2 months ago
26 mins read

Andi Mallarangeng: Bebas Aktif Tidak Berarti Pasif

Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng. (Foto: Chairul Akhmad)

Terkait rivalitas China dan Amerika, apa kepentingan nasional Indonesia di situ?
Sekarang ini secara de facto ada tiga negara superpower di dunia: Amerika, Rusia, China. Dan tiga tokohnya yang tiga-tiganya juga orang yang aspirasinya menjadi orang kuat dunia, yaitu Trump, Putin, Xi Jinping. Dan ke depan rivalitas ini makin mungkin bisa makin sengit. Terutama antara Amerika dengan China, karena di kawasan ini Rusia agak jauh sehingga kita tidak terlalu concern dengan itu, tapi terutama Amerika dengan China.

Kita berharap kepentingan kita adalah bahwa tidak perlu ada konflik, apalagi konflik bersenjata. Kalau damai-damai saja, negara-negara ASEAN, bahkan dunia, itu bisa terus tumbuh ekonominya, masyarakatnya, sehingga kita bisa lebih fokus mensejahterakan rakyat kita masing-masing. Kalau ada perang terjadi, apakah antara proxy war China-Amerika atau di Laut China Selatan atau Taiwan atau apa pun, pastilah situasi dunia tidak akan jadi lebih baik. Rantai pasok, barang-barang terganggu, segala pasti terganggu. Harga-harga pasti juga. 

Kemudian kita pasti juga terpacu untuk memperkuat militer kita. Sehingga sekian persen dari anggaran APBN kita pasti untuk membeli senjata atau memproduksi senjata-senjata untuk mempertahankan wilayah kedaulatan negara kita. Kenapa selama ini semua negara ASEAN, kecuali Myanmar—karena Myanmar ada perang saudara—bisa tumbuh lebih tinggi, lebih cepat daripada bagian-bagian dunia lain? Karena kita damai. Enggak ada perang. Dan tidak ada musuh yang dilawan. Sehingga wilayah ASEAN dan negara-negara ASEAN bisa tumbuh. 

Kalau bicara pertahanan, apakah anggaran Indonesia cukup?
Kita lihat misalnya persentase APBN kita untuk pertahanan. Pertahanan keamanan kan relatif kecil. Kita bicara pertahanan dulu. Kemudian bandingkan di Amerika Serikat, berapa persen dari APBN-nya untuk militer. Eropa sekarang dituntut oleh Amerika paling tidak minimum 3 persen. Ada sekarang sudah 5 persen. Kita ini rasanya 1 persen enggak ada tuh, barangkali nol koma. Walaupun sudah ditingkatkan, tapi sebenarnya masih sedikit. 

Tinggal pertanyaannya adalah apakah kita sudah memanfaatkan dana pertahanan itu dengan lebih baik sesuai dengan situasi kondisi sekarang. Intinya bahwa kawasan ASEAN yang damai membuat kita punya kesempatan berfokus untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, ketimbang menggunakan terlalu banyak anggaran untuk memperkuat pertahanan. Tapi kan kita harus seimbangkan juga dengan kebutuhan untuk sekolah yang lebih baik. Termasuk makan bergizi, termasuk berbagai macam program infrastruktur dan sebagainya. 

Menurut Anda, dalam kondisi saat ini bisakah Indonesia menjadi mediator global?
Mestinya bisa. Cuma memang kan kita juga harus tahu kapasitas kita dan posisi geostrategis kita. Kita mau jadi mediator di Timur Tengah. Menjadi mediator itu ada satu syaratnya, yaitu disetujui oleh yang berkonflik. Itulah mediator. Kalau dua-duanya harus setuju. Kalau salah satu setuju, enggak bisa. Dua harus setuju. Kemarin mungkin Iran menganggap kita kurang bersahabat sama Iran.

Agak sulit kalau kita dianggap kurang bersahabat dengan Iran, sehingga untuk menjadi mediator antara Iran dengan Amerika Serikat. Kita dianggap terlalu dekat dengan Amerika Serikat karena kita bagian dari BoP. Sehingga untuk menjadi mediator itu agak susah. Kita juga sebenarnya terlalu jauh dari konflik-konflik di Timur Tengah itu. Secara geografis kita jauh. Kedudukan yang jauh kadang-kadang bisa jadi advantage. Justru kalau kita jauh, bisa lebih efektif karena kita dianggap netral. Mestinya begitu. 

Kenapa orang di Aceh itu yang mediatornya dari Helsinki, Finlandia? Karena jauh. Finlandia kan tidak dekat. Bukan Malaysia misalnya. Jadi bisa. Ada advantage-nya jauh itu. Walaupun kemudian kalau kita lihat yang dipilih kemarin kan awalnya Oman. Belakangan Pakistan. Pakistan tetangganya Iran, tapi dianggap dekat ke Amerika Serikat juga. Swiss memang selalu negara netral. Bisa saja kita. Cuma persoalannya kan itu. Ada juga negatifnya terlalu jauh, tidak dekat dengan semuanya. Tapi bisa juga dianggap netral. Jadi tergantunglah. Intinya adalah kita harus diterima kedua belah pihak. Kita mau jadi mediator Israel dengan Palestina, susah. Kita kan tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel. 

Dan tidak mungkin diterima Israel?
Kita juga memang masih agak susah untuk jadi mediator. Harus membuka hubungan diplomatik, sementara Israel sendiri komitmennya bagaimana dengan Gaza dan segala macam. Sekarang persoalannya kita masih di BoP. Mungkin BoP bisa jadi platform untuk itu, tapi sekali lagi hati-hati, apalagi kalau kemudian tentara kita ada di situ. Apalagi Israel juga ada di situ. Ya, hati-hati kalau saya sih. Sementara ini BoP lagi cooling down. Amerika lagi perang dengan Iran langsung tanpa menggunakan BoP itu sendiri. 

Sekarang kita bicara tentang ASEAN. Kalau kita lihat di ASEAN, sepertinya Malaysia lebih aktif. Bahkan berani melawan Amerika. Bagaimana Anda melihatnya?
Pertama, kemarin kan ASEAN memang Malaysia jadi ketua ASEAN. Sekarang ini ketua di Filipina. Kita bukan ketua, tapi memang sekali lagi kita perlu terus meningkatkan engagement kita dengan ASEAN. Mempertahankan posisi informal kita sebagai the big brother di ASEAN. Dan memang ASEAN modal kita dalam konteks the middle power. Middle power bukan cuma kita sendiri, tapi bersama-sama dengan ASEAN. Kita akan lebih kuat. Apakah itu dalam konteks berhadapan dengan China, dengan Amerika, dengan Rusia. Itu kita akan lebih kuat kalau bersama-sama. 

Karena itu engagement dengan ASEAN bahwa masing-masing negara ASEAN bisa saja seperti Malaysia berbicara lebih lantang. Silakan kalau itu mewakili dirinya sendiri. Di ASEAN memang ada. Tidak harus mewakili. Kalau dia sebagai ketua ASEAN, dia bisa mewakili ASEAN. Tapi misalnya dalam hubungan di negara-negara ASEAN, ada negara-negara ASEAN yang lebih dekat dengan China. Laos dan Kamboja itu sangat dekat dengan China. Vietnam enggak terlalu karena dia ada masalah juga dengan China, terutama di Laut China Selatan. Sementara itu, Filipina dekatnya dengan Amerika. Thailand netral, Indonesia juga netral. Myanmar ada masalah karena dia perang saudara. Masalah internal mereka belum selesai. Singapura pasti dekat Amerika. 

Lalu kemudian Malaysia. Dia juga lebih independen, tapi dia juga bagian dari Commonwealth. Nah, Indonesia selain jaga ASEAN, kita juga di G20. Rusia di situ, Amerika enggak. Dengan China di situ membuat agak susah, jadi canggung. Tadinya semua bisa kumpul di situ. G20 kita pernah jadi tuan rumah juga. Sehingga yang sekarang mengemuka kembali lagi G7 di mana Rusia-nya dikeluarkan, jadi negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Karena itu, memang ketika dunia ini sedang mencuat unilateralisme, kita harus mempertahankan kekuatan ASEAN dalam konteks middle power dan regionalisme ASEAN. 

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Saat Rakyat Sulit Jangan Bagi-Bagi Jabatan!

JAKARTA – Ada ironi besar dalam kehidupan bernegara kita. Ketika rakyat

Di Balik Rumor Agustus: Menguji Kapasitas Ketahanan Rezim Prabowo

Ujian Substantif Welfare State Penguatan program strategis Presiden Prabowo menunjukkan pergeseran
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88