MAKKAH — Abdul Rahman Ahdori tidak pernah membayangkan akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci sebagai petugas haji. Setiap musim haji tiba, ia selalu menyimpan keinginan yang sama. Mendaftar menjadi petugas. Bukan hanya karena ingin beribadah, tetapi juga ingin ikut melayani jemaah Indonesia.
Keinginan itu akhirnya terwujud pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Setelah mengikuti seluruh tahapan seleksi, mulai dari pendaftaran, tes Computer Assisted Test (CAT) hingga pendidikan dan pelatihan, jurnalis Erakini.id itu dinyatakan lolos sebagai anggota Media Center Haji (MCH) dan ditempatkan di Daerah Kerja (Daker) Makkah.
“Sampai sekarang saya masih seperti mimpi bisa berangkat ke Tanah Suci untuk melayani para tamu Allah,” ucapnya.
Sebelum berangkat, Ahdori sudah memiliki gambaran seperti apa pekerjaan petugas haji. Ia sering menyaksikan video-video petugas pada musim haji sebelumnya. Ada yang mendorong kursi roda. Ada yang menggendong jemaah. Ada pula yang membantu membersihkan jemaah yang sakit.
Ia mengira semua petugas akan melakukan pekerjaan seperti itu. Sesampainya di Arab Saudi, ia baru memahami bahwa tugasnya berbeda.
Sebagai anggota Media Center Haji, pekerjaannya adalah meliput seluruh rangkaian penyelenggaraan ibadah haji, menyusun berita, lalu menyebarluaskannya melalui media tempatnya bekerja.
Setiap pagi kegiatan dimulai dengan apel, dilanjutkan pembagian rencana kerja operasional bersama Kepala Seksi Media Center Haji, sebelum seluruh tim bergerak ke lapangan mengikuti berbagai tahapan pelayanan jemaah.
Namun, ada satu hal yang sejak awal tetap dipegangnya. Jika di tengah liputan ada jemaah yang membutuhkan bantuan, maka pekerjaan itu harus didahulukan.
“Kalau memang mendesak misalnya saat liputan ada jemaah minta tolong, maka kita harus sigap untuk membantunya,” ujarnya.
Mungkin karena itu pula, Ahdori mengaku paling sering terenyuh ketika berhadapan dengan jemaah lanjut usia.
Setiap melihat lansia kelelahan atau kesulitan berjalan di Masjidil Haram, ia mengaku tidak mampu menahan haru.
“Secara umum, saya selalu sedih ketika melihat jemaah Indonesia berusia lanjut,” kata Ahdori.
Perasaan itu mencapai puncaknya ketika berada di Arafah. Saat berdoa, pikirannya tiba-tiba melayang kepada kedua orang tuanya.
Di tempat itu ia memohon agar Allah mengampuni dosa-dosanya dan memasukkan kedua orang tuanya ke dalam surga. Baginya, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling pribadi selama bertugas.
Ada banyak peristiwa yang masih diingat Ahdori setelah musim haji berakhir. Salah satunya terjadi di Masjidil Haram ketika ia membantu seorang jemaah yang terpisah dari rombongannya.
Jemaah asal Yogyakarta itu mengaku sangat terbantu dengan kehadiran petugas haji. Di sela-sela percakapan, perempuan tersebut bercerita tentang perjuangannya hingga akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci.
Belasan tahun ia menunggu giliran. Setiap hari ia menyisihkan sedikit uang belanja yang diberikan suaminya untuk ditabung sebagai biaya haji. Sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya tabungan itu cukup untuk melunasi biaya keberangkatan.
Cerita sederhana itu membekas dalam ingatan Ahdori. Ia kembali diingatkan bahwa hampir setiap jemaah membawa perjuangan yang tidak singkat untuk memenuhi panggilan berhaji.
Karena itu, menurutnya, kehadiran petugas bukan sekadar membantu menunjukkan arah atau memberikan informasi. Yang lebih penting adalah memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan tenang.
“Mendampingi dan mengarahkan jemaah agar bisa nyaman beribadah.”
Namun, melayani ribuan jemaah dengan latar belakang dan karakter yang berbeda juga menghadirkan tantangannya sendiri.
Ahdori mengaku pernah berhadapan dengan jemaah yang tidak tertib dan enggan mengikuti prosedur. Ada pula yang tiba-tiba meminta ditraktir dengan nilai yang menurutnya tidak masuk akal.
Jika menemui situasi seperti itu, ia memilih menjelaskan kembali aturan yang berlaku kepada jemaah.
“Bagi jemaah yang tidak tertib saya kasih edukasi tentang SOP yang harus ditaati oleh semuanya termasuk oleh jemaah haji,” katanya.
Pengalaman yang paling diingat justru datang dari peristiwa yang sama sekali tidak diduganya. Suatu hari, ia menghampiri seorang jemaah dan bertanya dengan maksud membantu.
“Mau ke mana?”
Alih-alih mendapat jawaban, jemaah tersebut justru menatapnya dengan mata melotot dan menjawab dengan nada tinggi. Ahdori mengaku sempat terpancing emosi. Bahkan, keduanya nyaris terlibat pertengkaran.
“Merasa tidak dihormatin, saya kembali marah, sampai-sampai hampir berantem. Untungnya saya langsung ingat soal Tanah Suci,” tuturnya.
Peristiwa itu menjadi pengingat baginya bahwa tantangan menjadi petugas haji bukan hanya soal tenaga. Lebih dari itu, ia harus belajar menahan diri.
Pelajaran yang sama kembali dirasakannya ketika bertugas di Jamarat. Saat itu, ia membantu tiga jemaah lansia menuju lokasi lontar jumrah. Rute yang panjang, kepadatan jutaan jemaah, serta kondisi fisik yang terus terkuras membuat tugas tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berat selama bertugas.
Ahdori mengaku hampir pingsan. Di tengah kelelahan itu, ia sempat mencari pertolongan kepada askar. Namun, ia justru diminta terus bergerak.
“Waktu di Jamarat memapah jemaah lansia sekitar tiga orang. Kelelahan hampir pingsan, cari pertolongan ketemu askar diusir-usir,” katanya.
Meski demikian, ia tidak pernah merasa ingin menyerah. Yang ia rasakan hanyalah lelah. “Kalau sampai menyerah tidak sih, hanya saja saya pernah merasa ingin pingsan saat harus bertugas di Jamara,” ujarnya.
Meski menghadapi kelelahan, Ahdori mengaku selalu berusaha memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat. Di tengah padatnya operasional puncak haji, ia masih bisa menjaga waktu tidurnya tetap normal agar tetap siap menjalankan tugas keesokan harinya.
Rutinitas itu terus berulang hingga musim haji berakhir. Ada liputan yang harus diselesaikan. Ada berita yang harus dikirim. Ada jemaah yang membutuhkan bantuan.
Jika bertemu jemaah yang tersesat, ia cukup memeriksa kartu Nusuk untuk mengetahui identitas dan rombongannya. Jika ada jemaah yang sakit, ia segera berkoordinasi dengan tim medis.
Pernah pula ia menemukan seorang jemaah yang terjatuh dari kursi roda di Masjidil Haram. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong jemaah tersebut menggunakan kursi roda menuju rumah sakit.
Di balik berbagai tugas itu, ada satu hal yang selalu membuatnya kembali bersemangat. Senyum para jemaah. Baginya, melihat jemaah tersenyum setelah mendapat pertolongan sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Apalagi ketika mereka mulai bercerita tentang perjalanan panjang yang telah ditempuh untuk bisa berhaji.
“Sebagai pelayan saya senang sekali kalau melihat jemaah bisa senyum lebar dan bercerita panjang tentang perjuangan mereka bisa ke Tanah Suci. Bagi kami, itu saja sudah cukup.”
Ucapan sederhana dari jemaah juga masih diingatnya hingga kini. “Terima kasih ya, Dek. Semoga hajat ade semua terkabul.”
Kalimat singkat itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi Ahdori, ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap bantuan sekecil apa pun memiliki arti bagi orang yang menerimanya.
Ketika ditanya pelajaran terbesar yang dibawa pulang dari Tanah Suci, Ahdori tidak berbicara tentang liputan, pengalaman berada di Makkah, atau kesempatan mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang selama ini hanya dilihatnya melalui media sosial.
Jawabannya justru sederhana. “Sabar dan kendalikan diri.”
Pengalaman itu pula yang mengubah cara pandangnya terhadap ibadah haji. Menurutnya, haji adalah ibadah fisik yang membutuhkan persiapan yang benar-benar matang. Karena itu, kepada keluarga jemaah di Indonesia, ia hanya ingin menyampaikan satu pesan.
“Selamat, ibu bapak Anda sudah berhaji dengan baik setelah melalui perjuangan luar biasa. Tak bisa dibayangkan begitu jauh jarak antar tempat ibadah, tapi semua bisa dilewati.”
Kini musim haji telah usai. Abdul Rahman Ahdori memang pulang membawa oleh-oleh berupa boneka unta untuk anaknya. Namun ada hal lain yang jauh lebih berharga yang ikut dibawanya pulang.
Pengalaman melayani ribuan jemaah membuatnya memahami bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar hadir ketika orang membutuhkan bantuan. Menjadi petugas juga berarti belajar tetap sabar ketika tenaga terkuras, tetap tenang ketika emosi terpancing, dan tetap mengendalikan diri dalam setiap keadaan.
Barangkali karena itulah, meski mengaku masih seperti bermimpi bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci, kenangan yang paling melekat baginya bukan hanya Makkah atau Jamarat. Melainkan pelajaran sederhana yang terus ia temukan selama melayani tamu-tamu Allah: sabar dan kendalikan diri.*
