1 week ago
14 mins read

Geisz Chalifah: Menjaga Nyala Melayu yang Nyaris Padam

Produser Jakarta Melayu Festival, Geisz Chalifah. (Foto: Istimewa)

Namun bagi Geisz Chalifah, persoalan bangsa tidak berhenti ketika hasil pemungutan suara diumumkan. Menurutnya, masyarakat hari ini justru lebih banyak berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: usaha yang lesu, daya beli yang melemah, dan ketidakpastian ekonomi. 

Geisz mengaku lebih sering mendengar keluhan para pelaku usaha daripada perdebatan soal politik. Dari pembahasan mengenai ekonomi, percakapan kemudian mengalir pada ruang demokrasi, kritik terhadap pemerintah, hingga fenomena pelabelan yang belakangan semakin sering muncul di ruang publik.

Setelah Pilpres selesai, apa yang paling sering Anda dengar dari masyarakat?
Masalah Ekonomi. Kalau sekarang saya bertemu teman-teman atau masyarakat, hampir semuanya berbicara soal ekonomi. Orang sekarang bukan lagi berpikir bagaimana berkembang. Yang penting bisa bertahan. Tidak jatuh lebih dalam saja sudah bagus. Saya mendengar banyak teman mulai menjual aset. Ada yang menjual rumah, tanah, atau kendaraan untuk bertahan hidup. Masalahnya, aset itu pun sekarang sulit terjual. Harga sudah turun berkali-kali, tetapi pembelinya tetap tidak ada. Artinya, persoalan yang dihadapi masyarakat memang serius. 

Pemerintah sering menyampaikan bahwa indikator ekonomi Indonesia tetap baik. Mengapa Anda melihatnya berbeda?
Saya tidak sedang memperdebatkan angka. Yang saya lihat adalah kenyataan yang dirasakan masyarakat. Orang yang datang kepada saya tidak membawa data statistik. Mereka datang membawa cerita tentang usahanya yang sepi, dagangannya yang tidak laku, atau penghasilannya yang turun. Itu yang saya dengar hampir setiap hari. 

Contoh yang paling terasa menurut Anda?
Tanah Abang. Saya mendengar banyak kios kosong. Pemilik kios kesulitan mencari penyewa. Bahkan sewanya sudah turun. Mereka bukan lagi mencari keuntungan. Yang penting biaya operasional tertutup. Tetapi tetap saja sulit. Kalau kondisi seperti itu terjadi di pusat perdagangan sebesar Tanah Abang, berarti memang ada persoalan pada daya beli masyarakat. 

Ada yang berpendapat kondisi itu terjadi karena masyarakat beralih ke belanja online?
Penjelasan itu terlalu sederhana. Teman-teman saya yang berjualan secara online juga mengeluh. Kalau toko offline mengeluh dan toko online juga mengeluh, berarti persoalannya bukan semata-mata perpindahan platform. Menurut saya, yang sedang melemah adalah daya beli masyarakat. 

Menurut Anda, siapa yang paling merasakan tekanan ekonomi saat ini?
Mereka yang hidup dari usahanya sendiri. Pedagang. Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Orang-orang yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan. Mereka yang paling sering datang dan bercerita kepada saya. Bahkan ada yang mengatakan, “Pak, sekarang bukan soal Pak Anies kalah. Dagang saja sudah susah.” Kalimat seperti itu sering saya dengar. 

Kalau begitu, di mana akar persoalannya?
Kompetensi. Kalau sebuah pemerintahan memiliki kompetensi, menurut saya pasti akan mencari jalan keluar. Saya sering memberi contoh Jakarta pada masa pandemi Covid-19. Pendapatan daerah turun sangat besar. Tetapi pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Program-program tetap dilakukan. UMKM tetap dibantu. Artinya, ketika menghadapi krisis, yang paling menentukan adalah kemampuan mengelolanya. 

Belakangan Anda juga beberapa kali menyinggung soal pelabelan terhadap pengkritik pemerintah. Mengapa itu menjadi perhatian?
Karena menurut saya kritik seharusnya dijawab dengan argumen. Kalau ada kritik, ya jawab kritiknya. Kalau memang salah, tunjukkan letak salahnya. Bukan orang yang mengkritik justru diberi label. 

Salah satu istilah yang ramai adalah “Londo Ireng”. Bagaimana Anda melihatnya?
Menurut saya istilah seperti itu tidak menjawab substansi. Yang diperdebatkan seharusnya isi kritiknya. Kalau kritik dibalas dengan label, berarti kita tidak sedang membahas persoalan yang sebenarnya. 

Menurut Anda, mengapa pelabelan seperti itu terus muncul?
Karena lebih mudah memberi label daripada menjawab kritik. Kalau punya jawaban, ya jawab saja. Tidak perlu memberi cap kepada orang yang berbeda pendapat. Menurut saya, demokrasi membutuhkan ruang untuk berdebat dengan argumentasi. Bukan saling memberi stigma. 

Apakah fenomena itu baru terjadi sekarang?
Tidak. Menurut saya polanya sudah lama. Istilahnya saja yang berubah. Dulu ada label tertentu. Sekarang muncul label yang lain. Tetapi caranya sama. Orang yang berbeda pendapat diberi stigma, bukan diajak berdebat secara terbuka. 

Benarkah menurut Anda, Anies selalu menjadi sasaran ketika muncul persoalan nasional?
Saya melihat polanya seperti itu. Coba saja dicek. Hampir setiap kali muncul persoalan besar di tingkat nasional, tidak lama kemudian muncul isu yang menyerang Anies. Seolah-olah perhatian publik harus dialihkan ke sana. Saya bahkan pernah menulis di Twitter. Begitu ada kasus nasional, saya bilang kepada teman-teman, “Tunggu saja, satu atau dua hari lagi Anies akan jadi sasaran.” Dan memang polanya berulang. Menurut saya itu sudah sangat mudah dibaca.

Mengapa yang terus diserang justru Anies?
Karena Anies ada di Jakarta. Sorotannya besar. Dia punya kapasitas, punya panggung, dan tentu memiliki banyak pendukung sekaligus banyak orang yang tidak menyukainya. Akhirnya lebih mudah dijadikan sasaran. Saya melihat itu bukan hanya dilakukan oleh satu pihak. Beberapa menteri juga pernah melakukan hal yang sama. Ada yang mengaitkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan pernyataan Pak Anies, ada yang menyerang soal Formula E, soal banjir, soal rumput JIS, sampai bansos. Menurut saya, semuanya menunjukkan pola yang sama: setiap ada persoalan, Anies dijadikan target.

Apakah serangan itu hanya terjadi ketika Anies menjadi gubernur?
Tidak. Menurut saya upaya menghadang Anies terus berlangsung. Awalnya lewat berbagai isu ketika beliau menjadi gubernur. Setelah itu menjelang Pilpres. Bahkan menjelang Pilkada DKI saya melihat ada tekanan agar partai-partai tidak memberikan dukungan kepada Anies. Ada cerita dari beberapa partai yang menurut saya menunjukkan situasi itu memang tidak sederhana. Karena itu saya melihat persoalannya bukan semata persaingan politik biasa.

Ada anggapan yang takut terhadap Anies adalah kelompok oligarki. Anda melihatnya bagaimana?
Justru pengalaman saya berbeda. Saya pernah bertemu dengan sejumlah pengusaha besar di Jakarta. Saya tanya langsung, “Apa sebenarnya masalah kalian dengan Anies?” Jawabannya sederhana, “Kami nyaman.” Mereka mengatakan aturan dijalankan dengan jelas. Contohnya soal reklamasi. Yang memang harus dihentikan dihentikan. Yang sudah terbangun tetap diberi kepastian hukum, tetapi pengembang juga diwajibkan memenuhi kewajibannya kepada pemerintah. Menurut saya, itu menunjukkan bahwa menjalankan aturan tidak sama dengan memusuhi dunia usaha.

Bagi Geisz Chalifah, kebudayaan dan demokrasi ternyata memiliki titik temu. Jakarta Melayu Festival, sastra yang membentuk cara berpikirnya, perjalanan politik bersama Anies Baswedan, hingga pandangannya mengenai ekonomi dan kritik, pada akhirnya bermuara pada satu keyakinan yang sama. Sebuah bangsa, menurut Geisz, memerlukan keberanian untuk menjaga akar budayanya sekaligus menjaga ruang dialog yang sehat. Sebab tanpa keduanya, sebuah peradaban akan kehilangan penopangnya.*

Komentar

Your email address will not be published.

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia
Tampilan Visual Ikonik Scatter Hitam Menjadi Sorotan Utama Dengan Sensasi Misteriusnya
Target Maxwin Diraih Melalui Strategi Menjaga Ketahanan Modal Harian
Fondasi Utama Meraih Hasil Maxwin Secara Bertanggung Jawab Adalah Ketenangan
Fenomena Hasil Maxwin Terencana Diraih Dengan Kunci Utama Mengendalikan Keputusan Terburu-Buru
Pengalaman AI dan Visual Interaksi Meja Siaran Paling Jernih Dihadirkan Oleh Live Kasino
Ritme Pengalaman Menikmati Hiburan Studio Tanpa Bepergian Dihadirkan Live Kasino
Arsitektur Grafis Digital Pragmatic Play Diakui Kekuatannya Oleh Banyak Pihak
Ulasan Tema Petualangan Menegangkan Dari Pragmatic Play Disambut Hangat Oleh Penggemar
Desain Karakter Menghibur Dari Pragmatic Play Selalu Menunjukkan Kreativitas Yang Relevan
Elemen Scatter Hitam Selalu Menggoda Dengan Pesona Tampilan Ikonik Yang Misterius
Go toTop

Jangan Lewatkan

Air Mata di Atas Laut Ancol

Mimpi tentang Masjid Apung pun terhenti. Tetapi idenya tidak mati.

Membunuh Reputasi Tanpa Menuduh

JAKARTA – Mengapa juru bicara lembaga penegak hukum wajib menyampaikan
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88