4 weeks ago
5 mins read

Air Mata di Atas Laut Ancol

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Saya pernah menonton sebuah film di bioskop. Judul dan ceritanya sudah lama saya lupa. Tetapi ada satu hal yang justru saya ingat sampai sekarang: iklan sebelum film dimulai.

Iklan itu adalah iklan kulkas Sharp. Yang menarik, iklan tersebut tidak menjual lamanya waktu pemakaian, bukan pula soal efisiensi listrik atau harga murah. Yang ditonjolkan justru sertifikat halal.

Saya kemudian berpikir: apa hubungan kulkas dengan sertifikat halal?

Iklan itu diputar di bioskop yang tentu saja bukan tempat murah untuk beriklan. Berarti ada perhitungan mengenai siapa yang menjadi sasaran. Saya kemudian menarik kesimpulan sederhana: ada pasar kelas menengah Muslim yang besar, dan mereka adalah konsumen yang menarik untuk dibidik.

Pikiran saya kemudian berjalan lebih jauh. Saya teringat demonstrasi 212. Hotel hotel di sepanjang Sudirman Thamrin penuh. Kawasan sekitar Monas juga dipenuhi orang. Saya teringat Masjid Kubah Emas di Cinere yang selalu ramai dikunjungi.

Lalu saya berpikir tentang Ancol. Kalau Ancol memiliki sebuah ikon wisata religi berupa masjid apung, bukankah itu bisa menjadi sumber pemasukan sekaligus daya tarik baru yang nilainya bahkan mungkin melampaui sejumlah wahana yang selama ini menjadi ikon Ancol?

Jakarta dan Jabodetabek memiliki puluhan juta penduduk. Di dalamnya ada kelompok perempuan, ibu ibu pengajian, kelompok arisan, komunitas keluarga, yang setiap bulan mencari tempat baru untuk dikunjungi. Mereka mencari destinasi, berfoto, makan bersama, berkumpul, sekaligus menjalankan kegiatan keagamaan.

Mengapa tidak Ancol menangkap pasar itu? Malam itu saya berpikir: bagaimana menjelaskan gagasan ini kepada direksi Ancol? Saya tidak ingin gagasan ini masuk ke ruang rapat sebagai semangat keagamaan. Saya ingin membicarakannya sebagai gagasan bisnis.

Ancol adalah perusahaan. Karena itu saya harus berbicara dengan bahasa perusahaan. Saya tidak menyampaikannya sekaligus dalam rapat. Saya mendatangi para direksi satu per satu agar kami bisa berbicara lebih panjang dan terbuka.

Saya mulai dari Pak Paul Tehusijarana, ketika beliau menjabat sebagai Direktur Utama. Saya jelaskan gagasan saya: Ancol perlu memiliki sebuah ikon baru. Bukan sekadar masjid, tetapi destinasi wisata religi yang mempunyai cerita, desain, pengalaman, dan nilai ekonomi.

Pak Paul mengatakan kurang lebih begini: “Saya setuju. Mari kita masukkan dalam agenda rapat direksi dan komisaris.”

Setelah itu saya berbicara dengan Pak Daniel Nainggolan, Direktur Keuangan. Sebagai orang keuangan, pertanyaan Pak Daniel tentu berbeda. “Berapa angkanya?”

Saya menjawab dengan yakin: “Tidak lebih dari Rp50 miliar.”

Pak Daniel heran. “Lho, kok bisa? Di Bandung saja membangun masjid sampai Rp1 triliun.”

Saya tertawa. “Pak Daniel, di Jakarta ini sudah ada sejuta masjid. Kita tidak sedang membangun masjid besar besaran. Kita sedang membangun masjid sebagai wisata religi.”

Saya membayangkan masjid itu cukup untuk sekitar 2.000 orang. Yang penting bukan ukurannya. Yang penting adalah cerita dan pengalaman yang ditawarkan.

Saya tidak ingin membangun sebuah masjid tanpa konteks. Saya ingin ada cerita tentang sejarah Jakarta, terutama sejarah Islam di utara Jakarta. Ada sejarah pelabuhan, perdagangan, perjumpaan berbagai bangsa dan kebudayaan. Ada cerita tentang Laksamana Cheng Ho, jalur perdagangan, Turki Usmani, dan perjalanan Islam yang berhubungan dengan sejarah Jakarta.

Masjid itu harus menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah. Karena itu saya meminta Syamsuddin Ch. Haesy, seorang sejarawan, untuk menulis sejarah Islam di Jakarta sebagai bagian dari gagasan tersebut. Dari gagasan dan narasi sejarah itulah kemudian Andra Matin menerjemahkannya ke dalam desain arsitektur.

Saya ingin masjid itu indah. Bukan indah karena kemegahan yang berlebihan, tetapi indah karena gagasannya. Pada 27 Maret 2019, pukul 11.35, keputusan pembangunan Masjid Apung di Ancol akhirnya diketuk.

Bagi saya, itu bukan sekadar keputusan pembangunan sebuah gedung. Itu adalah kemenangan sebuah gagasan. Setelah keputusan tersebut, saya terus mengikuti prosesnya. Saya berbicara dengan direksi lainnya satu per satu. Saya juga berbicara dengan para komisaris. Sengaja saya lakukan terpisah agar pembicaraannya benar benar menjadi diskusi, bukan sekadar persetujuan formal.

Pada November 2019, pembangunan Masjid Apung memasuki tahap ground breaking. Ketika itu semuanya terasa semakin nyata. Saya gembira. Saya mengikuti proses demi proses.  Saya membayangkan sebentar lagi bangunan itu akan berdiri di atas laut.

Tetapi kemudian datang sesuatu yang tidak pernah kami perhitungkan. Pandemi Covid-19. Ancol ditutup. Pendapatan tergerus. Perusahaan harus bertahan hidup. Proyek-proyek yang sebelumnya berjalan harus dihitung ulang.

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Jakarta Makin Keren

JAKARTA – Sesuatu yang dulu tak pernah terbayangkan. esuatu yang

Geisz Chalifah: Menjaga Nyala Melayu yang Nyaris Padam

JAKARTA – Publik lebih mengenal Geisz Chalifah sebagai sosok yang kerap
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88