Di mata sebagian orang, Sumur Ghars mungkin hanya sebuah sumur kuno yang tersisa di tengah kota modern. Tidak ada bangunan megah di atasnya. Tidak ada kubah besar atau kompleks luas yang mengelilinginya. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya istimewa.
Sumur Ghars mengingatkan bahwa sejarah Islam tidak hanya dibangun oleh peristiwa-peristiwa besar yang mengubah dunia. Sejarah juga hidup dalam ruang-ruang sederhana yang pernah menjadi bagian dari keseharian Rasulullah SAW.
Mutowif, Ibrohim Fadlannul Haq, menjelaskan bahwa Sumur Ghars merupakan sumur yang digali oleh seorang penduduk asli Madinah bernama Malik bin Nahhat, ayah dari sahabat Nabi, Sa’ad bin Khaitsamah.
“Sumur Ghars ini adalah sumur yang digali oleh seorang sahabat atau seseorang yang merupakan penduduk asli Madinah, namanya adalah Malik bin Nahhat. Beliau adalah bapaknya sahabat yang bernama Sa’ad bin Khaitsamah,” ujarnya.
Namun yang membuat Sumur Ghars begitu istimewa bukan semata karena usianya yang tua. Sumur ini memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan Rasulullah SAW.
Menurut Ibrohim, dalam sebuah riwayat Rasulullah pernah berpesan kepada Ali bin Abi Thalib terkait air dari sumur tersebut.
“Sumur ini sangat memiliki keterkaitan yang kuat dengan sejarah, terutama keterkaitan kuat dengan Rasulullah. Yang mana suatu ketika Rasulullah bersabda, memberikan pesan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, sepupu beliau: ‘Ya Ali, idza mittu faghsiluni bimiyahi min bi’ri, bi’ru Ghars.’ Wahai Ali, apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah jasadku dengan air dari sumurku. Sumur apa itu? Yaitu sumur Ghars.”
Pesan tersebut menunjukkan betapa dekatnya hubungan Rasulullah dengan sumur ini. Bahkan dalam riwayat tersebut Nabi menyebutnya sebagai ‘sumurku’. “Bahkan Rasulullah menyebutkan bahwa ini adalah ‘sumurku’. Jadi keterkaitan sumur Ghars dengan Rasulullah SAW itu sangat kuat sekali,” ungkapnya.
Bagi banyak peziarah, kata Ibrohim, Sumur Ghars memiliki daya tarik tersendiri. Madinah sendiri memang menyimpan banyak lokasi yang dalam tradisi Islam memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai spiritual.
“Ini adalah salah satu keutamaan dari sumur Ghars yang memiliki nilai sejarah yang sangat kuat dan keterkaitan yang kuat dengan Rasulullah,” ujarnya.
Mengapa banyak jemaah Datang?
Meski tidak termasuk lokasi yang wajib dikunjungi, Sumur Ghars tetap menjadi destinasi favorit sebagian jemaah Indonesia. Menurut Ibrohim, motivasi utamanya adalah kecintaan kepada Rasulullah SAW dan keinginan untuk mengenal lebih dekat jejak kehidupan beliau.
“Dengan berkunjungnya kita ke sumur ini kita menapak tilas sejarah Rasulullah,” ucpanya.
“Dan tentunya kita ingin melakukan apa yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah. Kita ingin meminum air yang pernah diminum Beliau, berwudhu dengan air yang pernah dijadikan wudhu oleh Rasulullah SAW.”
Ia menilai kecintaan jemaah Indonesia kepada Rasulullah menjadi alasan utama mengapa lokasi-lokasi bersejarah seperti Sumur Ghars terus didatangi.
Meski demikian, Ibrohim mengingatkan bahwa secara syariat tidak terdapat anjuran khusus dari Rasulullah untuk mengunjungi Sumur Ghars. Nilai utama tempat ini terletak pada aspek sejarah dan keteladanan, bukan sebagai lokasi ibadah yang memiliki keutamaan khusus untuk diziarahi.
Ia menjelaskan bahwa di Madinah hanya terdapat empat lokasi yang secara khusus dianjurkan untuk dikunjungi berdasarkan dalil syar’i, yakni dua masjid dan dua kompleks pemakaman.
“Dua masjid, masjid yang pertama adalah Masjid Nabi Muhammad SAW, Masjid Nabawi, yang pahalanya luar biasa. Kemudian masjid yang kedua adalah Masjid Quba. Yang dua lainnya adalah Makam Baqi dan Makam Syuhada Uhud. Ada anjuran khusus dari Rasulullah untuk mengunjungi dua makam tersebut,” jelas Ibrohim.
Sementara itu, lokasi-lokasi bersejarah lain di Madinah, termasuk Sumur Ghars, tetap boleh dikunjungi sebagai sarana mengenang perjalanan dakwah Rasulullah dan mengambil pelajaran dari sejarah Islam.
Di tengah geliat ribuan jemaah yang datang dan pergi dari Madinah setiap musim haji, Sumur Ghars tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Islam. Sebuah sumur sederhana yang menyimpan kisah tentang kedekatan Rasulullah SAW dengan kota yang menjadi rumah terakhir dakwah Beliau.*
