Dalam kesehariannya, tenaga pendukung seperti Tohir bekerja dalam sistem shift 12 jam. Dua belas jam pertama untuk satu kelompok, dua belas jam berikutnya untuk kelompok lain. Namun jadwal itu tak selalu mutlak. Jika ada acara mendadak, rapat tambahan, atau kunjungan penting yang membutuhkan banyak tenaga, Tohir dan rekan-rekannya tak segan membantu shift lain.
“Kalau sekiranya membutuhkan banyak tenaga, kami tidak memandang shift. Kami ikut membantu teman-teman yang lain,” katanya.
Musim haji memang tak pernah memberi ruang terlalu banyak untuk bekerja dengan kaku. Yang dibutuhkan justru kelenturan, solidaritas, dan kesiapan untuk mengisi lubang di mana pun ia muncul.
Dari menteri hingga jemaah tersesat
Menurut Tohir, momen yang membutuhkan perhatian ekstra biasanya datang ketika ada kunjungan penting: Menteri Haji, Wakil Menteri, anggota DPR, atau tamu-tamu lain yang membuat suasana kantor mendadak tegang. Semua harus lebih rapi, lebih cepat, lebih siap.
“Kalau ada Menteri, Wamen, anggota DPR datang, suasana agak tegang,” katanya.
Tetapi yang paling membekas bagi Tohir justru bukan momen-momen seremonial itu. Bukan kunjungan pejabat, bukan pula rapat besar. Yang paling ia ingat adalah peristiwa kecil yang mempertemukannya langsung dengan jemaah.
Suatu ketika, saat ia bertugas di sektor, ada seorang jemaah perempuan yang lupa hotel tempat ia menginap. Perempuan itu kebingungan, tak tahu harus pulang ke mana. Tohir dan kawan-kawan lalu membantu mengantarnya sampai tepat ke depan kamar.
Setelah sampai, perempuan itu menangis. Ia menangis sambil mendoakan Tohir dan petugas yang menolongnya. “Itu yang membuat kami terharu,” ucapnya.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah satu kejadian kecil di tengah ribuan peristiwa selama musim haji. Namun bagi Tohir, momen seperti itulah yang membuat semua lelah terasa lunas. Di situ ia melihat bahwa pekerjaan di belakang layar pun pada akhirnya bermuara ke satu hal yang sama: menghadirkan rasa aman bagi jemaah.
Ada pula pengalaman lain yang membekas pada musim haji tahun ini, ketika ada jemaah tersesat lalu transit di Daker Madinah dan diberi snack atau makanan. Bagi Tohir, hal-hal seperti itu sederhana, tetapi justru sangat dekat dengan makna pelayanan. Jemaah yang bingung, lelah, dan terpisah dari rombongan tidak selalu membutuhkan hal besar. Kadang yang mereka butuhkan hanyalah tempat singgah, wajah yang tenang, dan sebotol air minum.
Seragam yang membuatnya bangga
Tohir tahu persis posisinya. Ia bukan pejabat. Ia bukan pemegang keputusan. Ia bukan pula tokoh yang namanya sering disebut dalam rapat-rapat besar. Ia hanya tenaga pendukung di bidang pramusaji dan kebersihan.
Namun ada satu momen yang selalu membuatnya merasa besar: ketika apel dimulai dan ia mengenakan seragam yang sama dengan petugas lain.
Bagi sebagian orang, seragam mungkin hanya pakaian kerja. Tetapi bagi Tohir, seragam itu seperti pengakuan diam-diam bahwa dirinya adalah bagian dari satu tugas besar negara. Bahwa apa yang ia kerjakan—meski “hanya” membersihkan, menyajikan minuman, mengangkat belanjaan, menyiapkan rapat, atau mengecek kamar—tetap merupakan bagian dari pelayanan haji Indonesia.
Ia menyebutnya sebagai bentuk pengabdian pada negara. “Meskipun sekadar kebersihan dan pramusaji, itu bagian dari abdi negara,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi diucapkan dengan keyakinan yang sangat utuh. Seolah Tohir ingin mengatakan bahwa pengabdian tidak selalu harus hadir dalam bentuk keputusan besar. Kadang pengabdian justru hadir dalam bentuk pekerjaan-pekerjaan yang paling jarang dilihat orang.
