JAKARTA – Pembangunan jalan tol di Indonesia terus berkembang. Namun, bertambahnya panjang jalan tol tidak serta-merta menjamin konektivitas yang merata atau pertumbuhan ekonomi yang optimal.
Di balik infrastruktur yang membentang, ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan: menyambungkan koridor-koridor utama, membenahi jalan penghubung, dan memastikan kawasan industri, sentra produksi, serta pusat-pusat ekonomi ikut tumbuh.
Bagi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), tantangan pembangunan jalan tol ke depan bukan sekadar membangun ruas baru, melainkan memastikan setiap ruas menjadi bagian dari ekosistem transportasi yang terintegrasi. Koordinasi dengan pemerintah daerah, kelayakan investasi, hingga kemampuan jalan tol mendorong aktivitas ekonomi menjadi faktor penting yang menentukan manfaat infrastruktur bagi masyarakat.
Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati, bersama Anggota BPJT Sony Sulaksono Wibowo dan Tulus Abadi, berbicara mengenai arah pengembangan jaringan jalan tol, persoalan konektivitas yang belum tuntas, hingga polemik tarif dan standar pelayanan minimum. Mereka juga mengulas ruas tol yang lalu lintasnya belum optimal karena kawasan di sekitarnya masih dalam tahap berkembang.
Dalam wawancara bersama Total Politik ini, ketiganya memaparkan tantangan membangun jalan tol yang tidak hanya menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan mendorong pemerataan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Kalau kita bicara tentang infrastruktur Indonesia hari ini, terutama di jalan tol, apakah ia masih menjadi prioritas utama?
Kalau dari perspektif kami ya, pembangunan maupun pengembangan jalan tol itu tetap masih menjadi prioritas pemerintah. Dalam rangka tentunya memperkuat konektivitas nasional dan juga pertumbuhan ekonomi nasional. Ini sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Bapak Presiden Prabowo, yaitu Asta Cita ketiga, keberlanjutan pembangunan infrastruktur. Dan juga Asta Cita kedua, bahwa di sana pemerintah akan terus mendukung kemandirian bangsa dalam konteks ketahanan pangan, energi, air, dan lain sebagainya.
Jadi pembangunan jalan tol saya kira tidak berorientasi hanya menambah panjang ruas jalan tolnya, tidak. Tapi sesuai amanat peraturan perundang-undangan, memang jalan tol ini dibangun itu untuk pertama, pemerataan pembangunan.Sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memperlancar distribusi arus orang dan barang. Dan yang paling penting juga bagaimana mendukung pengembangan sentra-sentra kegiatan ekonomi dengan terciptanya konektivitas yang berkelanjutan seperti itu.
Tapi saya kira untuk ke depan pengembangan jaringan jalan tol memang harus dilaksanakan secara terencana dan juga selektif, tentunya dengan mempertimbangkan prioritas kebutuhan konektivitas. Kemudian manfaat ekonominya, dan juga kelayakan investasi, dan juga kemampuan pembiayaannya untuk pengembangan jaringan jalan tol ke depannya.
Kita sudah punya banyak jaringan jalan tol di Indonesia. Apakah masih ada yang kurang untuk ke depannya?
Memang dalam satu dekade terakhir, pengembangan jalan tol itu sangat besar. Saat ini saja jalan tol yang beroperasi itu sudah sekitar 3.151,8 kilometer. Itu dikelola oleh 55 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Itu terdiri dari 77 ruas. Ini tersebar dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi. Tapi betul, memang pengembangan jaringan jalan tol ini menghadapi beberapa tantangan ya, yang memang harus dicari solusinya, dicari jalan keluarnya. Mungkin pertama itu sejumlah koridor utama ini belum nyambung secara utuh. Misalkan contohnya, di jalan tol Trans Sumatera. Ini kan masih terputus sampai Palembang-Betung, Jambi-Rengat, Rengat-Pekan Baru, ini masih terputus. Dan juga di Aceh-Lhokseumawe juga masih terputus.
Jadi koridor utama di jalan tol trans Sumatera (JTTS) ini memang belum tersambung secara utuh. Itu tantangannya ke depan bagaimana menyambungkan koridor-koridor utama tersebut. Yang kedua juga tantangannya adalah konektivitas jalan tol sendiri itu dengan simpul-simpul transportasi. Seperti bandara, pelabuhan, dan juga pusat-pusat kegiatan ekonomi, sentra-sentra produksi. Ini memang menjadi tantangan tersendiri bagaimana mewujudkan konektivitas yang terintegrasi.
Terus yang ketiga ini juga tantangannya adalah jalan tol ini jaringannya sudah terbentuk. Dan jaringan jalan-jalan di luar jalan tol, baik jalan nasional maupun jalan daerah, namanya ini jalan provinsi, kabupaten, dan kota. Ini kan juga harus selaras. Kadang-kadang kapasitas di jalan tolnya sudah besar, sudah cukup—karena memang melayani lalu lintas jarak jauh—tapi tidak didukung oleh jaringan-jaringan penghubungnya, akses-aksesnya. Ini menjadi tantangan tersendiri juga bagaimana menyelaraskan satu ekosistem jaringan jalan ini. Tidak hanya jalan tol, tapi dengan juga jalan nasional dan jalan daerah.
Berarti istilahnya kalau satu jalan tol dibangun harus ada juga yang ikut dibenahi, supaya benar-benar bermanfaat, termasuk itu jalan arteri segala macam?
Ya, jalan arteri, jalan kolektor, segala macam.
Sekarang misalnya kalau kita bicara jalan tol. Begitu kita keluar tol, jalannya tiba-tiba kecil atau rusak. Apa yang masih kurang dalam ini? Kondisi itu memang faktual terjadi di lapangan. Ini mungkin salah satu faktornya karena kalau jaringan jalan itu sekarang seluruhnya itu memang memiliki fungsinya sendiri, karakteristiknya sendiri . Dan juga kewenangan penyelenggaraannya ini berbeda-beda. Nah, kalau jalan tol kan memang dirancang untuk melayani lalu lintas. dengan kapasitas yang besar seperti itu ya, jarak jauh. Dan juga dengan standar pelayanan tertentu.
Tapi sementara jalan-jalan di luar gerbang tol, masuk jalan akses, jalan penghubung ke jalan arteri tadi atau jalan kolektor. Ini memang memiliki kapasitas, kelas jalannya juga berbeda. Terus kewenangan penanganannya juga berbeda. Jadi kalau jalan nasional, jalan tol itu penyelenggaraannya oleh Kementerian Pekerjaan Umum, dalam hal ini. Tapi kalau jalan provinsi oleh pemerintah provinsi, kemudian kota oleh pemerintah kota seperti itu.
Maksudnya harus ada semacam koordinasi atau komunikasi?
Tulus: Ketika jalan tol sudah terbangun, idealnya pemerintah pusat dan daerah bersama-sama menyiapkan jalan penghubung dengan kapasitas yang memadai, agar manfaat yang optimal.
