Sebelum Jakarta Melayu Festival, Anda juga pernah membuat festival musik lain?
Iya. Waktu kuliah saya bersama Bambang Soesatyo membuat Festival Jazz Mahasiswa. Itu sebelum ada Friday Jazz Night di Ancol. Festival kami waktu itu cukup ramai. Setelah itu Ancol mengambil idenya dan lahirlah Friday Jazz Night.
Kenapa memilih nama Jakarta Melayu Festival?
Karena Jakarta adalah pusat perhatian. Kalau memakai nama Jakarta, spotlight-nya lebih kuat. Jakarta menjadi semacam pusat sehingga orang lebih mudah memberi perhatian.
Kegiatan utamanya tetap konser tahunan?
Iya, konser tahunan setiap bulan Agustus. Sekarang kami masih melihat situasi. Kondisi ekonomi memang sedang berat, jadi kami terus mempertimbangkan bagaimana penyelenggaraannya nanti.
Selain festival tahunan, apakah ada kegiatan lain untuk menjaga musik Melayu tetap hidup?
Ada. Saya membentuk grup musik Seroja Band. Mereka tampil membawakan lagu-lagu Melayu di kafe dan restoran yang selama ini tidak pernah dibayangkan menjadi tempat musik Melayu dimainkan. Sampai sekarang mereka masih tampil di kawasan Kemang, Menteng, dan beberapa tempat lain. Coba bayangkan, orang datang ke sebuah restoran di Menteng atau Kemang, lalu yang mereka dengar justru musik Melayu. Ternyata diterima. Pengunjungnya tetap banyak. Artinya, musik Melayu sebenarnya masih memiliki penikmat.
Tetapi kesannya anak muda sekarang kurang akrab dengan musik Melayu?
Saya justru tidak melihat persoalannya di situ. Bukan karena anak muda tidak menyukai Melayu. Persoalannya ada pada kampanye dan sosialisasi. Melayu telanjur diberi kesan sebagai musik orang tua. Padahal musik itu melintasi batas usia dan budaya. Yang perlu dilakukan adalah mencari cara agar musik Melayu bisa masuk ke ruang-ruang yang dekat dengan generasi muda.
Dalam pandangan Anda, bagaimana posisi dangdut terhadap musik Melayu?
Rhoma Irama melakukan revolusi terhadap musik Melayu dan melahirkan dangdut. Nuansanya kemudian banyak dipengaruhi musik India, terutama dari penggunaan tabla dan warna musik film-film India yang pada era 1950-an sangat populer di Indonesia. Saya membaca sejarahnya seperti itu. Musisi-musisi Melayu waktu itu tidak ingin tertinggal oleh tren. Mereka mulai memasukkan unsur-unsur India ke dalam musik Melayu. Rhoma kemudian membawa perubahan yang lebih besar lagi lewat Soneta. Dari situlah lahir warna baru yang sekarang kita kenal sebagai dangdut.
Siapa saja yang sejak awal terlibat dalam Jakarta Melayu Festival?
Promotornya memang saya. Tetapi banyak teman ikut membantu. Di antaranya Anies Baswedan. Dari awal beliau sudah terlibat bersama teman-teman lain. Waktu itu juga ada kawan-kawan dari berbagai latar belakang. Kami sama-sama membangun festival ini karena punya perhatian yang sama terhadap budaya Melayu.
Kalau tidak melibatkan pemerintah, dari mana pendanaan festival berasal?
Dari swasta dan teman-teman yang punya perhatian terhadap budaya Melayu. Tetapi terus terang, sebagian besar berasal dari saya sendiri. Makanya saya selalu bilang, pekerjaan ini lebih banyak digerakkan oleh idealisme daripada kepentingan komersial. Saya pernah berdiskusi dengan beberapa orang yang mengelola industri pertunjukan. Mereka juga heran kenapa festival ini terus berjalan. Jawaban saya sederhana: karena saya memang suka mengerjakannya.
Anda juga penikmat musik jazz?
Iya. Saya memang menikmati jazz, tetapi bukan jazz yang terlalu berat atau terlalu eksperimental. Saya lebih suka jazz yang masih mudah dinikmati pendengar umum. Musik yang terlalu rumit kadang hanya bisa dipahami oleh pemainnya sendiri. Sementara saya lebih senang musik yang tetap bisa berkomunikasi dengan pendengarnya.
Dulu budaya Melayu cukup sering tampil di TVRI. Sekarang justru terasa semakin jarang. Kenapa?
Dulu Melayu bahkan menjadi musik istana pada masa Presiden Soekarno. Belakangan memang ada upaya menghidupkannya lagi di TVRI. Tetapi menurut saya kesannya seperti dipaksakan karena dukungan anggarannya lemah. Musik Melayu tidak bisa diproduksi secara asal-asalan. Kalau melihat Jakarta Melayu Festival, saya selalu berusaha memberikan kualitas terbaik. Sebagian pertunjukan bahkan menggunakan orkestra. Karena kalau dikerjakan setengah-setengah, hasilnya tidak akan memuaskan. Saya pernah melihat ada yang mencoba membuat acara serupa. Tetapi tidak sampai setahun sudah berhenti.
Apa yang membuat generasi muda sekarang semakin jauh dari budaya Melayu?
Salah satunya karena pendidikan. Budaya Melayu nyaris tidak mendapat ruang dalam kurikulum. Padahal bahasa Indonesia sendiri berakar dari bahasa Melayu. Tetapi akar itu seperti ingin dipisahkan, seolah-olah bahasa Indonesia berdiri sendiri tanpa sejarah. Saya juga punya kecurigaan pribadi—dan ini tentu sangat subjektif—bahwa identitas Melayu sering dikaitkan dengan Islam. Mungkin karena itu pembahasannya menjadi tidak terlalu menonjol. Bisa saja saya keliru, tetapi itu prasangka saya sebagai orang yang mengikuti perkembangan ini.
Kalau begitu, apa yang harus dilakukan agar Melayu kembali dekat dengan generasi muda?
Kolaborasi. Saya sudah mencoba berkolaborasi dengan musik jazz, dengan berbagai musisi, dan hasilnya bagus. Ke depan harus lebih banyak kolaborasi lagi. Berikan ruang kepada musisi-musisi Melayu untuk berkarya. Dorong mereka membuat lagu baru. Berikan panggung. Kalau tidak diberi ruang, bagaimana orang bisa mengenal mereka? Saya sendiri masih terus membuat rekaman. Biayanya memang mahal dan tidak selalu menghasilkan keuntungan. Tetapi ikhtiarnya harus tetap berjalan.
