2 months ago
9 mins read

Kisah Petugas Haji: Ketika Allah Memanggil Dua Kali

Ferdi Setiawan, anggota MCH 2026 Daker Bandara. (Foto: MCH 2026)

Pamit yang tak mudah
Akan tetapi, di balik rasa syukur karena doanya dikabulkan, ada satu kegelisahan yang tidak pernah benar-benar hilang sejak ia meninggalkan Indonesia. Dua orang yang paling berjasa dalam hidupnya tidak berada dalam kondisi sehat ketika ia berangkat menuju Arab Saudi.

Kegelisahan itulah yang diam-diam selalu ikut menemaninya setiap kali menjalankan tugas di Tanah Suci.

Ferdi sadar, keputusan berangkat ke Tanah Suci tahun ini bukanlah keputusan yang ringan. Jika hanya memikirkan dirinya sendiri, mungkin ia akan berangkat dengan hati yang tenang. Namun sebagai seorang anak, pikirannya terus tertuju kepada kedua orang tuanya yang sedang berjuang melawan sakit.

Sang ayah telah memasuki usia senja dan menderita demensia. Ingatannya tak lagi sekuat dulu. Ada kalanya ia sulit mengenali keadaan di sekitarnya, bahkan tak mampu mengendalikan kondisi fisiknya sendiri. 

Sementara sang ibu terbaring lemah akibat komplikasi penyakit dan membutuhkan perawatan intensif. Setiap kali melihat kondisi keduanya, Ferdi menyadari bahwa waktu bersama orang tua tidak akan bisa diputar kembali.

Karena itulah, momen berpamitan sebelum berangkat menjadi salah satu kenangan yang paling sulit ia lupakan. Ia bersimpuh di hadapan ayahnya, mencium tangan lelaki yang telah membesarkannya dengan segala keterbatasan. Di hadapan sang ibu, ia mencoba menyembunyikan kegelisahan yang terus berputar di dalam kepala. 

Sebagai anak, ia ingin tetap berada di rumah, menemani kedua orang tuanya melewati masa-masa yang tidak mudah. Namun sebagai petugas haji, ia juga memahami bahwa kesempatan itu adalah amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya.

“Saat pamit kepada ibu, sedih dan berat sekali yang saya rasakan. Saya berharap masih bisa merawat dan menemani ibu di masa tuanya. Sebelum pergi, saya titipkan ibu kepada kakak saya yang merawat, sementara saya hanya bisa terus berdoa semoga Allah masih memberi kesempatan untuk bertemu lagi setelah tugas ini selesai,” tuturnya.

Keberangkatan itu pada akhirnya menjadi pelajaran pertama tentang tawakal. Ferdi menyadari ada banyak hal yang tidak lagi berada dalam kendalinya. Ia hanya bisa mempercayakan kedua orang tuanya kepada keluarga di rumah dan menitipkan mereka kepada Allah SWT.

Dering telepon pembawa cemas
Perasaan itu terus ia bawa hingga tiba di Tanah Suci. Di sela-sela kesibukannya sebagai petugas media, telepon genggam hampir tak pernah jauh dari genggaman. Bukan karena ia khawatir tertinggal informasi mengenai pelayanan jemaah, melainkan karena menunggu kabar dari rumah. 

Setiap kali telepon berdering, ada kecemasan yang diam-diam muncul. Ia selalu berharap suara di seberang sana membawa kabar bahwa kondisi kedua orang tuanya membaik.

Di luar kegelisahan itu, Ferdi berusaha menikmati setiap kesempatan berada di Tanah Suci. Ia menyelesaikan umrah wajib, berdoa di depan Ka’bah, bersimpuh di Raudah, dan menyaksikan jutaan manusia datang dengan tujuan yang sama. 

Semakin lama berada di Makkah dan Madinah, semakin ia menyadari bahwa perjalanan haji bukan hanya soal menyempurnakan rukun Islam kelima, tetapi juga perjalanan untuk mengenali diri sendiri.

“Saya merasa Allah benar-benar mengundang saya ke rumah-Nya. Di depan Ka’bah saya merasa sangat kecil, tetapi sekaligus sangat dekat dengan-Nya.” 

Setiap selesai shalat, doa-doanya hampir selalu sama. Ia memohon agar kedua orang tuanya diberi kesehatan, istrinya diberi kekuatan mengurus ketiga anak mereka selama ia bertugas, dan seluruh keluarganya senantiasa berada dalam lindungan Allah. 

Baginya, berada di Tanah Suci adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan untuk menyebut nama-nama orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.

“Saya selalu mendoakan kedua orang tua, istri, anak-anak, dan orang-orang yang pernah membantu saya. Saya sadar, tanpa doa mereka mungkin saya tidak akan pernah sampai ke Tanah Suci,” ujarnya.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang nyaris sama. Melayani jemaah, menyelesaikan tugas jurnalistik, lalu menyempatkan diri beribadah ketika ada waktu luang. Semua berjalan sebagaimana mestinya hingga musim haji memasuki puncaknya.

Doa panjang di Arafah
Padang Arafah menjadi tujuan jutaan jemaah pada 9 Dzulhijjah. Di tempat itulah Ferdi kembali menengadahkan tangan. Ia tidak meminta harta, tidak pula memohon jabatan yang lebih tinggi. Di hadapan Allah, ia hanya ingin memohon ampun atas segala kekhilafan yang pernah dilakukan dan meminta agar keluarganya senantiasa dijaga.

“Saat wukuf saya membayangkan perjalanan hidup saya dari kecil sampai hari ini. Rasanya seperti melihat kembali seluruh kehidupan dalam satu waktu,” ucapnya. “Banyak dosa dan kekhilafan yang pernah saya lakukan. Saya memohon ampun kepada Allah dan meminta kesempatan menjadi orang yang lebih baik.”

Belum lama ia larut dalam doa, telepon dari Indonesia berdering. Panggilan itu mengubah seluruh perjalanan hajinya. Di layar telepon, wajah ibunya tampak semakin lemah. Tubuh perempuan yang selama ini menjadi tempatnya pulang terbujur di ranjang rumah sakit, sementara anggota keluarga telah berkumpul di sekelilingnya. 

Ferdi tidak mendengar banyak percakapan. Ia hanya menangkap satu pesan yang begitu berat diterima oleh seorang anak. Keluarganya meminta ia mengikhlaskan apa pun yang akan menjadi keputusan Allah. 

Beberapa saat Ferdi hanya mampu memandangi layar telepon. Jutaan manusia sedang menengadahkan tangan di Padang Arafah, tetapi pada saat yang sama pikirannya melayang jauh ke Indonesia. 

Ia ingin berada di samping sang ibu, menggenggam tangannya, atau sekadar menyampaikan bahwa dirinya sedang berusaha memenuhi amanah yang selama ini selalu didukung oleh kedua orang tuanya. Namun jarak ribuan kilometer membuat semua keinginan itu hanya tinggal harapan.

“Saya langsung termangu dan syok yang luar biasa. Sosok ibu yang luar biasa bagi saya sedang sakit tak berdaya, tetapi saya tidak bisa mendampingi atau sekadar memegang tangan ibu. Saya hanya bisa menangis dan terus mengucapkan tahlil serta istigfar sambil melihat wajah ibu dari layar telepon,” kenangnya.

Di Padang Arafah, Ferdi kemudian mengangkat kedua tangannya lebih lama dari biasanya. Di antara jutaan doa yang dipanjatkan para jemaah hari itu, ia menitipkan satu permohonan yang sangat sederhana.

“Saya berdoa kepada Allah agar ibu disembuhkan dan saya masih diberi kesempatan bertemu beliau setelah selesai bertugas.”

Harapan itu terus ia bawa hingga beberapa hari berikutnya. Setiap selesai shalat, nama ibunya selalu menjadi yang pertama ia sebut. Di depan Ka’bah, di Raudah, di Multazam, ia terus memohon agar Allah memberi kesembuhan kepada perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Namun sebagai petugas media, Ferdi tidak memiliki banyak waktu untuk larut dalam kegelisahan. Musim haji sedang memasuki fase paling sibuk. Informasi mengenai puncak ibadah harus terus dikirim ke Indonesia, sementara pelayanan kepada jemaah tetap berjalan tanpa henti.

Ferdi Setiawan berbincang dengan jemaah haji di bandara. (Foto: MCH 2026)

Komentar

Your email address will not be published.

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global
Go toTop

Jangan Lewatkan

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak

Kepuasan Jemaah Haji 2026 Tembus 91,45 Persen

JAKARTA — Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2026 mencapai 91,45
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88