Publik mengenal Geisz bukan hanya karena Jakarta Melayu Festival. Namanya juga lekat dengan Anies Baswedan. Dalam Pemilihan Presiden 2024, Geisz menjadi salah satu pendukung Anies yang paling vokal. Hampir setiap hari ia menyampaikan pandangan politiknya melalui media sosial maupun berbagai forum diskusi.
Menurut Geisz, kedekatannya dengan Anies bukan sesuatu yang lahir menjelang Pilpres, melainkan sudah terjalin jauh sebelumnya, termasuk ketika membangun Jakarta Melayu Festival bersama sejumlah sahabat.
Geisz lantas bercerita tentang awal mula istilah “Anak Abah”, pengalamannya mengikuti Pilpres 2024, hingga alasan mengapa ia menilai persoalan terbesar pemilu bukan terletak pada hasil, melainkan prosesnya.
Anda dikenal sebagai salah satu pendukung Anies Baswedan yang paling konsisten. Dari mana sebenarnya kedekatan itu bermula?
Hubungan kami sudah lama. Bahkan sejak awal Jakarta Melayu Festival, Pak Anies sudah ikut terlibat bersama teman-teman. Kami sama-sama membangun festival itu. Jadi kedekatan kami bukan karena Pilpres, tetapi sudah jauh sebelumnya.
Salah satu istilah yang sangat melekat pada Pilpres 2024 adalah “Anak Abah”. Banyak orang menganggap itu bagian dari strategi politik. Benarkah?
Sama sekali tidak. Istilah itu muncul sangat natural. Tidak dibuat-buat dan tidak direkayasa. Waktu itu Pak Anies sedang siaran langsung di TikTok bersama putrinya. Ada seseorang yang bertanya, “Pak Anies, saya sudah tidak punya ayah. Bolehkah saya memanggil Bapak sebagai Abah?” Pak Anies menjawab, “Boleh.” Hanya sesederhana itu. Setelah itu percakapan tersebut viral. Potongan videonya beredar ke mana-mana, ditonton jutaan orang, lalu orang-orang mulai menyebut diri mereka “Anak Abah”. Jadi bukan kami yang menciptakan istilah itu. Ia lahir sendiri di media sosial.
Berarti tidak pernah ada rapat atau strategi komunikasi untuk melahirkan istilah itu?
Tidak ada sama sekali. Justru waktu itu kami belum mengenal TikTok. Pak Anies belum punya akun. Saya juga belum punya. Karena pengguna TikTok sangat banyak, akhirnya muncul usulan agar Pak Anies mencoba siaran langsung. Salah satu pertanyaan yang muncul saat itu ya pertanyaan tentang “Abah” tadi. Suasananya malam hari dan sangat emosional. Banyak orang ikut terharu. Setelah itu videonya dipotong-potong dan menyebar ke mana-mana. Dari situlah istilah “Anak Abah” hidup sendiri.
Jadi “Anak Abah” lebih merupakan label sosial daripada gerakan politik?
Iya. Menurut saya itu hanya label. Sama seperti istilah-istilah lain yang sering muncul dalam politik. Orang kemudian menyematkan label itu kepada para pendukung Pak Anies. Lucunya, umur saya lebih tua daripada Pak Anies, tetapi saya juga disebut Anak Abah. Itu menunjukkan bahwa media sosial memang penuh kejutan.
Seberapa besar keyakinan Anda bahwa Anies akan memenangkan Pilpres 2024 lalu?
Sangat yakin. Kami benar-benar yakin. Pak Anies punya rekam jejak yang baik selama menjadi Gubernur Jakarta. Selain itu, setiap kali kami datang ke daerah, sambutan masyarakat luar biasa. Bahkan ketika saya datang tanpa Pak Anies sekalipun, acaranya tetap ramai. Saya melihat sendiri antusiasme masyarakat di Medan, Makassar, Jawa Timur, Jawa Barat, dan berbagai daerah lain. Karena itu kami yakin akan menang.
Kapan keyakinan itu mulai berubah?
Menjelang akhir masa kampanye. Saya mulai mendengar banyak keluhan dari masyarakat. Di Sumatera Utara misalnya, ada warga yang mengatakan kepada saya bahwa mereka sebenarnya mendukung Pak Anies, tetapi aparat desa dipanggil dan diminta mengarahkan dukungan.
Ada juga cerita mengenai bansos dan pengumpulan KTP. Cerita seperti itu saya dengar di banyak tempat. Tentu kalau diminta menunjukkan bukti satu per satu, itu tidak mudah. Tetapi saya mengalami sendiri bagaimana cerita-cerita seperti itu muncul berulang kali selama berkeliling ke berbagai daerah. Karena itu saya selalu mengatakan, persoalannya bukan pada hasil akhirnya. Persoalannya ada pada prosesnya.
Maksud Anda, persoalannya bukan pada perolehan suara?
Betul. Kalau kita bicara angka, mungkin orang akan melihat hasil akhirnya. Tetapi saya melihat prosesnya. Kalau prosesnya tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka di situlah persoalannya. Karena itu saya mengatakan, kami bukan kalah pada saat penghitungan suara. Yang saya persoalkan adalah proses sebelum masyarakat datang ke TPS (Tempat Pemungutan Suara).
Setelah Pilpres selesai, Anda juga jarang mengomentari pemerintahan sekarang. Kenapa?
Karena sejak awal posisi saya sudah jelas. Saya mengatakan, kalau prosesnya bermasalah, maka saya memilih berhenti di situ. Sampai hari ini saya hampir tidak pernah mengomentari kinerja pemerintahan. Yang saya komentari sejak awal adalah proses politiknya. Karena menurut saya, persoalan utamanya memang ada di sana. Pemilu telah usai. Hiruk-pikuk kampanye juga berlalu.
