MADINAH – Di kawasan barat Masjid Nabawi berdiri sebuah bangunan sederhana yang kerap luput dari perhatian jemaah haji dan umrah. Padahal, tempat itu menyimpan sejarah penting perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Namanya Masjid al-Ghamamah, yang berarti awan.
Mutowif sekaligus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM) yang juga bertugas sebagai petugas MCH PPIH Arab Saudi 2026, Ibrohim Faddlanul Haq, mengatakan masjid tersebut dibangun untuk mengenang lokasi Rasulullah SAW memimpin sejumlah shalat di lapangan terbuka, termasuk Shalat Istisqa saat Madinah dilanda kemarau panjang.
“Kenapa masjid ini diberi nama Masjid Ghamamah? Jadi pada zaman Rasulullah SAW, area ini adalah lapangan yang sangat luas yang biasa digunakan oleh Beliau untuk melaksanakan shalat-shalat yang dilakukan di lapangan, seperti shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha, dan shalat Istisqa,” jelas Ibrohim.
Menurutnya, ketika Madinah mengalami masa paceklik yang berat, para sahabat meminta Rasulullah SAW memohon hujan kepada Allah SWT. Rasulullah kemudian mengajak mereka berkumpul di lapangan tersebut untuk melaksanakan Shalat Istisqa.
Usai shalat, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah dan berdoa. Tak lama kemudian, langit yang semula cerah berubah mendung. Sekumpulan awan datang dan menurunkan hujan yang membasahi Kota Madinah.
“Dari situlah diberi nama masjid ini dengan Masjid al-Ghamamah atau awan mendung,” katanya.
Ibrohim menjelaskan, pada masa Rasulullah SAW lokasi tersebut belum berupa masjid. Tempat itu hanyalah lapangan terbuka yang digunakan untuk Shalat Idul Fitri, Idul Adha, hingga Shalat Istisqa.
Bangunan masjid baru didirikan beberapa dekade kemudian pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tujuannya bukan membangun tempat ibadah baru, melainkan menandai lokasi-lokasi bersejarah yang pernah digunakan Rasulullah SAW untuk melaksanakan shalat.
Masjid al-Ghamamah juga memiliki kaitan dengan peristiwa penting lain dalam sejarah Islam. Di lokasi itu, Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat gaib untuk Raja Habasyah atau Najasyi, pemimpin yang memberikan perlindungan kepada kaum Muslim saat hijrah pertama dari Makkah.
Tak jauh dari Masjid al-Ghamamah berdiri dua masjid lain, yakni Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq dan Masjid Ali bin Abi Thalib. Menurut Ibrohim, kedua masjid itu dibangun di lokasi yang pernah digunakan masing-masing khalifah untuk memimpin Shalat Idul Fitri, Idul Adha, dan Shalat Istisqa pada masa pemerintahannya.
Ia menegaskan, penamaan ketiga masjid tersebut bukan berasal dari sosok yang membangunnya. Seluruh bangunan itu justru didirikan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
“Jadi yang membangun ini adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Adapun penamaannya itu diberi nama sesuai dengan kejadian yang terjadi di situ. Seperti Abu Bakar as-Siddiq shalat di situ, Ali bin Abi Thalib shalat di situ, dan Rasulullah SAW shalat di lokasi ini,” tutur Ibrohim.
Hingga kini, ketiga masjid tersebut tetap berdiri di sekitar Masjid Nabawi sebagai penanda perjalanan sejarah Islam. Bukan hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga pengingat bagaimana ruang-ruang terbuka di Madinah pernah menjadi saksi ibadah, doa, dan kepemimpinan Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.*
