif. Apakah benar Prabowo tidak berpihak
Jadi, kalau saya melihat, Pak Prabowo ini cukup lama berada di luar negeri. Karena itu, mestinya beliau memahami situasi geopolitik dunia. Kita juga bisa melihat bahwa beliau berusaha menempatkan Indonesia untuk bermain di dalam geopolitik dunia. Saya melihat ada upaya beliau menginterpretasikan posisi Indonesia sebagai negara nonblok menjadi kekuatan penyeimbang. Beliau berusaha menjadi semacam foreign policy president.
Ada kritik karena beliau sering ke luar negeri. Tetapi saya melihatnya sebagai upaya memainkan peran penyeimbang di antara berbagai blok di dunia. Itu sebabnya, sejak awal, beliau masuk BRICS. Bersamaan dengan itu, beliau juga masuk BoP. Di BRICS ada Rusia, China, Brasil dan negara-negara lain yang boleh dibilang berada di luar atau berseberangan dengan blok Barat. Tetapi beliau juga masuk BoP. Karena itu muncul banyak kritik.
Saya melihatnya dari sisi upaya beliau menempatkan Indonesia sebagai penyeimbang, jembatan, atau bahkan mediator jika diperlukan dalam persaingan geopolitik dunia. Beliau masuk ke berbagai kubu dan kemudian mencoba menjadi teman bagi semua. Karena itu pula beliau menawarkan diri, kalau perlu, menjadi mediator di Timur Tengah, Palestina, Gaza dan sebagainya.
Namun, kita juga harus mengingatkan bahwa memainkan kartu sebagai teman bagi semua itu sesuatu yang baik, tetapi jangan sampai terjebak dalam situasi ketika kita ditarik ke kiri dan ke kanan. Yang penting adalah bagaimana tetap mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara yang netral. Kita berteman dengan semua pihak dan tidak perlu menciptakan musuh. Tetapi tentu akan selalu ada tarikan-tarikan. Tarikan ke kanan, tarikan ke kiri. Saya melihatnya seperti itu. Apakah beliau berhasil atau tidak, itu masih harus kita lihat. Dan tentu ada risikonya.
Apakah Iran menganggap Indonesia terlalu dekat dengan Amerika Serikat?
Memang dalam situasi untuk kasus-kasus tertentu, perlu juga menjadi fleksibel melihat situasi. Ada masalah misalnya waktu di Selat Hormuz, kapal tanker Pertamina. Lama betul baru lolos. Sementara kapal-kapal negara lain, Jepang, bisa cepat lolos. Mungkin Iran menganggap kita terlalu dekat dengan Amerika, kurang bersahabat dengan Iran. Ya, Iran kan begitu. Kalau dianggap terlalu dekat dengan Amerika, terutama karena kita masuk dalam BoP. Nah, kita mungkin juga agak terlambat untuk mengirim utusan.
Artinya, Indonesia perlu lebih aktif memainkan peran?
Ini kita juga perlu lebih aktif memainkan peran bahwa kita tidak berusaha berpihak. Kita berteman juga dengan semua. Kita berteman dengan Amerika, tapi kita juga berusaha berteman dengan Iran. Hubungan kita dengan Iran kan dari dulu baik, dekat. Saya masih ingat waktu zaman Pak SBY, waktu itu presidennya Iran, Ahmadinejad. Dan Pak Khamenei sendiri. Dan itu sangat baik. Jadi kita baik dengan BRICS. Berteman dengan BRICS, kita berteman dengan Amerika, tapi juga jangan lupa kita juga harus berteman dengan negara-negara seperti Iran dan lain-lain sebagainya.
Dalam hal ini, apakah Anda melihat Prabowo punya visi geopolitik yang jelas?
Saya sendiri tidak dekat sama beliau, jadi tidak pernah langsung berbicara dengan Pak Prabowo. Beberapa kali saya ada sebagai bagian dari koalisi pemerintahan, tapi kan saya bukan lingkaran satu beliau. Kalau Anda tanya saya tentang Pak SBY, saya bisa jawab langsung, tapi kalau tentang Pak Prabowo kan saya cuma bisa melihatnya dengan berjarak karena memang bukan lingkaran satu dari Pak Prabowo.
Tapi saya melihat beliau berusaha untuk mencoba mencari teman bagi semua, menjadi jembatan di dalam berbagai kubu geopolitik dunia. Persoalannya adalah bagaimana agar tidak terjebak dari tarikan-tarikan yang ada. Selama ini kan kita sebenarnya nonblok. Kita juga, sejak zaman Bung Karno, politik bebas aktif. Tapi memang saya juga mengartikan bahwa bebas aktif itu tidak berarti kita pasif. Aktif menjadi bagian dari solusi dalam perdamaian dunia. Itu yang mungkin dilakukan Pak Prabowo.
Apa yang menjadi tantangan terbesar politik luar negeri Indonesia sekarang?
Saya berharap bahwa Pak Prabowo tetap mempertahankan posisi kita dan ASEAN sebagai modal kita dalam konteks regional. Ketika persoalan utama dalam dunia ini adalah unilateralisme. Unilateralisme boleh dikata, matinya atau surutnya multilateralisme. Di zaman dulu atau sebelum Trump, kita berbicara tentang bagaimana kerja sama multilateral melalui lembaga-lembaga dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ataupun juga World Trade Organization (WTO) dan berbagai macam kerangka multilateralisme dunia.
Tapi dengan Trump, yang kemudian mengenakan tarif secara unilateral, mau merebut Greenland, melakukan tindakan-tindakan sepihak, menculik kepala negara asing Venezuela dan segala macam ini kan. Sebelumnya lagi ada Rusia yang kemudian melakukan unilateralisme menyerang Ukraina dan sebagainya. Maka dunia sekarang ditandai dengan berkembangnya unilateralisme. Tapi kita tidak boleh menganggap bahwa semuanya unilateral, maka kita ikuti. Dalam konteks unilateral itu, modelnya America First. Kalau semua orang first-first, lalu tidak ada kerja sama dunia.
Saya rasa dalam konteks bebas aktif itu, kita mestinya menjadi bagian solusi dan tetap mengembangkan multilateralisme, tetap mempertahankan multilateralisme dalam konteks regional maupun dengan negara-negara middle power, yaitu negara-negara Eropa, Amerika Selatan, dan juga ASEAN. Terutama ASEAN, inilah modal kita dalam konteks multilateralisme regional. Saya melihat Pak Prabowo berusaha untuk menjadi champion dalam konteks bagaimana caranya posisi Indonesia berkawan dengan semua.
Cuma sekali lagi, harus tetap hati-hati karena kita secara aktif masuk di BRICS, di BoP. Ditarik ke kiri, ditarik ke kanan. Dan kalau salah-salah, kita dianggap lebih berat ke kiri atau lebih berat ke kanan. Dan kalau sudah begitu, kita tidak dianggap netral lagi. Dan itu yang terjadi seperti di Iran. Iran sepertinya tidak menganggap kita kawan dekat. Tapi akhirnya kemarin ada utusan datang ke pemakaman, kapal tanker Pertamina juga bisa lewat. Saya rasa dalam konteks situasi di Timur Tengah, kita harus tetap berteman dengan Iran, kita berkawan dengan Amerika, kita juga sahabat negara-negara Teluk. Semua itu bebas aktif.

