Kalau dari segi pembiayaan sendiri, antara pembangunan di Jawa atau di luar Jawa itu mana lebih mahal?
Kalau dari sisi pembangunan, kembali lagi, tergantung karakteristik biaya konstruksinya.
Sony: Yang Jawa itu memang penduduknya kan banyak, lebih dari separuh penduduk Indonesia ada di Jawa. Artinya pergerakan orang di jalan tol sangat dominan. Sehingga kalau kita lihat tren pembangunan jalan tol di Jawa itu lebih mengakomodasi pergerakan orang. Beda dengan di Sumatera. Sumatera itu sebenarnya belum begitu berkembang, tapi potensinya luar biasa. Potensi hasil perkebunan, hasil tambang, segala macam. Ini kalau ditingkatkan dengan konektivitas yang lebih baik, harusnya bisa meningkat.
Makanya fokus di Sumatera itu lebih ke logistik sebenarnya. Makanya yang kita dorong itu adalah pembangunan tol di Sumatera itu nanti dikoneksikan dengan simpul-simpul logistik. Tidak hanya kota, tetapi juga simpul logistik. Jadi diutamakan seperti itu. Nah kalau dari sisi tantangan konstruksi, ya betul, tanah di Sumatera sama tanah di Jawa itu sangat berbeda. Jawa itu relatif stabil tanahnya, batuannya juga bagus. Sehingga dari sisi biaya konstruksi dari material pembuatan itu relatif lebih murah sebenarnya per kilometernya.
Tantangan tanah di Sumatera lebih tinggi. Tanahnya tanah lunak, clay shale. Gambut ada walaupun tidak setebal di Kalimantan. Jadi kalau kita lihat Bukit Barisan, tanahnya bagus. Ke timur mulai jelek. Kemudian kalau kita lihat ke Sumatera bagian utara, itu relatif bagus tanahnya. Bagian selatan bagus. Tengah itu banyak tanah lunak dan clay shale. Artinya biaya konstruksinya menjadi lebih tinggi. Biaya Investasinya lebih besar. Jadi kesannya kenapa di Sumatera tolnya lebih mahal di Jawa lebih murah. Tantangan geotekniknya jauh lebih tinggi di Sumatera.
Tantangan pembangunan itu memengaruhi harga tarifnya?
Iya. Itu sebagai pembentuk tarif.
Tulus: Makin besar biaya investasinya dan konstruksinya tadi, ending-nya ke tarif. Itu sebabnya tarif ruas tol baru relatif lebih tinggi dibanding ruas lama, termasuk di Jawa, karena biaya investasi dan konstruksinya saat ini lebih besar.
Sony: Jadi kalau kita lihat, kalau saya membaginya, biaya tarif tol bergerak bukan karena Jawa atau Sumatra sebenarnya. Tapi harga konstruksi segala macam. Dari tahun 1990-an, tahun 2000-an. Sekarang tahun 2020-an, itu berbeda. Makanya tren per kilometernya sudah berbeda. Sekarang tol tarifnya paling tinggi di atas Rp 2.000 per kilometernya. Dulu masih Rp 1.500-an.
Ada ruas tol yang lalu lintasnya masih di bawah proyeksi, apa penyebabnya?
Memang di perjalanan ada, dari proses perencanaan sampai ke pengusahaan, realisasinya berbeda. Contohnya tol Manado-Bitung. Itu juga sangat jauh dari apa yang kita proyeksikan waktu itu. Tingkat kelayakannya, faktor penentunya dari tingkat lalu lintasnya. Waktu dalam perencanaan kita memproyeksikan, misalkan lalu lintasnya itu sekian ribu, itu bangkitannya dari pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) Bitung dan pelabuhan Bitung.
Tapi dalam perjalanan tol itu sudah jadi, sudah beroperasi, ternyata kawasannya tidak berkembang. KEK Bitungnya tidak berkembang. Pelabuhannya juga sama. Dan ditambah lagi dibangunlah suatu jalan yang sebagai kompetitor di sebelahnya. Namanya Jalan Sukarno. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam mencari solusi bagaimana keberlanjutan pengusahaan jalan tol ini. Sebenarnya itu yang terjadi saat ini. Bahwa apa yang kita rencanakan itu tidak terjadi. Sudah direalisasikan pembangunan jalan tolnya dan dioperasikan.
Sony: Di Bitung ini, kalau kita membangun jalan tol, ibaratnya kita memberikan kail kepada pemerintah daerah, berupa konektivitas yang baik agar mereka dapat lebih kreatif dalam mengembangkan potensi daerah. Namun, pemanfaatan konektivitas tersebut ternyata belum berjalan optimal. Akibatnya apa? Jalan tolnya sudah jadi, pemerintah daerahnya baru berkemas, baru beres-beres untuk mendukung itu. Artinya kan ada satu gap 4-5 tahunan, baru tol itu terisi oleh aktivitas baru dari kawasannya. Ini yang mengakibatkan terjadinya tol yang lalu lintasnya masih jauh di bawah proyeksi. Dioperasikan, traffic-nya sangat rendah. Tidak men-support langsung.
Memang kita dorong sekarang akhirnya, agar tol-tol itu dimanfaatkan semaksimalnya oleh pemerintah daerah.Contohnya Trans Jawa. Trans Jawa sangat bermanfaat saat mudik, dan di luar periode mudik pemanfaatannya masih bisa ditingkatkan. Itu harusnya pemerintah daerah memanfaatkan keberadaan tol itu sebagai akses untuk pengembangan kawasan, pariwisata, segala macam. Dan misalnya Cisumdawu. Itu kan sudah pernah ada keluhan dari Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Majalengka, bahwa nanti mereka akan jadi sepi.
Contohnya adalah Cipularang. Kalau Cipularang jadi, Karawang sepi. Artinya industri-industri yang ada di situ menjadi mati. Nah saya balik waktu itu logikanya. Cisumdawu itu, waktu itu, memang terkesan akan mematikan Sumedang dan Majalengka. Karena menganggap orang dari Bandung ke Cirebon, biasanya ke Sumedang mampir beli tahu. Ke Majalengka cuma main sebentar, seperti itu. Gara-gara tol, mereka jadi nggak mampir.
Saya balik logikanya. Dengan adanya tol, harusnya orang menjadikan Sumedang itu destinasi. Apa yang bisa Sumedang destinasi? Sumedang punya potensi alam. Kalau kita main ke Sumedang, Sumedang itu alamnya bagus, seperti Bandung Selatan. Kenapa tidak buat resort-resort? Misalnya seperti itu. Jadi jadikan Sumedang itu destinasi orang Jakarta main ke Sumedang. Tidak lagi sekedar mampir cuma beli tahu, selanjutnya ke Cirebon, tapi menjadi destinasi. Dengan adanya jalan tol, jadi lebih mudah orang ke situ.
Majalengka punya waduk. Itu kan bisa potensi wisata air yang bisa dikembangkan. Ya sudah, jadikan itu berkembang, sehingga orang mau main ke Majalengka yang dulu lima jam, sekarang cuma dua jam. Jadi itu fungsinya. Jadi kita rangsang cara berpikir Pemda, melihat tol itu sebagai potensi mengembangkan kawasan. Bukan menjadi beban untuk kawasan.
Seperti tol Getaci yang sekarang kita rencanakan. Harusnya itu kan disambut dengan gembira oleh Pangandaran. Biar dipercepat. Karena selama ini orang Pengandaran butuh waktu enam jam kalau dari Bandung. Dengan adanya tol kan cuma tiga jam. Nah, Pangandaran bisa berkembang. Inilah yang kami dorong, agar daerah segera memanfaatkan tol itu.
