JAKARTA – Publik lebih mengenal Geisz Chalifah sebagai sosok yang kerap bersuara lantang dalam isu-isu politik. Namanya hampir selalu hadir dalam berbagai perdebatan mengenai demokrasi, pemerintahan, hingga dinamika politik nasional. Namun, ketika berbincang dengan Total Politik, politik justru bukan topik pertama yang ia angkat.
Percakapan dibuka dengan cerita tentang Jakarta Melayu Festival, sebuah agenda kebudayaan yang telah ia gagas sejak 2012. Selama lebih dari satu dekade, festival itu terus digelar dengan satu tujuan yang menurutnya sederhana: menjaga agar Melayu tidak sekadar dikenang sebagai genre musik, tetapi dipahami sebagai sebuah peradaban yang melahirkan kebudayaan, sastra, etika, dan cara berpikir.
Geisz mengakui perjalanan festival tersebut tidak pernah mudah. Dukungan finansial kerap menjadi kendala. Namun, ia memilih tetap berjalan dengan kemampuan sendiri daripada menggantungkan diri pada bantuan pemerintah. Baginya, menjaga budaya memang lebih banyak membutuhkan idealisme daripada perhitungan bisnis.
Geisz bercerita tentang awal mula Jakarta Melayu Festival, akar kecintaannya pada budaya Melayu, hingga bagaimana sastra Timur Tengah membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan.
Bagaimana latar belakang terbentuknya Jakarta Melayu Festival ini?
Namanya Jakarta Melayu Festival. Saya memulainya pada 2012 dan sejak itu hampir setiap tahun kami mengadakan konser. Bagi saya, Melayu bukan hanya kesenian. Melayu adalah hasil sebuah peradaban yang melahirkan budaya. Di dalam budaya Melayu ada banyak hal: intelektualitas, kesenian, juga etika.
Kalau kita mendalami Melayu, bahkan hanya dari musiknya saja, kita akan melihat betapa kuat intelektualitas yang terkandung di dalam budaya Melayu. Misalnya dari lirik-lirik lagunya. Ada kalimat seperti kutanam selasih, kutanamkan di ujung halaman. Atau di lirik lainnya, kutanam selasih, kutanamkan di ujung harapan. Ada juga bulan dipagar bintang. Itu bukan sekadar rangkaian kata. Filosofinya kuat. Metaforanya juga luar biasa.
Karena itu saya selalu mengatakan, Melayu bukan dangdut. Dangdut memiliki perkembangan sejarahnya sendiri, sedangkan Melayu mempunyai kekayaan metafora yang sangat kuat. Dari situlah muncul keinginan saya. Jangan sampai budaya ini redup. Jangan sampai mati. Jangan sampai tertinggal. Budaya ini bukan hanya harus dirawat, tetapi juga ditumbuhkembangkan. Tapi memang perjuangannya lebih banyak bersifat pribadi. Tidak dilakukan secara masif bersama-sama.
Karena itu jalannya sering terseok-seok. Kalau dilihat dari acaranya, hampir setiap penyelenggaraan selalu sukses. Penontonnya ribuan dan selalu penuh. Yang lemah justru dukungan finansial. Budaya seperti ini tidak mudah menjual sponsor. Karena itu saya menjalankannya lebih karena semangat idealisme.
Berarti selama ini tidak pernah menggunakan dukungan pemerintah?
Tidak pernah. Saya tidak pernah menggunakan instrumen pemerintah. Saya juga tidak pernah menghubungi Kementerian Pariwisata atau kementerian lain untuk meminta bantuan. Bahkan ketika Pak Sandiaga Uno menjadi menteri dan hadir di acara kami, beliau datang karena saya undang sebagai tamu, bukan karena saya meminta dukungan. Jadi semuanya lebih banyak berjalan secara pribadi.
Apa yang membuat Anda begitu dekat dengan budaya Melayu?
Saya orang Betawi. Nenek saya Betawi. Ibu saya juga Betawi. Arab kan dari kakek saya. Kalau melihat ke belakang, waktu kecil ibu saya sering menjahit di rumah sambil mendengarkan lagu-lagu Melayu. Sampai sekarang suasana itu masih saya ingat. Mungkin dari situlah kedekatan saya dengan Melayu bermula. Bagi saya, musik Melayu itu indah. Dan memang berbeda dengan dangdut. Musik Melayu awalnya mendapat pengaruh Portugis. Setelah Islam masuk, pengaruh Timur Tengah menjadi sangat kuat.
Karena itu kalau kita melihat perkembangannya di berbagai daerah, bentuknya bisa berbeda-beda. Di Sumatra ada Zapin, di kawasan timur berkembang lagi dengan nama lain. Gerakannya berkembang, melahirkan berbagai bentuk tarian, termasuk Serampang Dua Belas. Tetapi akar budayanya tetap sama. Kalau kita memperhatikan tarian Melayu, gerakan tangannya sangat khas. Tidak boleh ada gerakan tangan di atas ketiak. Tidak ada tatapan mata langsung antara laki-laki dan perempuan. Ada batas yang dijaga. Menurut saya, itu juga menunjukkan bagaimana kuatnya pengaruh budaya Timur Tengah terhadap perkembangan Melayu.
Pengaruh Timur Tengah itu juga yang membuat Anda dekat dengan sastra?
Iya. Kalau kita bicara Timur Tengah, penyair-penyairnya luar biasa. Mohammad Hariri, misalnya. Kahlil Gibran tentu kita kenal. Tetapi masih banyak penyair lain yang menurut saya sangat hebat. Bahkan saya meyakini kisah Romeo and Juliet banyak mengadopsi cerita Laila Majnun. Ceritanya hampir sama. Bedanya hanya pada bagian akhir. Tentang Laila Majnun sendiri juga ada perdebatan.
Ada yang meyakini tokoh Qais benar-benar hidup. Ada juga yang menganggapnya tokoh fiktif. Yang jelas, kisah itu awalnya berkembang secara lisan selama berabad-abad di Timur Tengah sebelum kemudian ditulis oleh Nizami dan menjadi karya sastra yang abadi. Kalau kita membaca bagaimana para pengamat sastra berbicara tentang karya-karya seperti itu, kita akan memahami kenapa sastra Timur Tengah mempunyai posisi yang sangat tinggi dalam sejarah peradaban.
Anda tadi menyebut Laila Majnun. Apa yang membuat karya itu begitu membekas?
Kalau Laila Majnun, mungkin itu satu-satunya novel yang saya baca sampai tiga kali. Saya membaca novel sejak SD. Kakak-kakak saya kuliah di Universitas Nasional. Mereka punya banyak buku di rumah. Saya baca saja semuanya, mengerti atau tidak mengerti. Jadi kebiasaan membaca itu memang sudah lama. Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu sudah berapa banyak novel yang saya baca. Mungkin dua ratus, tiga ratus, mungkin lebih dari seribu. Sulit dihitung.
Bahkan waktu masih kecil saya sudah membaca novel-novel yang sebenarnya belum untuk usia saya. Setelah itu terus berlanjut. Saya membaca banyak karya sastra, termasuk novel-novel kontemporer. Tetapi sampai hari ini tidak ada yang mampu menggeser kesan saya terhadap Laila Majnun. Novel itu isinya prosa. Sepanjang tulisan, kekuatan kosakatanya luar biasa. Ada kalimat yang sampai sekarang masih saya ingat.“Engkau adalah mahkota untukku, tetapi menghiasi kepala orang lain.” Kalimat itu berat sekali.
Lalu ada lagi, “Engkau adalah surga untukku, tetapi aku tak menemukan kuncinya.” Dan di bagian akhir, setelah kedua tokohnya meninggal, ada kalimat yang menurut saya sangat kuat: “Hanya dalam kematian keduanya diizinkan untuk bersanding.” Ketika membaca bagian-bagian seperti itu, kita dipaksa berhenti berkali-kali. Kita membayangkan suasana batin tokohnya. Itulah kekuatan sastra Timur Tengah.
Selain Laila Majnun, siapa penulis yang paling berpengaruh bagi Anda?
Nizar Qabbani. Hidupnya penuh kepahitan. Adik perempuannya bunuh diri karena dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Istrinya meninggal terkena bom. Anaknya juga meninggal. Kehidupannya penuh luka, dan hampir semua pengalaman itu dituangkan menjadi puisi.
Ada puisinya yang bertema politik yang selalu saya ingat. “Wahai Sultan, separuh rakyatmu tidak memiliki lidah. Separuh lainnya mengumpat di balik tembok-tembok rumah.” Pendek, tetapi sangat kuat. Dia menggambarkan bagaimana rakyat menghadapi rezim yang otoriter. Kalau puisi tentang cinta juga luar biasa. Ada kalimat, “Perempuan pertama adalah kamu, dan yang lainnya hanyalah catatan kaki.”
Lalu ada lagi, “Engkau bertanya tentang langit. Saat kau tersenyum, aku lupa tentang langit.” Dan satu lagi yang saya suka, “Mendekatimu adalah ilusi. Menciummu adalah bunuh diri.” Kalau kita membaca karya-karya seperti itu, kita memperoleh kekayaan rasa. Jadi bukan hanya kemampuan berpikir yang bertambah, tetapi juga kemampuan mengolah rasa. Mungkin karena bacaan-bacaan seperti itulah saya kemudian merasa dekat dengan Melayu.
