JAKARTA – Pembangunan infrastruktur tak cukup diukur dari panjang jalan yang terbangun atau banyaknya proyek yang selesai. Lebih dari itu, infrastruktur harus mampu menggerakkan ekonomi, memperlancar distribusi barang, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Tantangannya, bagaimana memastikan setiap investasi yang ditanamkan benar-benar menjawab kebutuhan dan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata?
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur sekaligus Direktur Jalan Bebas Hambatan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Dedy Gunawan, melihat pembangunan jalan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas. Konektivitas dengan kawasan produksi, pelabuhan, pusat industri, hingga jaringan jalan non-tol menjadi faktor penting untuk memastikan infrastruktur memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Di tengah keterbatasan anggaran negara, pembangunan juga menuntut prioritas yang lebih selektif. Pemeliharaan aset yang sudah ada tetap diperlukan, sementara proyek baru harus disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, potensi lalu lintas, dan kemampuan pembiayaan. Keterlibatan swasta menjadi salah satu pilihan, tetapi bukan satu-satunya jawaban.
Dalam wawancara bersama Total Politik, Dedy berbicara tentang arah pembangunan infrastruktur, tantangan menekan biaya logistik, keseimbangan antara kepentingan investor dan pengguna, hingga visi konektivitas Indonesia menuju 2045. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Anda melihat peran jalan tol dalam ekosistem infrastruktur dan logistik nasional untuk lima tahun ke depan?
Jadi kalau peran jalan tol di dalam sistem logistik Itu kita tahu bahwa jalan tol merupakan bagian dari jalan nasional. Dan di dalam undang-undang disebutkan bahwa Jalan Tol itu sebenarnya adalah Jalan Alternatif. Alternatif terhadap jalan non-tol. Termasuk jalan nasional, jalan provinsi maupun kabupaten. Tentunya, jalan tol memiliki fungsi yang sangat penting dalam mendukung angkutan logistik.
Karena itu, pembangunan jalan tol pada sebagian besar koridor diarahkan untuk menghubungkan pusat-pusat produksi dengan pusat-pusat distribusi atau outlet. Seperti kita lihat kita punya jalan tol misalkan akses Tanjung Priok. Itu kan jelas menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok, kemudian terkoneksi dengan jalan tol Jakarta-Cikampek, di mana jalan tol tersebut kita tahu banyak sekali pusat-pusat produksi.
Kemudian kita sedang mengembangkan jaringan jalan tol untuk akses Patimban, yang nanti akan menghubungkan pusat-pusat produksi di Jawa Barat, di koridor Jakarta-Cikampek sampai Cirebon. Kemudian nanti produksi mereka bisa kita ekspor lewat pelabuhan akses Patimban. Jadi memang perannya sangat penting karena akan mendukung kelancaran distribusi logistik. Sehingga kita harapkan juga biaya untuk transportasinya juga akan lebih murah.
Terkait dengan pembangunan infrastruktur, apakah jalan tol masih menjadi prioritas utama?
Ya, kalau kita lihat di Asta Cita kan memang di situ diamanatkan juga untuk pengembangan infrastruktur yang mungkin berdampak langsung terhadap masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Jadi kalau kami melihat memang kita sudah tahu 10 tahun terakhir ini kita sudah banyak sekali membangun jalan tol, tentunya itu akan tetap kita jaga. Namun tentunya kita harus melakukan asset management terhadap tol yang ada.
Ke depannya, untuk proyek-proyek baru sudah kita identifikasi ada beberapa yang memang potensial kita kembangkan, seperti Trans Sumatra. Itu memang dari dulu terus berjalan secara berkesinambungan, dari Aceh sampai Lampung. Beberapa proyek sudah berjalan dan sudah selesai. Sekarang juga akan kita teruskan misalkan untuk koridor Jambi-Rengat.
Karena itu memang penting untuk trans, nanti mengurangi kemacetan di existing, dan juga dalam rangka pengembangan wilayah dan ekonomi di sekitar tersebut. Kemudian juga kami melihat ke depan memang dengan keterbatasan, prioritas anggaran pada sektor-sektor lain, mungkin kita akan mendorong peran swasta.
Jadi kita ingin melakukan seleksi yang ketat, dan kita lihat dampak/potensi yang akan timbul terhadap ekonomi dari rencana pembangunan jalan tol, sehingga dapat kami tawarkan nanti kepada swasta. Dan kita lihat memang masih banyak beberapa swasta yang mengajukan proposal unsolicited. Artinya mereka melihat proyek-proyek tol ini masih tetap menarik, terutama yang ada di sekitar perkotaan Jabodetabek ataupun mungkin di sekitar Surabaya atau Semarang.
Kita kan mungkin sudah tahu selama ini sudah banyak jalan tol ya? Apakah masih penting membangun kembali jalan tol? Seberapa penting membangun kembali jalan tol?
Ya, menurut saya penting, karena memang tadi kan dapat menekan biaya logistik, mengurangi kerusakan yang ada di jalan logistik non tol existing. Karena kan mereka pindah, jadi beban di jalan existing juga berkurang, shifting. Itu cuma tadi kami melakukan seleksi secara ketat di mana yang menjadi prioritas utama. Karena memang tadi saya sampaikan pada awal bahwa jalan tol ini sebenarnya alternatif. Makanya kita memilih mungkin pada traffic-traffic yang tinggi. Namun untuk jalan tol Trans Sumatra memang ini dalam rangka pemerataan ekonomi dan wilayah tentunya akan kita lanjutkan.
Membangun jalan tol itu kan tidak bisa berdiri sendiri. Apa yang harus ikut dibenahi dalam pembangunan jalan tol? Apakah jalan arteri juga harus ikut dibenahi, kawasan sekitar juga harus ikut dibenahi?
Jadi memang jalan tol itu kan tadi sebenarnya menghubungkan pada prinsipnya, pertama menghubungkan kawasan-kawasan yang berkembang atau kawasan-kawasan yang ingin kita kembangkan. Nah untuk kawasan-kawasan yang sudah berkembang, ya kita mendorong terus agar ini terkoneksi dengan kawasan-kawasan tersebut. Nah untuk koneksinya ini kan dia tidak langsung.
Dia harus terhubung dulu dengan jalan non-tol, yaitu jalan berstatus nasional, provinsi atau kabupaten. Jadi kita juga mendorong agar jalan-jalan non-tol ini terutama jalan provinsi dan kabupaten yang mungkin kondisinya belum memenuhi, kita tingkatkan. Ada beberapa program di Inpres Jalan Daerah dan sebagainya.
Kemudian juga pada daerah-daerah yang memang belum berkembang. Memang kami mengharapkan agar pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat mendorong pertumbuhan industri di koridor tersebut. Sehingga nanti juga dapat menimbulkan generative traffic baru yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan kelayakan jalan tol tersebut.
