MADINAH — Tidak banyak situs di Madinah yang memiliki hubungan begitu erat dengan seluruh fase kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. Sebagian tempat dikenang karena menjadi lokasi dakwah, sebagian lainnya menjadi saksi peperangan atau peristiwa besar dalam sejarah Islam.
Namun ada satu tempat yang memiliki keterkaitan yang lebih personal: sebuah sumur sederhana yang airnya pernah diminum Rasulullah SAW, digunakan beliau untuk bersuci, dan pada akhirnya dipakai untuk memandikan jasad beliau setelah wafat. Nama tempat itu adalah Sumur Ghars (Bi’r Ghars).
Bagi jamaah Indonesia, nama Sumur Ghars masih terdengar asing. Dalam paket-paket ziarah, lokasi ini jarang masuk daftar tujuan utama. Padahal, jika ditinjau dari kedekatannya dengan Rasulullah SAW, Sumur Ghars merupakan salah satu situs paling penting dalam sejarah Madinah.
Di tengah kawasan Al-Awali yang kini telah menyatu dengan perkembangan Kota Madinah modern, Sumur Ghars tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan kenabian yang membentang sejak masa-masa awal hijrah hingga detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah SAW.
Ada sebelum Nabi hijrah
Menurut catatan para sejarawan Madinah, Sumur Ghars telah ada jauh sebelum Rasulullah SAW tiba di Madinah pada tahun 622 M. Sumur ini berada di wilayah yang saat itu dihuni oleh kaum Anshar dan menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat setempat.
Sejumlah sumber menyebut sumur tersebut awalnya digali oleh Malik bin al-Nahhat. Pada masa Rasulullah SAW tiba di Madinah, sumur itu berada di lingkungan Sa’ad bin Khaitsamah, seorang sahabat Anshar yang memiliki peran penting dalam menyambut kedatangan kaum Muhajirin dari Makkah.
Wilayah Quba dan Al-Awali sendiri merupakan kawasan yang sangat dekat dengan fase awal pembentukan masyarakat Islam. Di kawasan inilah Rasulullah SAW membangun Masjid Quba, masjid pertama dalam sejarah Islam. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak situs bersejarah yang tersebar di wilayah tersebut, termasuk Sumur Ghars.
Sumur favorit Rasulullah
Keistimewaan Sumur Ghars tidak muncul karena peristiwa yang terjadi setelah wafat Nabi semata. Hubungan Rasulullah SAW dengan sumur ini sudah berlangsung selama masa hidup beliau.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW beberapa kali mendatangi Sumur Ghars. Beliau meminum airnya dan berwudhu menggunakan air yang berasal dari sumur tersebut.
Di tengah kondisi geografis Jazirah Arab yang kering, kualitas air merupakan hal yang sangat penting. Tidak semua sumur menghasilkan air yang layak diminum. Karena itu, ketika Rasulullah SAW secara khusus menggunakan air dari Sumur Ghars, para sahabat memahami bahwa sumur tersebut memiliki kualitas yang baik dan disukai oleh beliau.
Sebagian riwayat juga menyebut Nabi memuji air Sumur Ghars dan menyebutnya sebagai salah satu sumber air terbaik di Madinah. Meski demikian, para ulama hadis berbeda pendapat mengenai tingkat kekuatan sebagian riwayat tersebut.
Yang pasti, fakta bahwa Rasulullah SAW berulang kali menggunakan air Sumur Ghars merupakan bagian dari sejarah yang tercatat dalam berbagai kitab sirah dan sejarah Madinah.
Nama Sumur Ghars kemudian memperoleh kedudukan yang sangat istimewa karena sebuah wasiat yang disampaikan Rasulullah SAW menjelang wafat. Dalam sejumlah riwayat sejarah disebutkan bahwa Nabi SAW berpesan kepada para sahabat agar jenazah beliau dimandikan menggunakan air yang berasal dari Sumur Ghars.
Riwayat yang paling terkenal menyebut Rasulullah SAW bersabda, “Apabila aku meninggal dunia, mandikanlah aku dengan tujuh qirbah (kantong air) dari Sumur Ghars.”
Wasiat ini menjadi salah satu pesan yang kemudian dijalankan oleh keluarga dan para sahabat Rasulullah SAW setelah beliau wafat pada tahun 11 Hijriah.
Prosesi pemulasaraan jenazah Nabi dilakukan oleh orang-orang terdekat beliau, di antaranya Ali bin Abi Thalib RA, Abbas bin Abdul Muthalib RA, serta beberapa anggota keluarga dan sahabat lainnya.
Mereka mengambil air dari Sumur Ghars sebagaimana pesan Rasulullah SAW dan menggunakannya untuk memandikan jasad beliau sebelum dimakamkan di kamar Sayyidah Aisyah RA, lokasi yang kini berada di dalam kompleks Masjid Nabawi.
Peristiwa inilah yang membuat Sumur Ghars memiliki posisi yang tidak dimiliki sumur-sumur lain di Madinah.
Mata air surga?
Di kalangan masyarakat Muslim beredar sejumlah kisah mengenai keutamaan Sumur Ghars. Sebagian riwayat menyebut sumur ini memiliki hubungan dengan mata air surga. Ada pula riwayat yang menyebut Malaikat Jibril menunjukkan keberadaan sumur tersebut kepada Rasulullah SAW.
Namun para ulama hadis menegaskan bahwa riwayat-riwayat mengenai keutamaan tersebut memiliki tingkat kesahihan yang beragam. Sebagian dinilai lemah dan sebagian lainnya diperselisihkan.
Karena itu, mayoritas ulama lebih berhati-hati dalam menyikapi kisah-kisah tersebut. Yang dianggap paling kuat dan paling dapat dipertanggungjawabkan secara historis adalah fakta bahwa Rasulullah SAW menggunakan air Sumur Ghars dalam kehidupan sehari-hari dan secara khusus mewasiatkan agar airnya digunakan untuk memandikan jenazah beliau.
Tujuh sumur Nabi
Dalam tradisi sejarah Madinah, Sumur Ghars termasuk dalam kelompok yang dikenal sebagai Bi’ar an-Nabi atau “sumur-sumur Nabi”.
Kelompok ini terdiri dari sejumlah sumur yang memiliki hubungan langsung dengan Rasulullah SAW, baik karena beliau pernah meminum airnya, berwudhu dengannya, atau mendatanginya. Di antara sumur-sumur tersebut adalah Sumur Aris, Sumur Rumah, Sumur Budha’ah, Sumur Ha’, Sumur Bassa, Sumur Ehn, dan Sumur Ghars.
Namun jika ditinjau dari keterkaitannya dengan peristiwa wafat Rasulullah SAW, Sumur Ghars menempati posisi yang sangat khusus.
Selama berabad-abad, Sumur Ghars sempat kurang dikenal dibandingkan situs-situs ziarah utama lainnya di Madinah. Banyak jamaah bahkan melewati kawasan tersebut tanpa mengetahui bahwa di sana terdapat salah satu lokasi yang memiliki hubungan langsung dengan Rasulullah SAW.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Arab Saudi melalui berbagai program pelestarian situs sejarah Islam melakukan revitalisasi sejumlah lokasi bersejarah di Madinah, termasuk Sumur Ghars.
Area sumur diperbaiki, akses menuju lokasi ditata ulang, dan informasi sejarahnya mulai diperkenalkan kepada pengunjung. Upaya ini merupakan bagian dari proyek besar pelestarian jejak-jejak Sirah Nabawiyah agar dapat dikenali oleh generasi Muslim masa kini.

