MADINAH – Musim haji selalu menghadirkan cerita yang berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian jemaah, perjalanan ke Tanah Suci menjadi penantian yang akhirnya terbayar setelah belasan hingga puluhan tahun menunggu. Bagi para petugas, musim haji justru menjadi waktu ketika mereka harus mendahulukan ribuan orang lain sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Di antara mereka, ada Ferdi Setiawan, seorang jurnalis yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Arab Saudi bukan hanya untuk berhaji, tetapi juga mengemban amanah sebagai Petugas Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Bandara.
Hari-harinya di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah dan Bandara Amir Mohammad bin Abdul Azis (AMAA), Madinah nyaris tak pernah benar-benar lengang. Sejak pagi hingga malam, ia bersama petugas lain mengikuti arus kedatangan dan kepulangan jemaah Indonesia, memastikan setiap informasi tersampaikan dengan baik kepada masyarakat di tanah air.
Bagi sebagian orang, tugas itu mungkin hanya sebatas pekerjaan jurnalistik. Namun bagi Ferdi, setiap hari yang dijalani di Tanah Suci adalah kesempatan untuk melayani tamu-tamu Allah dengan kemampuan yang ia miliki.
Ia tidak pernah membayangkan akan berada di posisi itu. Beberapa tahun sebelumnya, Ferdi dan istrinya telah mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji reguler. Seperti jutaan umat Islam Indonesia lainnya, mereka bersiap menunggu antrean panjang yang diperkirakan baru akan berakhir pada 2034.
Penantian itu tidak pernah ia keluhkan. Baginya, panggilan ke Baitullah bukan semata soal nomor porsi, melainkan sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.
Keyakinan itu semakin menguat ketika pada pengujung 2024 ia berkesempatan menunaikan ibadah umrah bersama putra sulungnya. Di depan Ka’bah, di tengah lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, Ferdi memanjatkan doa yang sangat sederhana.
Ia berharap Allah kembali memperkenankannya datang ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Tidak ada target waktu, tidak ada syarat apa pun. Ia hanya menitipkan harapan itu kepada Sang Pemilik Baitullah.
Doa serupa rupanya juga dipanjatkan sahabatnya sesama jurnalis, Aiman Witjaksono. Saat berada di Multazam, Aiman mendoakan agar Ferdi segera mendapat kesempatan berhaji. Ketika mengingat kembali momen itu, Ferdi selalu merasa bahwa ada banyak doa yang bekerja dalam diam, jauh sebelum dirinya menerima kabar sebagai petugas haji.
“Rasanya seperti tidak percaya. Saya pernah berdoa saat umrah agar bisa kembali ke Tanah Suci. Mas Aiman juga mendoakan saya di Multazam. Ketika akhirnya benar-benar berada di sini, saya hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah,” kenangnya.
Kesempatan itu datang bukan melalui jalur yang selama ini ia bayangkan. Setelah bergabung sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Sinpo TV dan Sinpo.id, namanya dipercaya menjadi bagian dari Media Center Haji. Penugasan itu sekaligus menjadi jawaban atas doa yang pernah dipanjatkannya beberapa bulan sebelumnya.
Ferdi melihat semua itu bukan sebagai kebetulan. Ia percaya Allah selalu memiliki cara sendiri untuk mempertemukan seorang hamba dengan rumah-Nya. Terkadang jalan itu datang melalui antrean panjang, terkadang melalui pengabdian.
Seorang lelaki biasa
Keyakinan seperti itulah yang selama ini menjadi pegangan Ferdi dalam menjalani hidup. Di luar pekerjaannya sebagai jurnalis, ia mengaku tidak memiliki kisah yang istimewa. Paginya dimulai dengan mengantar dua anak perempuannya ke sekolah, sementara putra sulungnya menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Banten.
Setelah itu, ia memimpin aktivitas redaksi, mengajar mahasiswa komunikasi di Universitas Dian Nusantara Jakarta, lalu pulang untuk kembali menjadi suami dan ayah bagi keluarganya.
“Tidak ada yang spesial dari saya. Saya hanya menjalani kehidupan sederhana, bekerja, mengurus keluarga, mengajar, dan berusaha menjalankan kewajiban sebaik mungkin,” ujarnya.
Di tengah kesibukan itu, ada tiga prinsip hidup yang selalu ia pegang. Pertama, menjaga silaturahmi tanpa membedakan siapa pun. Kedua, tidak pernah meremehkan orang lain. Ketiga, berbuat baik tanpa menghitung untung rugi. Ketiga prinsip itu sederhana, tetapi justru menjadi fondasi yang membentuk perjalanan hidupnya selama bertahun-tahun.
“Saya percaya silaturahmi akan menambah berkah dan rezeki. Jangan pernah meremehkan orang lain, karena di hadapan Allah semua sama. Siapa pun yang kita temui harus dihargai,” katanya.
Ia tidak pernah menghitung apakah prinsip-prinsip itu akan membawanya ke mana. Namun ketika akhirnya dipercaya menjadi petugas haji, Ferdi merasa semua perjalanan hidupnya seperti dirangkai menjadi satu.
Pengalaman sebagai wartawan, kebiasaannya bertemu banyak orang, hingga keyakinannya untuk selalu menjaga hubungan baik dengan siapa pun, perlahan menemukan maknanya di Tanah Suci.

