Dan panggilan itu pun datang
Di tengah pergulatan batin itu, ia masih harus berdiri di depan kamera untuk menyampaikan laporan langsung dari Arafah.
“Saat live report saya benar-benar tidak kuasa menahan tangis. Di satu sisi saya harus menyelesaikan tugas, tetapi di sisi lain pikiran saya terus tertuju kepada ibu yang sedang kritis di rumah sakit,” tuturnya.
Barangkali hanya dirinya dan Allah yang mengetahui seberapa berat hari itu dijalani. Beberapa hari kemudian, kabar yang paling ia khawatirkan akhirnya benar-benar datang: ibunya berpulang.
Apa yang sejak awal ia takutkan sebelum berangkat akhirnya terjadi ketika dirinya masih berada di Tanah Suci.
“Saya sangat sedih dan terpukul. Apa yang saya takutkan sebelum berangkat benar-benar terjadi. Allah memanggil ibu saya ketika saya masih bertugas melayani tamu Allah,” tutur Ferdi lirih.
Sebagai anak, ia tidak sempat mengantar ibunya menuju tempat peristirahatan terakhir. Ia tidak ikut menyalatkan jenazah. Tidak pula mengiringi proses pemakaman sebagaimana yang selama ini ia bayangkan. Kesempatan terakhir itu harus ia relakan demi menyelesaikan amanah yang sedang diembannya.
Ferdi mengaku sempat bertanya dalam hati mengapa semua itu harus terjadi ketika dirinya berada begitu jauh dari rumah. Namun semakin lama berada di Tanah Suci, pertanyaan itu perlahan berubah menjadi keikhlasan.
“Semua sudah kehendak Allah. Saya hanya bisa berdoa agar ibu khusnul khatimah dan Allah menyiapkan tempat terbaik di sisi-Nya,” ujarnya.
Setelah wafatnya sang bunda dan lantas dimakamkan, pada saat itu pula Ferdi membadalkan beliau umrah. Ia berharap dengan umrah tersebut, jalan ibunya makin dilapangkan menghadap Allah dengan akhir yang baik.
Kepergian yang diantar doa
Sejak saat itu, setiap tempat mustajab yang ia datangi selalu menjadi tempat untuk menghadiahkan doa kepada almarhumah ibunya. Ia percaya, meski tak sempat mengantar jenazah sang ibu dengan langkah kaki, seorang anak masih bisa mengantarnya dengan doa yang dipanjatkan sepenuh hati.
Pengalaman itu menjadi titik balik dalam perjalanan hajinya. Ferdi datang ke Tanah Suci dengan bayangan bahwa tantangan terbesar adalah cuaca yang panas, aktivitas yang padat, dan rangkaian ibadah yang menguras tenaga. Kenyataannya, ujian yang paling berat justru datang dari dalam dirinya sendiri.
“Saya jadi sadar bahwa yang paling sulit bukan fisiknya, tetapi menjaga hati agar tetap ikhlas. Banyak hal yang dulu saya kejar ternyata tidak terlalu penting dibandingkan ketenangan hati. Yang akan kita bawa pulang bukan harta atau jabatan, tetapi amal dan kebaikan,” katanya.
Kesadaran itu semakin kuat ketika ia kembali menjalankan tugas melayani jemaah. Di antara ribuan orang yang ditemuinya, ada seorang jemaah perempuan lanjut usia yang wajahnya sangat mengingatkannya kepada almarhumah sang ibu.
Sejak pertemuan itu, setiap kali berjumpa, Ferdi selalu menyempatkan diri mendoakan perempuan tersebut hingga akhirnya kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat. “Rasanya seperti Allah sedang mengobati kerinduan saya kepada ibu.”
Musim haji segera berakhir. Satu per satu jemaah Indonesia kembali ke tanah air. Kesibukan di bandara perlahan mereda, begitu pula tugas yang selama hampir dua bulan dijalani Ferdi bersama para petugas lainnya.
Ia akan pulang dengan cerita yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Allah mengabulkan doanya untuk kembali ke Tanah Suci. Namun pada saat yang sama, Allah juga mengajarinya bahwa panggilan menuju Baitullah tidak selalu hanya berisi kebahagiaan.
Ada kalanya perjalanan itu menjadi jalan untuk belajar menerima kehilangan, memaknai pengabdian, dan mengikhlaskan sesuatu yang paling dicintai.
Karena itu, ketika diminta merangkum seluruh perjalanan hajinya dalam satu kalimat, Ferdi Setiawan tidak berbicara tentang tugas, jabatan, ataupun pengalaman melayani jemaah.
Ia hanya tersenyum, lalu berkata pelan, “Saya datang ke Tanah Suci bukan untuk menjadi orang yang lebih hebat, tetapi untuk pulang sebagai hamba yang lebih baik.”
