Sejauh ini bagaimana komunikasi dengan pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten, atau kota?
Kalau dari tahap perencanaan pasti kita lakukan koordinasi itu. Kita lakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, juga dengan pengelola-pengelola kawasan. Kita lakukan dari tahap perencanaan, dari tahap FS (Feasibility Study) pun itu dilakukan sebetulnya. Tapi memang tantangan ke depannya koordinasi itu harus dilakukan lebih intens. Perencanaan harus dilakukan secara terintegrasi agar selaras.
Sony: Pemerataan hasil pembangunan, pembangunan konektivitas, itu tidak berjalan kalau penghubungnya tidak bagus. Makanya pada saat kita membangun jalan tol, kita berharap peran dari pemerintah daerah, khususnya provinsi, untuk meningkatkan jaringan jalan di sekitar jalan tol tersebut. Sehingga konektivitasnya menjadi lebih baik, pemerataan pembangunan bisa berjalan dengan baik. Dan yang lebih penting lagi adalah bisa merangsang pertumbuhan wilayah.
Jangan sampai, jangan terjadi, daerah-daerah yang dilalui tidak berkembang. Harusnya berkembang. Konektivitas itu yang kita dorong, kita dorong melalui koordinasi dengan daerah. Setiap kali ke daerah, kami selalu mengajak Pemda untuk bersama-sama menyiapkan konektivitasnya, sehingga tol itu benar-benar dapat memberikan manfaat yang optimal. Untuk konektivitas yang lebih baik, pemerataan pembangunan, itu kan yang penting.
Sejauh ini, kira-kira ada tidak misalnya daerah atau provinsi yang enggan berkomunikasi, atau tidak mau mengikuti arahan dari pusat?
Sony: Kalau dikatakan enggan sih tidak. Hanya ketidaksesuaian dari sisi waktu pelaksanaan tindak lanjutnya. Beberapa jalan tol sudah jadi, tapi perkembangan wilayahnya, perbaikan jalannya, kemudian konektivitasnya, itu baru direncanakan untuk pelaksanaan, di tahun anggaran berikutnya. Atau penyesuaian tata ruang wilayah (RTRW) -nya belum dilakukan atau masih berproses. Jadi tidak direncanakan secara simultan pada saat awal mulai dibangun. Ini menjadi tantangan bersama, karena manfaat jalan tol baru optimal bila konektivitas ke kawasan di sekitarnya juga sudah siap.
Seperti kita ketahui, pembangunan jalan tol ini kan juga harus memerhatikan, misalnya sentra-sentra industri agar konektivitas tadi berjalan dengan baik. Bagaimana BPJT memastikan biar itu berjalan?
Itu dilakukan dari tahap perencanaan biasanya. Kita menyesuaikan dengan rencana tata ruang, dan juga rencana detail tata ruang. Meskipun selama ini pembinaannya itu di bawah ATR/BPN, tapi dalam tahap penyusunan, penyiapan proyek, dalam hal ini kajian jaringan itu tetap dilakukan. Termasuk juga akses-akses konektivitas kepada ke simpul-simpul transportasi yang tadi disebutkan, baik bandara, pelabuhan, mungkin stasiun kereta api. Seperti sekarang ini Kereta Cepat Whoosh (KCIC) kan kita juga siapkan aksesnya. Koordinasi itu memang harus lebih dilakukan secara intens. Jadi kita melihat pengembangan jaringan jalanan itu dengan pendekatan jaringan secara keseluruhan, jaringan konektivitas secara keseluruhan, jadi tidak parsial sendiri-sendiri.
Salah satu fungsi jalan tol adalah untuk mempercepat distribusi barang, kalau seandainya dari pabrik terus masuk ke jalan tol itu mungkin agak lama atau tersendat, apakah bisa kita sebut fungsi keberadaan jalan tol ini jadi berkurang?
Sony: Memang kalau yang namanya logistik itu kan bagaimana distribusi barang dari mulai pelabuhan sampai ke retail atau pergudangan seperti itu. Dan di situ tidak sepenuhnya di-handle oleh jalan tol. Jalan tol memang oke berhubungan dengan pelabuhan, tapi begitu masuk ke daerah, di beberapa daerah ternyata jalan tol itu tidak langsung masuk ke kawasan industri, ada jalan provinsinya. Jalan provinsi itu yang tadi dikatakan kalau dia bergelombang, jelek, tidak maksimal distribusi tersebut. Makanya perlu koordinasi, jangan sampai jalan tolnya di mana, kawasan industrinya di mana, sehingga sudah ada konektivitas yang baik.
Nah kita sudah merencanakan, kita sudah meminta pemerintah daerah, tolong juga diselaraskan RTRW-nya, RDTR-nya , pada saat tol itu akan dibangun. Sehingga harapannya begitu. Jadi pemerintah juga sudah bisa mendapatkan manfaatnya pemerintah daerah. Itu yang kita harapkan. Makanya sekarang di kajian-kajian kelayakan jalan tol, kita mendorong, mendorong dari awal komitmen daerah. Sebelumnya, komitmen daerah sering baru muncul setelah jalan tol selesai. Sekarang kita mulai berpikir membangun jalan tol itu menyertakan komitmen daerah.
Hal yang sama kita lakukan di Sumatera. Sumatera kan memang tadi belum terhubung. Dalam RPJMN 2025–2029 ditargetkan terkoneksi, dari Banda Aceh sampai ke Bakauheni. Nah kalau itu terjadi, kita berharap pemdanya pun sudah menyiapkan. Jika terkoneksi penuh, kawasan industrinya sudah berkembang, jadi saling mengisi langsung, tidak ada idle-lah maksudnya. Itu kita harapkan. Makanya intensitas kita ke daerah. Kami sering ke daerah, sering mengingatkan Pemda, yuk sama-sama membangun.
Tulus: Jadi menurut saya, ke depan daerah perlu kita ajak lebih aktif memanfaatkan keberadaan tol, tidak hanya sebatas rest area. Padahal kan lebih dari itu. Sebenarnya kan tol itu bukan hanya untuk menghubungkan sentra-sentra ekonomi industri, tapi juga menumbuhkan sentra-sentra baru. Ya ekonomi, pariwisata dan lain sebagainya. Potensi inilah yang ingin kami dorong bersama daerah, agar tol tidak sekadar melintas, tetapi memberi manfaat ekonomi bagi wilayah yang dilaluinya.
