JAKARTA – Ada percakapan yang tidak berhenti pada bagaimana seorang pemimpin menggunakan kekuasaan, tetapi juga mencoba masuk ke wilayah yang lebih dalam, yaitu bagaimana seorang pemimpin membaca dirinya sendiri, memilih orang-orang di sekelilingnya, menerima kritik, menghadapi pujian, dan mengetahui kapan waktunya berhenti.
Dalam wawancara Podcast Total Politik kali ini, wartawan senior dan penulis Bambang Wiwoho membawa pembicaraan ke wilayah tersebut melalui bukunya Laku Spiritual Pak Harto: Indonesia dan Kejawen, Analisis SWOT Negara Ala Jawa. Bagi Bambang, spiritualitas bukan semata perkara klenik atau hubungan dengan dunia gaib, melainkan juga laku batin, pengolahan rasa dan jiwa, yang menurut pengalamannya dapat membentuk ketenangan, kepercayaan diri, dan cara seseorang menghadapi kekuasaan.
Dari pengalaman panjangnya berinteraksi dengan lingkungan kekuasaan Orde Baru, Bambang kemudian bercerita tentang Soeharto, orang-orang di lingkarannya, serta dinamika antara pemimpin dan para pembantunya. Salah satu persoalan yang berulang dalam percakapan itu adalah bahaya pujian ketika seseorang sudah berada di puncak kekuasaan. Bambang mengingatkan bahwa orang yang memiliki kekuasaan atau harta besar secara alamiah mudah dikelilingi penjilat.
Karena itu, kritik justru menjadi penting. Kisah tentang hubungan Soeharto dengan sejumlah tokoh di sekitarnya, termasuk Yoga Soegama, memperlihatkan bagaimana perbedaan pandangan, harga diri, pergantian orang kepercayaan, dan kemampuan seorang pemimpin menerima nasihat dapat menentukan hubungan di dalam lingkar kekuasaan.
Menariknya, percakapan kemudian bergerak dari pengalaman Orde Baru ke politik kontemporer, terutama ketika Bambang diminta membaca karakter dan relasi Joko Widodo serta Prabowo Subianto melalui perspektif primbon. Ia sendiri menekankan bahwa primbon yang digunakannya bukan ramalan, melainkan pembacaan atas potensi diri, mencakup kelebihan, kelemahan, peluang, dan ancaman, semacam big data dalam tradisi Jawa.
Berikut petikan wawancara yang fun, fruitful, dan insightful selengkapnya:*
Hari ini kita masuk ke ranah yang lebih substantif karena kita sedang membedah buku. Sudah ada senior kita sekaligus penulis buku, Pak Bambang Wiwoho. Daripada judulnya saja dulu. Judulnya apa, Pak?
Laku Spiritual Pak Harto: Indonesia dan Kejawen, Analisis SWOT Negara Ala Jawa.
Memang ada pemimpin Indonesia yang tidak menjalani laku spiritual Kejawen, Pak?
Kayaknya semua. Hampir semua. Kecuali yang agak kurang, Pak Habibie. Kalau yang lainnya, spiritual dalam arti luas.
Apa yang Bapak definisikan sebagai spiritual di sini? Bedanya dengan klenik, ilmu-ilmu santet, dan segala macam itu apa?
Kalau kita bicara masyarakat, memang susah membedakan. Tapi ini penting untuk diberi tahu kepada masyarakat. Yang membedakan nanti para pelakunya. Masalah spiritual itu versinya banyak sekali, cabang dan alirannya juga banyak.
Bahkan Kejawen pun banyak sekali. Spiritual itu bahasa umum, bahasa universal. Orang Barat menjalani laku spiritual. Orang India, Jepang, Mesir juga ada. Islam pun mempunyai dimensi spiritual. Tetapi Kejawen lebih khusus. Itu pun Kejawen memiliki banyak versi dan aliran.
Kalau contoh Pak Harto, orang kalau bicara soal kebatinan seolah-olah lebih banyak mengaitkannya dengan mistik, dengan hal-hal gaib. Padahal kalau kebatinan betul, sebenarnya tidak begitu?
Kebatinan itu olah batin. Bagaimana kita mengolah batin supaya kita bisa dekat dengan Tuhan. Bisa manunggal, manunggaling kawula Gusti, bisa menyatu dengan Allah.
Kalau mistik yang lain lebih banyak pada kanuragan, kata Pak Harto. Kalau saya, lebih luas lagi. Ilmu-ilmu yang mempelajari hal-hal gaib untuk kepentingan dirinya sendiri, terutama supaya sakti, supaya kebal, kebal senjata dan sebagainya. Atau untuk mendalami makhluk-makhluk gaib. Pak Harto sendiri sudah jelas membedakan itu. Dan Pak Harto tidak suka yang mistis seperti itu.
Dan tidak melakoni itu, Pak?
Tidak melakoni. Pak Harto tidak melakoni. Tetapi orang tidak tahu.
Orang menganggap ketika Pak Harto melakukan meditasi di pertemuan dua sungai di Tugu Soeharto, itu mencari mistis supaya Pak Harto menjadi sakti. Tidak. Pak Harto meditasi, menyerap energi alam. Dan itu ada ajarannya di Jawa.
Saya kebetulan sejak kecil juga diajari oleh orang tua saya, namanya Doyo Prabowo. Doyo Prabowo itu mengolah energi alam, menyerap energi alam untuk menjadi bekal hidup supaya kita sehat, hidup tenang, menyatu dengan Tuhan, dengan alam semesta, dan dengan Tuhan Sang Pencipta.
Di negara lain juga ada aliran yang serupa. Cina dengan Tao, Buddha, Hindu, semuanya mempunyai tradisi semacam itu.
Kita sering dengar kalau orang-orang Cina mengenal fengsui dan energi alam.
Iya. Mereka mengatakan alam mempunyai kekuatan energi api, air, tanah, kayu, besi atau logam. Di Jawa juga ada.
Kalau kita menjalani latihan meditasi di alam, sebetulnya kita mengatur napas, mengolah napas. Menarik napas pelan-pelan, kemudian menahan udara yang sudah kita hirup. Dalam menahan itu, kita alirkan supaya energi tersebut menyebar ke seluruh tubuh.
Apa yang membedakan meditasi Pak Harto dengan meditasi Pak Bambang?
Saya kebetulan tertarik karena ternyata sama. Bedanya, beliau hebat, saya enggak siapa-siapa. Beliau menjalani itu. Saya waktu kecil betul-betul menekuninya sampai SMA. Setelah SMA, sudah hidup bergaul, akhirnya sekadarnya saja.
Apa pentingnya laku spiritual itu dalam kekuasaan di Indonesia? Bapak tadi bilang hampir semua presiden melakukan laku spiritual yang mirip-mirip.
Spiritual itu sebetulnya mengolah batin, mengolah rasa, mengolah jiwa kita.
Kalau kita berlatih meditasi spiritual seperti itu, bukan spiritual dalam arti meminta dukungan roh-roh gaib. Itu lain. Roh-roh gaib atau makhluk gaib dari kuburan berbeda sama sekali.
Kalau kita mengolah energi alam untuk diri kita, itu memengaruhi batin kita. Membuat kita menjadi tenang dalam hidup, rasa percaya diri menjadi tinggi. Kalau kita tekun melatihnya, kita bisa merasa mampu memiliki kekuatan-kekuatan alam dalam diri kita.
Kalau dalam konteks Pak Harto, contohnya bagaimana?
Pak Harto sering bermeditasi. Beliau orangnya teguh. Tidak ada rasa takut. Tenang. Karena tenang, rasa takut, gelisah, dan segala macam bisa diatasi. Tidak emosional. Menghadapi masalah yang berat, Pak Harto tetap senyum. Ketika beliau memutuskan untuk berhenti juga tenang.
Di buku ini saya menggambarkan bagaimana beliau pulang dari istana setelah mundur. Semuanya digambarkan tenang. Ditanya keluarga, beliau menjelaskannya dengan tenang, tidak emosi dan tidak marah. Juga ketika Pak Ali Alatas dan sembilan ulama menganjurkan Pak Harto mundur. Itu ketenangan. Dan mengungkapkannya juga tidak emosi. Itu terjadi karena beliau terbiasa mengendalikan hidupnya, mengendalikan dirinya dengan meditasi.
Orang mengira kalau Pak Harto berada di tempuran sungai di Semarang, di Tugu Soeharto, atau di Gunung Srandil di Cilacap, itu semata-mata kegiatan mistis.
Kalau di Tugu Soeharto, kungkum. Kalau di Gunung Srandil itu di pantai. Gunung Srandil sebenarnya berada di kawasan pantai Cilacap. Di daerah Srandil ada bukit kecil dan makam. Gunung Srandil juga sudah disinggung dalam Kidung Kawedanan Sunan Kalijaga pada tahun 1500-an.
Sunan Kalijaga membuat sekitar 45 atau 46 bait puisi Jawa yang isinya dakwah, tetapi menyebut Gunung Srandil dan Gunung Agung Bali.
Pak Harto bermeditasi menyerap energi logam di pantai selatan Cilacap sampai Yogyakarta. Kandungan pasir besinya kuat. Pasir besi mengandung energi logam.
Pak Harto ketika muda juga sering ke Delpeh, daerah Wonogiri. Alamnya luar biasa, ada batu-batu besar, aliran air, dan lubang-lubang seperti gua. Energi alam airnya kuat sekali.
Berarti Pak Harto melakukan itu terus karena merasakan khasiat dan manfaatnya dalam kehidupan beliau. Ada resonansi yang positif sehingga beliau terus menjalankan laku spiritual itu?
Saya yakin. Saya yakin karena saya tidak mendengar Pak Harto mengatakan langsung. Tetapi kalau melihat perilaku, tindakan, dan ucapannya, kelihatan beliau menghayati itu.
Dalam pengambilan keputusan, apa yang Bapak ketahui dari Pak Harto atau dari orang-orang di sekitar Pak Harto yang sangat memengaruhi beliau?
Pak Harto itu tenang dan mau mendengar bahan masukan, termasuk kritik, umpan balik, dan saran. Yang keras pun beliau dengar. Pak Harto tidak pernah marah-marah terbuka. Lihat saja.
Tapi kan ada cerita orang hilang dan sebagainya?
Itu satu kelepasan Pak Harto waktu pidato di Kopassus yang menghadapi usulan untuk mengubah Undang-Undang Dasar. Di situlah Pak Harto bicara tanpa teks. “Kalau perlu saya putarkan Undang-Undang Dasar 1945, kalau perlu saya culik.”
Saya pukul, saya gebuk?
“Saya culik” supaya suara di MPR berubah. Karena dengan diculik satu suara saja sudah berubah.
Itu kelepasan?
Itu paling keras. Bisa dibilang kelepasan, bisa juga sengaja. Saya juga menulis itu dalam buku Pak Harto Dua Tahun di Istana. Saya malah bercanda, Pak Harto sudah memerintahkan TNI, TNI-nya, Undang-Undang Dasarnya diacak-acak TNI, tetapi tidak ada yang berani menculik.
Itu yang ditentang kelompok Pak Ali Sadikin yang kemudian menjadi kelompok Petisi 50, karena Pak Harto mengucapkan hal itu. Dianggap kasar dan otoriter. Tetapi dalam hal lain, Pak Harto mendengar. Keputusannya juga merupakan hak prerogatif dia.
Pak Yoga (Jenderal Yoga Sugama) pernah menyampaikan bahwa ketika Pak Harto ingin mengangkat menteri, pejabat, atau wakil presiden, beliau meminta Badan Koordinasi Intelijen Negara dan timnya melakukan kajian terhadap calon-calon tokoh?
Iya. Intelijen, termasuk Opsus di dalamnya. Mereka meneliti. Saya pernah mengikuti salah satu penelitian yang dilakukan tim Pak Ali Murtopo terhadap Pak Sumarlin pada awal 1970-an. Diteliti siapa Pak Sumarlin, orang tuanya bagaimana, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, kehidupannya. Betul-betul diteliti.
Pernah juga Pak Harto meminta Pak Yoga meneliti seorang calon menteri. Pak Yoga memberikan kajian dan menyampaikan bahwa dia kurang setuju karena calon tersebut pernah bergerak dalam kegiatan yang agak keras, cenderung ke kiri ketika masih sekolah.
Ekstrem kiri ini maksudnya komunis?
Cenderung ke kiri, tetapi bukan komunis PKI. Pak Harto menjawab, orang kan bisa berubah. Nanti saya yang bertanggung jawab. Pak Yoga akhirnya tidak membantah. Pertama, mungkin karena malas. Kedua, itu hak prerogatif Pak Harto. Biarlah dia mengambil risiko sendiri.
Calon yang sebelumnya ditolak Pak Yoga itu kemudian masuk dalam kelompok 14 menteri yang mundur. Pak Harto memetik buah dari keputusannya sendiri. Sudah diingatkan, tetapi tidak mau.
Ada contoh lain?
Pak Darmono (Soedharmono: Wapres RI ke-5). Ketika mau diangkat menjadi wakil presiden, Pak Yoga juga memberikan catatan dan menolak. Jawaban Pak Harto sama seperti sebelumnya, orang kan bisa berubah. Nanti saya yang bertanggung jawab. Ternyata di belakang hari Pak Darmono tetap loyal kepada Pak Harto, sampai akhir.
Pak Darmono terindikasi apa?
Diduga, tetapi tidak ada bukti yang betul-betul pasti. Diduga ketika Peristiwa Madiun, Pak Darmono sebagai tentara muda ikut dalam kelompok di daerah Madiun. Tetapi dalam kebijakannya dia tidak membawa-bawa komunisme.
Artinya banyak juga yang sebenarnya tidak didengar Pak Harto?
Iya, ada. Benar. Ada yang tidak didengar. Tetapi artinya juga tidak terus bersikap ngotot. Itu hak prerogatif. Beda dengan otoriter. Ada contoh lain soal cengkeh, monopoli cengkeh BPPC.
Sebelum BPPC, Pak Bustanil dan Pak Probo sebenarnya sudah ingin melakukan monopoli cengkeh. Itu ketika Pak Yoga masih aktif, awal 1980-an.
Pak Bustanil ingin melakukan monopoli cengkeh bekerja sama dengan importir-importir cengkeh. Pak Yoga mencium itu, kemudian membuat tim untuk melakukan kajian. Apakah cengkeh sebaiknya dibiarkan dalam perdagangan bebas, dimonopoli, diatur, dan sebagainya. Ada kajian mengenai ekspor dan impor.
Saya kebetulan ikut mengolah data dan menulis laporan pendalaman. Setelah selesai, Jumat malam Pak Yoga menghadap Pak Harto membawa laporan sekitar empat halaman. Laporannya pendek, tetapi didukung fakta, dokumen, harga, analisis, dan lampiran. Pak Harto bisa menerima.
Padahal di situ ada Pak Probo dan Pak Bustanil yang merupakan orang dekat Pak Harto. Beberapa hari kemudian Pak Bustanil menghadap atau dipanggil Pak Harto. Setelah keluar, Pak Bustanil mengatakan, saya kalah. Gagasan itu ditolak Pak Harto.
Jadi idenya ditolak Pak Harto?
Iya, gagasannya.
Tadi Pak Bambang mengatakan Pak Yoga beberapa kali melakukan penolakan atau koreksi terhadap keputusan Presiden Soeharto, dan Pak Harto menerimanya. Tetapi tadi juga dikatakan bahwa hubungan Pak Yoga dan Pak Harto kemudian semakin renggang. Bagaimana memaknainya?
Bukan sejurus. Kebetulan. Kebetulan waktunya berpasangan.
Apakah merenggangnya hubungan presiden dengan menterinya karena menterinya melakukan koreksi?
Tidak. Enggak ada hubungannya. Merenggangnya hubungan Pak Yoga dengan Pak Harto disebabkan usul Pak Yoga pada Mei 1985.
Dalam konsultasi rutin Jumat malam, Pak Yoga bertemu Pak Harto. Pak Harto didampingi Pak Beni Murdani dan Pak Darmono. Pak Yoga menyampaikan bahwa karena usia, karena generasinya sudah berbeda, dan beberapa pertimbangan lain, sebaiknya pada 1988 Pak Harto jangan mencalonkan diri lagi.
Pak Yoga menyarankan agar Pak Harto menunjuk pengganti dari generasi peralihan 1945. Siapa pun yang ditunjuk Pak Harto, Pak Yoga mengatakan akan mendukung. Pak Harto diam selama pembicaraan. Tetapi Pak Beni Murdani dan Pak Darmono menolak. Mereka tetap mengharapkan Pak Harto maju.
Di situ kemudian memanas antara Pak Beni dan Pak Yoga. Menurut Pak Yoga, ketika itu Pak Beni lewat dan mendengar pembicaraan. Pak Harto tidak mengambil sikap. Karena Pak Harto tidak mengambil sikap, Pak Yoga marah dan sakit hati. Paginya saya dipanggil Pak Yoga. Dia menceritakan kekesalannya.
Minggu berikutnya Pak Yoga pergi ke Tokyo. Saya ikut menemani hampir dua minggu, meskipun tidak penuh. Pak Yoga sebenarnya hanya mempunyai acara sekitar dua hari, menemani alumni Indonesia yang pernah sekolah di Jepang.
Setelah itu Pak Yoga banyak berada di kamar hotel, zikir dan meditasi. Saya menemaninya sekitar sepuluh hari. Dia menceritakan detail urusannya dengan Pak Harto, rasa sakit hati, kekesalan, kemarahannya kepada Pak Beni, dan sebagainya.
Padahal Pak Beni anak buah Pak Yoga?
Iya, anak buah Pak Yoga. Tetapi Pak Beni sudah menjadi rising star.
Kalau kita melihat pembantu-pembantu Pak Harto, orang-orang di ring satu sejak awal sampai akhir, turnover-nya cukup berjalan. Kalau menjadi orang di ring satu Pak Harto, siapa yang menentukan tanggal expired-nya dan bagaimana penentuan itu?
Kalau maksudnya Pak Yoga?
Siapa pun. Pak Beni, Pak Ali Murtopo, orang-orang yang sangat berkuasa.
Saya kira itu wajar dan alamiah. Tetapi khusus Pak Yoga sebenarnya bukan expired. Pada 1985 Pak Yoga merasa disepelekan. Nasihatnya tidak didengar.
Soal harga diri?
Iya, harga diri. Dia orangnya kuat. Dia juga meditasi. Pak Yoga kuat meditasinya, tetapi tidak di tempat-tempat seperti Pak Harto. Indoor. Di mana saja. Pak Yoga sangat kesal, mungkin bahasa sekarang ngambek. Dia tidak mau menghadap lagi kecuali dipanggil. Tidak pernah minta waktu kecuali dipanggil. Sebelumnya sangat dekat. Setiap minggu dia datang membuat evaluasi keadaan dan perkiraan keadaan ke depan.
Apa yang membuat dulu pejabat punya pride sebesar itu? Kalau presiden tidak membutuhkan saya lagi, tidak bisa mendengar masukan saya, ya sudah, saya pergi. Kalau sekarang rasanya hampir tidak ada yang berani seperti itu.
Nilai-nilai hidup kita berubah. Saya sekarang banyak mengenal tokoh-tokoh yang menjadi pejabat. Bahkan sejak mereka masih mahasiswa, ketika masa sulit dan masa muda, saya sudah mengenal mereka. Setelah menjadi kepala badan atau menteri, saya malah tidak dekat lagi.
Dulu orang itu teruji dalam kehidupan. Nilai-nilainya agak berbeda.
Zaman dulu, kalau kita bicara soal materi, bertanya gaji itu pantangan. Gajimu berapa? Itu tidak sopan. Kalau orang bercerita membeli rumah, membeli apa, itu juga pantangan, memalukan.
Apalagi harga rumah.
Harga rumah. Kalau kita bicara materi, ukuran itu rendah. Hidup hanya diukur dari materi. Sekarang kalau tidak punya materi dianggap rendah.
Teman saya malah bercerita dengan bangga bahwa anaknya pegawai negeri punya vila, punya berapa rumah, punya mobil apa. Bukan soal halal atau tidak, tetapi dia bangga menceritakannya.
Itu nilai-nilai sekarang. Dalam beberapa buku saya juga saya tulis bahwa nilai-nilai sekarang berubah. Tokoh politik kita dan masyarakat kita seperti mengejar bagaimana berkuasa dan kaya raya dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan segala cara.
Apakah itu terkait sistem? Maksudnya demokrasi elektoral hari ini memaksa orang menuju ke arah itu? Kalau zaman Pak Harto tidak ada demokrasi elektoral.
Sistem pemilu ini juga memicu. Pemilihan langsung itu bagus. Saya setuju. Tetapi ada tapinya. Kesenjangan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat tidak boleh terlalu jauh.
Kalau kesenjangan pendidikan dan sosial ekonomi jauh, peluang pemilih langsung bisa dipermainkan. Terjadi jual beli. Akhirnya pejabat yang dilahirkan mempunyai watak materialistik karena memperoleh dukungan melalui materi.
Berbeda dengan Pak Yoga dulu yang berani berdebat dengan presiden ketika harga dirinya diusik. Pak Yoga bukan tokoh yang terasingkan. Dia mengasingkan diri karena soal harga diri.
Pak Mitro (Sumitro Djojohadikusumo) ketika konflik dengan Pak Ali Murtopo juga mundur. Saya belum pernah mendengar perintah Pak Harto untuk memecatnya. Pak Mitro sendiri yang meminta mundur.
Jadi tidak selalu orang yang keluar dari lingkaran kekuasaan menjadi persona non grata. Tidak selalu disingkirkan, ditendang, atau dipecat. Ada yang mundur.
Dalam istilah Jawa, tahu diri, tahu wayah. Wayah itu waktu. Tahu waktu dan tahu dirinya. Ukur badan, ukur baju. Kalau Pak Mitro, saya kira Pak Harto mungkin mencarikan jabatan. Dalam konteks waktu itu untuk tidak mempermalukan. Banyak orang yang ketika hendak diganti diberi jabatan lain, misalnya duta besar. Pak Mitro tidak begitu.
Siapa lagi menurut Bapak yang mengasingkan diri karena harga diri selain Pak Yoga?
Pak Mitro.
Pak Mitro karena Malari?
Malari itu menimbulkan ledakan dan kerusuhan sosial yang mempermalukan Pak Harto. Korbannya banyak. Senen, Jakarta, terbakar dan banyak yang meninggal. Itu terjadi ketika Pak Harto sedang menerima kunjungan Perdana Menteri Jepang. Jadi sangat mempermalukan.
Kita tidak sedang mencari siapa pemicunya. Yang jelas, itu menjadi dampak konflik Pak Mitro dengan Pak Ali Murtopo.
Artinya konflik di antara bawahan presiden. Apakah waktu itu Pak Harto tidak mempunyai kepekaan membaca potensi konflik yang bisa bereskalasi separah Malari?
Dalam kehidupan ada yang namanya kejenuhan. Itu sebabnya pada 1985 salah satu pertimbangan Pak Yoga adalah Pak Harto pasti akan masuk tahap jenuh. Beliau secara de facto memimpin Indonesia sejak 1966. Kalau sampai 1988, sudah sekitar 22 tahun. Itu sudah tahap yang bisa mencapai kejenuhan.
Kedua, generasinya berubah. Teman-teman dekat Pak Harto sudah tua dan banyak yang meninggal. Teman-temannya yang sebaya juga semakin sedikit. Pak Yoga lebih muda. Pak Yoga lahir 1925, Pak Harto 1921. Hanya berbeda empat tahun, tetapi masih satu generasi.
Kejenuhan membuat kita kurang peka karena menganggap semuanya biasa. Pak Yoga masih bisa peka. Pak Harto seharusnya laku spiritualnya lebih berjalan.
Pak Yoga sendiri sejak 1974 sampai 1989 berada di Bakin sekitar 15 tahun. Pada 1985, ketika mulai kesal, dia sudah sekitar 11 tahun menjadi Kepala Bakin.
Sebenarnya secara usia dia sudah bisa pensiun. Tetapi Pak Harto terus memperpanjang. Sampai umur 60 tahun pada 1989, Pak Yoga sendiri yang meminta berhenti.
Tahu kapan harus berhenti?
Apa wisdom lesson-nya Pak Yoga berhenti pada 1989?
Karena dia masuk umur 60. Sudahlah, cukup. Sudah empat atau lima tahun diperpanjang. Komunikasinya dengan Pak Harto juga sudah tidak lancar. Dia sudah jenuh. Dia banyak zikir dan tasawuf
Bagaimana Pak Harto mengelola dua orang yang sangat dekat dengan dirinya tetapi mempunyai friksi tajam satu sama lain?
Friksi di inner circle kekuasaan itu terjadi di setiap zaman. Alamiah. Dalam mitologi Yunani ada. Dalam sejarah Singasari, Majapahit, Mataram juga pertarungan di inner circle sangat dahsyat.
Yang saya lihat, Pak Harto membiarkan itu sepanjang tidak meluber keluar. Yang menjadi masalah adalah kalau konflik itu meluber keluar sampai terjadi bakar-bakaran seperti Malari.
Dalam kasus Malari, Sumitro tahu diri dan mundur. Kemudian Pak Harto membuat keseimbangan dengan membubarkan Aspri.
Seberapa penting friksi dan konflik di dalam tubuh kekuasaan bagi seorang presiden? Apa manfaatnya?
Kalau persaingan itu positif, kompetisi yang positif, tentu ada manfaat. Tetapi harus beretika dan tidak menimbulkan kerusuhan.
Apakah Pak Harto justru memanfaatkan konflik di antara anak buahnya dan memperoleh sesuatu yang baik dari situ? Ada cerita yang bisa menjadi lesson learned?
Saya kira kalau kompetisinya menghasilkan kebaikan, memang seharusnya begitu. Misalnya antara Habibie dan Wijoyo.
GBHN waktu itu menempatkan pertanian sebagai salah satu prioritas dan juga industri pertanian. Tetapi ketika ada uang dari sektor migas, Pak Harto memanggil Habibie untuk mengembangkan industri teknologi strategis. Itu semacam leapfrog. Ada perbedaan orientasi dengan pemikiran Wijoyo, tetapi tidak sampai menjadi ledakan karena perilaku tokoh-tokoh tadi tidak menimbulkan konflik terbuka yang destruktif.
Dalam demokrasi hari ini, kita mengenal orang yang menjadi persona non grata, dikandangkan, atau ditertibkan karena tidak sesuai dengan pimpinan. Dari cerita Pak Bambang, ternyata ada orang yang memilih keluar karena mengatakan, saya sudah cukup, kamu tidak bisa menjadi panutanku lagi. Ada pride di situ. Apa yang membedakan orang yang menyingkir karena prinsip dan harga diri dengan orang yang menjadi persona non grata?
Kalau pemimpin mempunyai masa yang panjang, tim juga harus terus disegarkan.
Tim pelaksana operasional harus selalu fresh. Tetapi tim pemikir bisa bertahan lebih lama. Politbiro boleh setua apa pun. Operasional harus mempunyai rasa lapar, dinamika, dan kekuatan muda. Dalam bahasa lain, harus ada fresh blood.
Pak Ali Murtopo dan Pak Beni juga mengalami pergantian. Pak Ali pernah dicopot, tetapi kemudian diangkat menjadi Menteri Penerangan pada 1983. Tahun 1988 dicopot dan diberi posisi di DPA. Memang Pak Ali sempat sakit hati.
Saya pernah dipanggil Pak Ali untuk bergerak, untuk mengingatkan Pak Harto mengenai janji bertiga. Dulu di Diponegoro, Pak Harto, Pak Yoga, dan Pak Ali pernah berjanji bahwa mereka bertiga akan selalu bersama dan saling mengisi. Tetapi dalam politik, janji sering tidak bertahan.
Pak Yoga sendiri tidak mau ikut berbaris untuk mengejar posisi. Bahkan ketika Pak Ali meminta saya menyampaikan sesuatu kepada Pak Yoga, Pak Yoga mengatakan jangan sampai dia dianggap ambisius atau ingin menjadi wakil presiden. Dia mengatakan sudah bersyukur dengan hidupnya.
Kalau Pak Ali Murtopo dipindahkan ke posisi yang lebih tinggi tetapi sebenarnya kehilangan pengaruh operasional, itu seperti dikandangkan?
Bisa dikatakan begitu. Pak Harto selalu berusaha memberikan tempat kepada orang-orang yang setia. Tetapi tidak selalu orang tersebut mau menerima.
Kalau orang mau menikmati hidup, menjadi duta besar juga tidak masalah. Duta besar tetap dihormati secara protokoler. Tetapi orang-orang seperti itu kadang tidak mau ditempatkan di negara-negara yang sangat sibuk karena mereka merasa pergeseran tersebut tetap merupakan kehilangan posisi.
Seperti yang ditulis Pak Salim Said, Pak Beni juga merasa sedih ketika jabatan Panglima ABRI dicopot dan kemudian hanya menjadi Menteri Pertahanan yang tidak mempunyai komando pasukan. Itu menyakitkan bagi orang yang sebelumnya memegang kekuasaan operasional.
Apa yang membuat Pak Beni yang merupakan teman Pak Yoga kemudian berada dalam situasi yang berbeda?
Saya dekat dengan Pak Yoga pasca-Malari. Saya sering ikut beliau dalam perjalanan dan pertemuan. Saya juga pernah mengingatkan agar jangan bermain-main dengan membuat kasus-kasus antaragama.
Masalah agama jangan dijadikan test case untuk macam-macam. Jangan diusik. Kalau meledak, dampaknya luas.
Memang dulu ada upaya seperti itu?
Kalau dipelajari, pada awal Orde Baru tokoh-tokoh Islam dari berbagai kelompok direkrut untuk memperkuat Golkar. Tetapi orang yang direkrut juga kadang memanfaatkan keadaan.
Waktu itu komunikasi belum luas. Jalan juga belum terbuka seperti sekarang. Telepon sangat sulit. Tahun 1976, ketika saya tinggal di Perumnas Depok, telepon saja harus melalui kantor telepon. Kita minta disambungkan, lalu membayar. Belum ada telepon otomatis seperti sekarang.
Karena komunikasi sulit, potensi penyalahgunaan kewenangan menjadi tinggi. Kelompok-kelompok garis keras juga mempunyai potensi friksi yang tinggi.
Saya mengenal lingkungan itu karena tinggal di Tanah Abang. Di sekitar kompleks yang sekarang dikenal sebagai kawasan CSIS, dulu terdapat kantor Opsus. Ada tokoh-tokoh garis keras yang ketika datang ke Jakarta tinggal di sana. Saya mengenal beberapa tokoh dan mengetahui bagaimana mereka digarap.
Potensi penyimpangan tinggi. Itu seperti bermain api. Saya mengingatkan Pak Yoga. Kebetulan Pak Yoga lahir di Kauman. Karena itu konsentrasi penggalangan kemudian lebih diarahkan ke ekonomi dan teknologi. Pak Beni menyukai teknologi.
Setelah tahun 1990, ketika Pak Yoga dan Pak Beni sudah tidak memiliki pengaruh seperti sebelumnya, Pak Harto justru semakin dekat dengan kelompok Islam. Pak Harto naik haji dan kemudian muncul kesan Islamisasi Soeharto. Bagaimana Bapak melihatnya?
Dari sisi regenerasi, itu juga alamiah. Pak Beni digantikan Pak Tri. Pak Tri memang pintar. Dia orangnya baik dan bisa dekat dengan banyak pihak.
Muncul generasi baru seperti Pak Tri, Hartono, dan yang lain. Mengapa Pak Harto dianggap baru menjadi Islam pada 1990? Karena orang tidak melihat masa kecilnya.
Pak Harto sejak remaja berguru kepada Kiai Dariatmo. Beliau pernah sekolah di Muhammadiyah. Ketika kecil juga ngenger di rumah Kiai Dariatmo, seorang guru ngaji yang mempunyai musala. Pada masa itu musala dan masjid belum sebanyak sekarang. Pak Harto belajar mengurus pertanian sekaligus belajar agama.
Kiai Dariatmo juga terkait dengan tradisi tasawuf. Guru-guru tasawuf dan mursyid pada masa itu sering didatangi orang untuk meminta doa dan pengobatan. Karena itu, kalau setelah 1990 Pak Harto lebih terbuka mengekspresikan Islam, sebenarnya tidak mengagetkan. Itu seperti kembali ke titik awal.
Tetapi sebelumnya Pak Harto dianggap mempromosikan sekularisme dan tidak mengizinkan simbol-simbol keislaman diekspresikan secara terbuka.
Pak Harto sudah mendirikan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Memang tetap ada Pancasila di dalamnya. Tetapi setelah naik haji, ekspresi Islamnya menjadi lebih kuat. Ada konsekuensi politik. Muncul ICMI dan kedekatan dengan kelompok tentara yang disebut ABRI Hijau.
Orang-orang kepercayaan Pak Harto memang canggih. Pak Harto memberikan keleluasaan kepada orang-orang kepercayaan untuk mengelola politik sehari-hari. Intelijen juga bekerja.
Sejak 1980-an Pak Yoga sudah banyak mengolah pengendalian isu SARA. Tetapi mikro-politik tidak semuanya dikerjakan sendiri oleh Pak Harto. Orang-orangnya menjalankan banyak hal.
Kalau kita melihat pertarungan dan intrik di lingkar istana Pak Harto, meskipun ada relasi emosional, juga ada kompetensi di antara orang-orangnya.
Memang. Kalau kita melihat orang-orang di sekeliling Pak Harto waktu itu, banyak yang hebat.
Pak Harto menggunakan intelijen dan feeling untuk mencari pembantu. Ada Yoga, Ali Murtopo, Beni Murdani. Di bidang keamanan ada Sumitro, Sudomo. Ada Panggabean yang memiliki kemampuan merangkul banyak pihak.
Di bidang ekonomi ada Wijoyo, Ali Wardhana, Radius Prawiro, Sumitro Djojohadikusumo. Kapasitas mereka memang lain. Ada Hartarto sebagai teknokrat. Habibie lebih maju dalam teknologi, sementara yang lain mempunyai keahlian di bidang industri, pertanian, dan manufaktur.
Kita boleh tidak suka dengan Orde Baru, tetapi teknokrat yang bagus ketika itu memang banyak. Pemikir-pemikir hebat juga banyak.
Kalau sekarang calon-calon pejabat banyak datang melalui partai politik, mengapa kualitas seperti itu terasa berbeda?
Kembali kepada pemilu. Pemilu dipaksakan ketika waktunya belum tepat. Ketika kesenjangan sosial ekonomi dan pendidikan masih tinggi, peserta pemilu membeli suara, menyuap suara. Akhirnya rusak.
Ini yang kemudian menjadi konsep oligarki?
Ketimpangan merupakan salah satu basis oligarki. Ada juga apa yang saya sebut perang asimetris global. Tiga kekuatan yang disebut Bung Karno dalam Trisakti, budaya, ekonomi, dan politik, bisa dilemahkan.
Budaya kemudian dibuat individualistis, materialistis, narsistis. Egoisme menjadi tinggi.
Ketika Pak Harto mengumumkan kabinet, dulu orang hafal nama para menteri. Apakah ada nama yang menurut Bapak sebenarnya tidak pantas?
Itu mulai terjadi pada 1990-an. Sekitar 1993 saya mulai banyak kecewa. Misalnya Pak Mar’ie Muhammad. Dia bagus.
Saya pernah bepergian satu pesawat dengan Pak Mar’ie. Di pesawat ada seorang menteri yang duduk di sebelah Pak Mar’ie. Menteri itu meminta anggaran untuk membuat kegiatan.
Artinya dia tidak memahami prosedur dan mekanisme. Anggaran waktu itu sangat rigid. Harus masuk program kerja kabinet. Kalau sesuatu mendesak dan urgen, harus lapor presiden lebih dahulu.
Jadi karena mekanismenya tertib dan rigid, improvisasi seperti itu tidak dibenarkan?
Iya. Kalau presiden memerintahkan baru ada mekanisme untuk melaksanakannya. Pada 1993 sampai 1998, kualitasnya semakin turun. Termasuk munculnya orang-orang yang tidak lagi memenuhi ukuran kapasitas seperti sebelumnya.
Pak Bambang tadi mengatakan Pak Harto laku spiritualnya kuat, konsisten, dan konsekuen sehingga memiliki kepekaan. Apa yang membuat Pak Harto tidak tahu batas untuk mundur sehingga Reformasi 1998 memaksanya berhenti?
Dunia menggoda. Pesona dunia menutup kepekaan. Desakan orang-orang dekat juga berpengaruh. Ditambah kejenuhan. Kepekaan semakin lama semakin berkurang.
Usia sudah di atas 60, apalagi di atas 65. Pada usia seperti itu sebetulnya seseorang lebih cocok menjadi penasehat dan pemikir, bukan terus berada di posisi eksekutif.
Kalau dalam cerita silat, pendekar tua turun gunung ketika keadaan kritis. Setelah musuh dikalahkan, dia kembali dan menyerahkan kepada yang muda. Tetapi kalau pendekar tua terus menjadi eksekutif, kepekaannya berkurang. Ketajamannya menurun.
Ada dua jenderal yang merupakan kerabat Pak Harto yang sayang kalau tidak dibahas. Pak Wismoyo dan Pak Prabowo. Apakah keduanya menjadi kekuatan bagi Pak Harto atau justru menambah liabilities dalam menjaga keseimbangan kekuasaan?
Pak Wismoyo tidak ada masalah sampai pensiun. Orangnya tidak mempunyai ambisi masuk ke pusat kekuasaan. Setelah pensiun dia menikmati hidup, aktif di olahraga, Koni, suka bernyanyi dan balapan.
Pak Prabowo berbeda. Dia mengalami kehidupan yang pasang surut dan cukup tajam. Sejak kecil hidup di luar negeri. Pada 1998 dia mengalami keadaan yang sangat berat, bahkan dalam tanda petik bisa disebut stateless atau diberhentikan dalam tanda petik.
Orang yang mengalami kompensasi-kompensasi kehidupan seperti itu wajar memiliki karakter tertentu.
Kalau melihat banyak buku, pada hari-hari terakhir Pak Harto sebelum mundur, hubungan dengan Pak Prabowo juga kurang baik. Sampai akhirnya terjadi perceraian dengan Mbak Titiek.
Dua-duanya kerabat, satu ipar dan satu menantu. Dua-duanya mempunyai kompetensi. Tetapi latar belakang kehidupannya sangat berbeda sehingga akhirnya memiliki dua ending yang berbeda.
Dalam buku Bapak ada pembacaan mengenai Pak Prabowo berdasarkan hari lahir, weton, wuku, dan sebagainya. Bagaimana menjelaskan ini?
Saya menulisnya berdasarkan primbon Jawa. Itu bukan ramalan. Primbon adalah bacaan potensi diri. Kelebihan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Potensi itu tidak otomatis menjadi kenyataan. Kalau kelebihannya bagus, harus diperjuangkan. Kalau ada kelemahan, harus disadari, dikendalikan, dan diantisipasi.
Saya menulis tentang Pak Prabowo pada 2014, ketika beliau mencalonkan diri sebagai presiden. Tulisan itu sudah dimuat di website pada 2014.
Dalam pembacaan tersebut ada kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Salah satu kelemahannya disebut berkaitan dengan gengsi yang tinggi, kecenderungan senang dipuji, sehingga dapat membuka peluang dikelilingi penjilat dan dimanfaatkan penipu.
Jadi bukan prediksi bahwa hal itu pasti terjadi?
Bukan. Itu membaca potensi. Seperti medical check-up. Hasil pemeriksaan menunjukkan potensi atau kecenderungan, bukan kepastian masa depan.
Bapak mengatakan Pak Prabowo kurang cocok dengan posisi yang berkaitan dengan kekuasaan?
Kurang begitu cocok. Tetapi kalau dia berada di posisi itu karena kemauannya kuat, ketidakhati-hatian bisa membuat kekuasaan yang diperjuangkan dengan keras mudah hilang. Karena sekarang beliau sudah menjadi pemimpin negara, kehati-hatian menjadi penting. Itu tergantung beliau dan orang-orang dekatnya.
Jangan sampai ucapannya tidak ditata. Kebijakannya jangan sembarangan. Harus dikaji dengan teliti sebelum diumumkan. Pak Harto dulu juga begitu. Untuk kebijakan yang sensitif, beliau melakukan prakondisioning, test the water, dan social engineering.
Kalau melihat keadaan sekarang, apakah Pak Prabowo membutuhkan kehati-hatian lebih?
Saya tidak dekat dengan beliau. Saya pernah kenal, tetapi tidak dekat. Tahun 2022 saya pernah dipanggil dan diajak buka puasa. Tetapi saya tidak tahu apakah sekarang beliau masih ingat saya.
Jadi saya tidak tahu persis kehati-hatian beliau sekarang. Tetapi kalau melihat keadaan sekarang, saran saya lebih hati-hati, lebih sabar, pelan, dan dikaji.
Seorang pemimpin memang harus punya cita-cita besar. MBG dan Koperasi Merah Putih itu cita-cita besar. Itu gagasan gotong royong dalam pembangunan ekonomi.
Tetapi lakukan kajian akademis yang mendalam. Buat pilot project. Buat desain strategi besar. Kemudian bentuk tim dan seleksi orang yang benar-benar mampu melaksanakan. Jangan asal memilih pelaksana. Itulah kehati-hatian.
Bapak tadi mengatakan ada kontradiksi. Pemimpin harus hati-hati, tetapi kalau seseorang mempunyai kemauan besar, gengsi tinggi, dan senang dipuji, justru mudah dikelilingi penjilat. Bagaimana mengatasi itu?
Semua pemimpin di dunia mesti punya gengsi. Gengsi itu tidak selalu masalah. Kalau tidak punya gengsi sama sekali, orang juga bisa melecehkannya. Yang penting bagaimana mengelolanya.
Ada ajaran filosofis kepemimpinan dari Aristoteles. Seorang pemimpin yang hebat diibaratkan seperti burung rajawali yang dikelilingi burung-burung rajawali lainnya. Pembantunya juga harus mempunyai kualitas. Jangan dikelilingi burung pemakan bangkai. Itu penjilat dan penipu.
Tadi Bapak juga menyebut Nabi Muhammad?
Iya. Prinsipnya tidak jauh berbeda. Seorang pemimpin yang baik dikelilingi pembantu yang setia. Kalau pemimpin benar, mereka mendukung. Kalau pemimpin salah, mereka mengingatkan. Itulah yang penting.
Kalau primbon menyebut ambisi besar, gengsi tinggi, dan mudah dipengaruhi pujian, bukankah itu berbahaya bagi seorang pemimpin?
Itu potensi. Potensi tidak otomatis berjalan. Kalau kita sadar bahwa potensi tertentu tidak bagus, kita kendalikan. Jangan diaktivasi. Jangan dibiarkan lepas.
Orang yang percaya dan memahami primbon justru diharapkan mengenali kelemahan dirinya sehingga dapat mengendalikan dan mengantisipasinya. Kalau mengetahui peluang dan kelebihan, dia berusaha mewujudkannya.
Kalau melihat kasus terbaru, bagaimana dengan sikap kehati-hatian terhadap orang-orang di sekitar presiden?
Sikap kehati-hatian seperti dalam kasus Dadan itu diteruskan. Bahkan dilakukan sebelum seseorang diangkat. Background check, prakondisioning.
Kalau ada orang yang tidak baik dan kemudian ditindak, berarti potensi buruk tadi berhasil dikendalikan?
Betul. Itu contoh bahwa potensi tidak harus menjadi kenyataan. Kalau kita mengenali dan mengendalikan, bisa dicegah.
Kami pernah mendengar cerita dari para tetua bahwa Pak Harto melalui tangan-tangannya melakukan social engineering terhadap tokoh tertentu setelah background check. Misalnya calon menteri masih bujangan, lalu dicarikan istri agar lebih memahami kultur kekuasaan. Bahkan ada operasi khusus untuk penjodohan. Apakah itu benar atau mitos?
Saya tidak tahu persis. Saya pernah mendengar cerita seperti itu, tetapi saya tidak bisa memastikan.
Saya juga pernah mendengar cerita Pak Sarwono. Ketika akan diangkat menjadi menteri, katanya diberi deposito sekitar dua miliar oleh Pak Harto supaya tidak korupsi dan tidak macam-macam. Itu cerita yang disampaikan kepada saya.
Yang jelas, background check memang dilakukan.
Banyak kritik terhadap Orde Baru menyebut rezim tersebut otoritarian dan anti-demokrasi. Tetapi ada fakta lain, yaitu banyak teknokrat dan pemikir berkualitas yang lahir atau berkarier pada masa itu.
Kita bisa berdebat mengenai cara Pak Harto berkuasa dan melaksanakan kekuasaan. Tetapi sulit membantah bahwa orang-orang yang dipilihnya untuk menjalankan tugas-tugas teknokratik banyak yang top notch.
Tadi Bapak mengatakan orang yang mudah dipuji bisa dikelilingi penjilat. Pujian seperti apa yang menurut Bapak bisa melumpuhkan hati Pak Harto?
Tergantung jurusnya. Ucapan yang manis tidak selalu buruk. Tetapi pada masa awal sampai pertengahan 1970-an, pujian kepada Pak Harto tidak terlalu mencolok.
Yang mulai mencolok adalah gelar Bapak Pembangunan. Saya tulis juga di buku saya. Bapak Pembangunan itu bagian dari operasi intelijen Pak Yoga dan Pak Ali Murtopo. Tujuannya sekitar 1983 sampai 1985 supaya Pak Harto merasa sudah lengkap, puas, kemudian pada 1988 tidak maju lagi.
Diberikan tanda jasa tinggi, puncaknya dibuat sedemikian rupa agar Pak Harto merasa sudah selesai. Moksa. Sudah tahu wayah. Sudah tahu diri dan mundur.
Ada yang salah mengutip bahwa yang menciptakan itu Pak Darmono. Bukan. Menurut saya, Pak Yoga dan Pak Ali yang merancangnya, dan Pak Ali Murtopo sebagai Menteri Penerangan ikut menjalankan.
Tetapi kemudian ada kelompok menteri yang memanfaatkan pujian itu untuk mengangkat dirinya sendiri. Mereka terus memuji Pak Harto sehingga Pak Harto bisa lupa diri dan menganggap pujian itu sebagai kebenaran.
Akhirnya gelar diterima, masa jabatan ingin terus, dan dorongan untuk berhenti menjadi semakin lemah.
Sampai kemudian wajah Pak Harto dicetak di uang Rp50.000 dan diberi berbagai gelar?
Itu sudah berlebihan. Setelah Bapak Pembangunan, dosisnya naik. Pujian seperti itu memang mudah berkembang ketika pemimpin menyukainya.
Sekarang bagaimana dengan Pak Jokowi?
Saya menulis juga berdasarkan primbon. Pak Jokowi lahir Rabu Pon, 21 Juni 1961, dengan wuku dan pranata mangsa tertentu.
Dalam pembacaan itu, dia digambarkan mempunyai semangat dan daya kekuatan besar, rajin bekerja, gigih, disiplin, cerdas, mempunyai intuisi tinggi, pendengar yang baik, suka menolong, lapang dada, tahan menderita, pemaaf, dan cukup berwibawa.
Tetapi ada juga kelemahan. Keinginannya mudah tergoda sehingga berpotensi menghalalkan segala cara, cenderung boros, agak gegabah, dan kurang bisa membalas budi. Dalam pembacaan tersebut juga disebut kecenderungan berbohong dan tidak menepati janji. Itu semua kata primbon, bukan kata saya.
Tetapi ada kalimat yang menarik. Apakah Pak Jokowi akan kembali menjadi rakyat biasa?
Kalau beliau teguh dan konsisten, sebenarnya bisa. Tahu waktu, tahu diri, tahu angon wayah. Sudah selesai, cukup.
Tetapi orang yang tahu akan kalah biasanya berhenti. Bagaimana dengan orang yang rekornya menang terus?
Orang akan berhenti ketika dia tahu akan kalah. Kalau dia tidak merasa akan kalah, dia bisa terus melanjutkan.
Itu pembawaan orang. Tetapi kembali lagi, primbon membaca potensi. Orang Jawa yang memahami primbon seharusnya menggunakan pengetahuan itu untuk mengendalikan diri.
Kalau beliau tahu angon wayah, tahu waktu dan tahu keadaan, menurut saya kalau selesai dengan baik-baik, itu wisdom. Madeg Pandito. Serahkan kepada anak-anak, biarkan mengalir.
Politik Indonesia sekarang sudah banyak rusak. Trisakti juga sudah rusak karena perang global. Kita dibiarkan menjadi bangsa yang mudah dikendalikan kekuatan global.
Indonesia mempunyai posisi geoekonomi, geopolitik, dan geostrategis yang sangat penting. Sumber daya alamnya kaya. Kekuatan global mempunyai kepentingan terhadap Indonesia.
Kalau secara primbon, Bapak mengenal Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Bagaimana perbedaan mereka dalam mengelola orang-orang di sekitar?
Kalau Pak Prabowo, kemauannya besar dan gengsinya tinggi. Karena kepekaannya dan kemauan yang besar itu, dia mudah dikelilingi orang yang mengangkat-angkat dirinya, termasuk penjilat dan penipu.
Pak Jokowi juga mempunyai kelemahan. Dia ingin banyak hal dan cenderung mau melakukan apa saja at all cost. Dalam primbon disebut berpotensi menghalalkan segala cara, senang dengan milik orang lain, cenderung boros, agak gegabah, kurang bisa membalas budi, suka berbohong, tidak menepati janji, mudah khilaf, dan tidak peduli baik buruk.
Apa kebohongan pertama yang Bapak lihat ketika dia menjadi tokoh?
Mobil SMK. Saya tahu persoalan itu. Saya beberapa kali diajak oleh tim, termasuk ketika dia menjadi gubernur, untuk bergabung. Saya tidak mau karena saya melihat ada kebohongan.
Saya pernah menjadi wakil ketua tim ad hoc otomotif nasional. Kami membahas desain industri otomotif. Kunci utama industri mobil adalah mesin.
Kalau kita belum mempunyai pabrik mesin mobil, kita belum bisa mengatakan membuat mobil sendiri. Lalu Pak Jokowi mengklaim membuat mobil nasional SMK. Saya bertanya, mesinnya dari mana? Di situ saya mulai mempunyai keraguan.
Apa yang membedakan orang-orang dekat Pak Jokowi dan Pak Prabowo?
Orang di sekeliling kekuasaan sebenarnya mempunyai satu persamaan. Bukan hanya Pak Prabowo atau orang yang mempunyai weton tertentu. Siapa pun yang mempunyai kekuasaan atau harta benda banyak, mudah dikelilingi para penjilat. Itu sudah nature. Bukan hanya karena weton.
Pak Jokowi juga dikelilingi orang seperti itu. Perbedaannya adalah gaya dan watak. Pak Jokowi tidak meledak-ledak dan tidak konfrontatif. Pak Prabowo tampil seperti pasukan komando, lebih keras dan terbuka.
Cara membawakan diri itu memengaruhi sikap orang-orang yang berada di lingkarannya.
Dalam tulisan Bapak tahun 2014, bagaimana pembacaan hubungan Jokowi dan Prabowo?
Saya menulisnya pada 2014, bukan sekarang. Untuk Prabowo dan Jokowi, hubungan kerja sama yang serasi dan kokoh dalam tim akan terbentuk apabila keduanya bisa menghilangkan keengganan satu sama lain.
Prabowo dengan Yusuf Kalla kurang serasi dan berpotensi konflik. Jokowi dengan Yusuf Kalla serasi asalkan bisa menghilangkan jurang komunikasi.
Jokowi dengan Hatta Rajasa saya tulis paling ideal dan menguntungkan serta berpotensi bertahan. Tetapi itu tidak terjadi.
Untuk Prabowo dan Jokowi, saya tulis hubungan yang serasi dan kokoh dapat terjadi apabila keduanya mampu menghilangkan keengganan satu sama lain.
Bapak pernah mengatakan Pak Prabowo mempunyai watak yang berbeda karena pengalaman hidupnya. Bisa dijelaskan?
Saya pernah mengenal Pak Prabowo ketika beliau masih kolonel. Di buku Tonggak Orde Baru saya juga menyinggung hubungan Firanto dan Prabowo.
Ada satu pengalaman. Saya dan istri menghadiri undangan Pak Indro Piono. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Seseorang turun. Saya tidak memperhatikan. Ternyata Pak Prabowo. Dia mengatakan kepada saya, saya dipecat. Maksudnya dipecat dari Cendana.
Itu menjadi penutup salah satu bab tulisan saya.
Pada 2019, ketika beliau berkampanye, saya juga bertemu secara kebetulan di Sari Pacific. Saya sedang minum kopi di lobi. Rombongan beliau turun. Saya berdiri dan menyapa.
Pak Prabowo lewat, awalnya tidak memperhatikan. Tetapi beberapa langkah kemudian dia berhenti, kembali, dan memeluk saya. Artinya dia masih ingat. Saya siapa? Sudah lama tidak bertemu dan tidak berkomunikasi. Tetapi dia tetap menghargai pertemanan.
Tahun 2022 saya juga diundang buka puasa. Saya tidak tahu kenapa diundang. Sebelum pertemuan, saya diperkenalkan dan ternyata ada foto-foto saya dari Facebook yang sudah dikumpulkan oleh timnya.
Menurut saya itu menunjukkan dia menghargai pertemanan.
Tetapi dalam konflik elite sekarang, kalau Pak Harto dulu membiarkan konflik selama tidak meluber, bagaimana dengan Pak Prabowo?
Jejak langkah Pak Harto dan Pak Prabowo berbeda.
Pak Harto mempunyai pengalaman panjang sebagai kepala staf, pemimpin teritorial, dan memimpin pasukan teritorial. Beliau menguasai wilayah. Ada pengalaman Serangan Umum 1 Maret, menjadi Pangdam Jawa Tengah, Operasi Mandala Trikora, dan penumpasan berbagai pergolakan.
Pak Prabowo memang mempunyai pengalaman tempur, tetapi tidak pernah menjadi komandan teritorial seperti Pak Harto. Dia juga tidak melalui pengalaman sebagai kepala staf dengan pola yang sama. Itu membuat kebiasaan dan perilakunya berbeda. Cara menangani masalah juga tidak selengkap dan sekomprehensif Pak Harto.
Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu konflik politik sulit dihindarkan. Kalau pasukan Pak Prabowo, logikanya lebih dekat kepada tempur. Kalau ada lawan, sikat.
Dengan penjelasan Bapak tentang primbon, berarti kalau ada orang memuji Pak Prabowo, dia harus berhati-hati dan memverifikasi pujian itu?
Iya. Dalam nasihat hidup memang begitu. Kalau seorang pemimpin ada yang memuji, hati-hati. Di mana pun. Tetapi kalau ada yang mengkritik, jangan buru-buru marah.
Pak Harto juga tidak mudah dipuji. Meskipun akhirnya ada gelar Bapak Pembangunan, wajahnya dicetak di uang, dan diberi berbagai penghargaan, tetap ada prinsip bahwa yang manis jangan langsung ditelan dan yang pahit jangan langsung dimuntahkan.
Ada yang mengatakan bahwa kehilangan Bu Tien adalah kehilangan cakra. Apakah benar?
Kalau bicara soal wahyu, saya tidak berani. Saya tidak membicarakan wahyu. Tetapi dari dua hal saja, usia dan pengalaman, Pak Harto memang sudah sepuh dan jenuh.
Dari segi kehidupan, tidak ada lagi teman yang mengimbangi. Tidak ada teman yang sehati. Yang tersisa banyak anak. Orang yang bisa mengimbangi dan berani memprotes ya Bu Tien. Suami istri yang bisa menjadi oposisi satu sama lain.

Saya tadi memberi contoh ketika Pak Yoga bertengkar dengan Pak Beni. Bu Tien justru mendukung Pak Yoga. Dia datang dan mengatakan, Yoga benar, Pak. Itu menunjukkan bahwa Bu Tien peduli dan berani mengingatkan.
Ada juga cerita ketika Ishadi (Ishadi S.K.) “dibuang” Harmoko ke TVRI Yogyakarta. Ibunya Bu Tien senang menonton wayang orang yang dimainkan Ishadi. Dia bertanya kepada Bu Tien, mengapa Ishadi dibuang ke Yogyakarta? Kembalikan lagi ke TVRI Nasional. Itu bentuk kepedulian.
Jadi keberadaan orang yang berani menjadi oposisi internal justru membuat seseorang tetap sharp?
Iya. Orang yang sudah sepuh tetap membutuhkan orang yang berani mengingatkan.
Lebih dari dua jam kita berbincang. Sangat fun, fruitful, dan insightful. Sekali lagi, analisis SWOT berdasarkan primbon yang Bapak tulis bukan ramalan.
Betul. Saya tegaskan lagi, analisis SWOT primbon bukan ramalan. Kalau ingin membuktikan, silakan baca bukunya, Laku Spiritual Pak Harto: Indonesia dan Kejawen, Analisis SWOT Negara Ala Jawa. Ada. Hanya tidak semuanya dibaca dalam kesempatan ini.
Bambang Wiwoho. Wartawan Senior.
Sumber: Podcast Total Politik. https://www.youtube.com/watch?v=9v5Gt1aE2Q4
*naskah ini merupakan penulisan ulang substantif dari transkrip tayangan podcast, bukan murni transkrip verbatim. Adanya repetisi, salah dengar, filler, candaan yang tidak relevan, dan fragmen transkripsi dirapikan oleh tim redaksi. Sedangkan gagasan, alur argumentasi, contoh atau analogi, dan punchline utama tetap dipertahankan. Struktur pertanyaan host Total Politik Budi Adiputro dan Arie Putra serta jawaban narasumber Bambang Wiwoho disusun ulang agar koheren dengan percakapan aslinya di dalam podcast Total Politik.
