Adalah istilah atau sebutan tol duafa, apa maksudnya?
Jadi begini, tadi kan dari awal sudah sampaikan. Pada saat kita melakukan kajian, studi, dan sebagainya, kita sudah memprediksi dengan pengembangan-pengembangan wilayah. Dan ternyata pengembangan-pengembangan wilayah ini tidak terjadi sepenuhnya pada tahun yang sama, atau terjadi pengunduran, atau memang kan tidak terjadi sama sekali. Sehingga traffic yang lewat di situ tidak sesuai dengan prediksi.
Nah mereka berat membiayai dirinya sendiri. Dan disebut tol duafa itu. Nah mereka akhirnya melakukan cash deficiency support dari induknya. Atau mereka coba menurunkan tadi diskon tarif sehingga nanti akan bertambah traffic-nya. Atau mereka ya harus melakukan kerja sama dengan Pemda. Kami juga mendorong Pemda untuk melakukan pengembangan wilayah di sekitar koridor tol.
Apakah ada Pemda yang enggan bekerja sama dengan Bina Marga?
Sebenarnya Pemda ini semangat. Namun yang saya baca adalah keterbatasan fiskal atau keterbatasan mungkin investornya. Investor pengembangan wilayahnya mungkin masih tertarik di Jawa, karena tadi kan 50% penduduknya di sini. Seperti tadi saya sampaikan di Riau, mereka sudah menyiapkan lahan 450 hektare, mereka bebaskan lahan, tapi tak ada investor masuk untuk pengembangan. Padahal secara sumber daya alam segala macam, mereka tinggi juga. Kita mendorong semoga nanti banyak investor misalkan lari ke Sumatra.
Kita sudah punya banyak infrastruktur yang dibangun bertahun-tahun. Apakah pemerintah sekarang ini mulai lebih banyak berpikir untuk merawat infrastruktur lama atau terus membangun yang baru?
Sebenarnya dua-duanya penting. Jadi kalau dalam infrastruktur sebenarnya kita mengenal asset utilization atau asset management dan asset creation. Dua itu tidak bisa kita lepas. Karena kalau kita hanya asset utilization atau asset management yang ada, kita akan stuck. Ekonomi nggak akan bergerak, pengembangan wilayah nggak akan jalan.
Jadi tetap kita lakukan pemeliharaan, kemudian juga perlu pengembangan yang baru. Pengembangan yang baru ini perlunya dilakukan secara selektif tadi. Misalkan, sesuai kebutuhan wilayah. Kalau memang ini daerah remote, mungkin kita perlu pengembangan jalan-jalan yang menuju ke pusat produksi, pusat pertanian. Berarti jalan-jalan provinsi yang kita kembangkan. Tapi pada daerah-daerah kota, misalkan yang sudah macet, kita perlu jalan tol. Ya kita undang investor untuk bangun di situ.
Berarti melihat kebutuhan masyarakat juga?
Betul.
Kalau uang atau anggaran negara terbatas, mana yang lebih mendesak, membangun tol baru, memperbaiki jalan yang rusak, mengatur banjir, membangun irigasi, atau memperluas akses ke air bersih?
Ya sebenarnya, tol tadi kan alternatif. Jadi mungkin itu lebih banyak ke daerah-daerah berkembang. Pada daerah-daerah tentu yang memang membutuhkan paling banyak kan sekarang adalah ketahanan air. Termasuk air minum juga. Apalagi dengan Asta Cita Presiden sudah menyatakan lebih banyak kepada ketahanan energi dan air. Tentu saja itu akan lebih prioritas ke sana.
Dan kami sudah melihat bahwa memang pembangunan irigasi, penyediaan air minum, penanggulangan banjir, memang sudah diprioritaskan. Termasuk pembangunan jalan-jalan akses mendukung infrastruktur tersebut. Dan juga pengembangan-pengembangan sinar-sinar produksi pertanian. Seperti jalan daerah, kita punya IJD (Inpres Jalan Daerah) itu juga sudah diprioritaskan. Kalau jalan tol tadi saya bilang memang masih dibutuhkan pada kondisi tertentu, selektif tadi. Terutama pada daerah yang ekonominya tumbuh dengan tinggi tadi.
Kalau kita melompat ke 2045 misalnya, Anda ingin orang Indonesia melihat pembangunan infrastruktur ini seperti apa? Dan apa yang hari ini sudah kita bangun untuk sampai ke sana?
Ya, sebenarnya kita di 2045 kalau di jalan nasional, kita akan bagian dari jalan nasional, bicara jalan ya, bicara jalan saja. Memang kita ingin jaringan jalan kita itu men-support seluruh pusat-pusat produksi, ekonomi maupun pertanian. Sehingga pembangunan jalan non tol juga diperlukan. Sementara pembangunan jalan tol tetap kita perlukan ke depan juga di 2045. Kita berharap sudah ada jaringan-jaringan jalan tol yang utuh. Misalkan di Jawa itu sebenarnya punya konsep, kalau nggak salah, dua kali sembilan. Jadi ada dua ya, utara dan selatan, kemudian sembilannya adalah menghubungkan antara utara dan selatan.
Kalau Sumatra itu konsepnya satu kali satu kali tiga. Satu dari Aceh sampai Lampung, kemudian yang Medan ke bawah, kemudian dari Riau ke bawah sampai Jambi, kemudian Palembang ke bawah. Jadi kita sebenarnya sudah konsep, Kalimantan juga begitu, punya konsep. Nah, untuk saat ini kami memang sudah menyiapkan fondasi, baik tadi dalam bentuk rencana umum ke depan sampai tahun 2040, baik jalan non tol maupun tol.
Kemudian juga kita menyiapkan aturan-aturan untuk landasan-landasan tersebut. Di dalam jalan tol ya biar investornya lebih menarik, begitu. Atau gate governance-nya kita atur semua. Kemudian aturan-aturan secara teknis juga kita perbaiki karena perkembangan zaman. Kemudian SDM (Sumber Daya Manusia) juga kita siapkan. Pelatihan-pelatihan juga perlu. Jadi memang kita ingin di 2045 punya jaringan yang efisien, yang secara koridor menghubungkan antara pusat-pusat produksi, pusat-pusat inlet dan outlet. Sehingga nanti akan meningkatkan kelancaran distribusi barang dan orang.
Membangun infrastruktur bukan sekadar menghadirkan konektivitas, melainkan memastikan konektivitas itu menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata. Jalan yang menghubungkan pusat produksi dengan pelabuhan, kawasan industri dengan pasar, serta wilayah berkembang dengan pusat pertumbuhan baru hanya akan optimal apabila didukung perencanaan tata ruang, akses jalan yang memadai, dan kebijakan lintas sektor yang saling terhubung.
Bagi Dedy Gunawan, tantangan ke depan terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan baru dan pemeliharaan aset, antara kepentingan investasi dan kebutuhan masyarakat, serta antara percepatan konektivitas dan pemerataan pembangunan. Dengan anggaran yang terbatas, setiap proyek perlu dipilih berdasarkan manfaat dan kebutuhan yang paling mendesak.
Visi menuju 2045 pun tidak berhenti pada tersedianya jaringan jalan yang semakin panjang. Yang ingin dicapai adalah jaringan infrastruktur yang terintegrasi, menghubungkan pusat-pusat produksi, pertanian, serta jalur distribusi barang dan manusia secara lebih efisien.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang seberapa banyak infrastruktur yang berdiri, tetapi seberapa besar kontribusinya bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.*

