JAKARTA – Awal tahun 1998. Saat itu adalah hari pertamaku bekerja sebagai jurnalis di Majalah Suara Hidayatullah. Sebuah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah. Majalah Islam yang cukup ternama dengan rerata tiras mencapai 150 ribu waktu itu. Pekan-pekan pertama sebagai wartawan, aku lebih banyak belajar. Saat bergabung dengan Sahid—demikian singkatan Suara Hidayatullah—aku baru saja menyelesaikan pendidikan diploma (D1) di Lembaga Studi Eksekutif (LSE) Surabaya jurusan Fotografi & Jurnalistik.
Aku sengaja tidak melanjutkan kuliah S1 usai merampungkan pendidikan menengah karena ketiadaan biaya. Berminat pada dunia jurnalistik, dan kebetulan sejak mondok di PM Gontor Ponorogo dulu sudah tertarik pada dunia kewartawanan, maka prioritas pendidikanku selanjutnya adalah sekolah jurnalistik. Dan kebetulan ada lembaga pendidikan di bidang ini di Kota Surabaya, Jawa Timur. Jadilah aku masuk LSE.
Mei 1998, kerusuhan meledak di berbagai penjuru Tanah Air. Segurat catatan kelam dalam sejarah negeri kala rakyat menumbangkan rezim Orde Baru. Hari-hariku dipenuhi dengan liputan dari pusat-pusat demonstrasi mahasiswa di seputar Kota Buaya. Mulai dari gedung-gedung pemerintahan, pusat niaga, dan kampus-kampus. Unjuk rasa mahasiswa yang berlangsung siang-malam itu turut memengaruhi ritme kerjaku.
Aku jarang ke kantor. Lebih banyak berada di lokasi demo, bahkan kadang menginap bersama mahasiswa. Dua kampus besar di Surabaya; Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair), menjadi pelopor aksi mahasiswa di Jawa Timur. Kedua kampus ternama tersebut jadi pusat koordinasi mahasiswa dalam aksi-aksi berkelanjutan.
Masa-masa itu merupakan salah satu bagian terpenting dalam perjalanan karierku sebagai wartawan. Sahid lebih banyak menugaskanku sebagai fotografer. Mereka menilai aku belum layak jadi reporter. Aku tak kecewa. Justru melecut semangatku untuk lebih giat lagi belajar menulis. Dua tahun berkiprah di majalah ini, aku keluar pada tahun 2000. Selanjutnya, aku menjajal peruntungan sebagai wartawan freelance.
Hampir tiga tahun lamanya aku melakoni kerja tanpa ikatan resmi, sambil mengembangkan usaha foto pengantin bersama teman-teman kuliah di LSE dulu.
Akhir 2003, aku melamar menjadi reporter di Koran Surabaya Sore. Koran ini merupakan pecahan dari Surabaya Post yang terkenal, sebuah koran kebanggaan warga Jawa Timur sebelum munculnya Jawa Pos. Setelah resmi bergabung dengan Surabaya Sore, aku ditugaskan meliput di kantor DPRD Jawa Timur dan kantor Gubernur Jawa Timur. Selain itu, kadang aku juga harus keliling Kota Pahlawan untuk mencari berita-berita features.
Tak sampai dua tahun bekerja di Surabaya Sore, aku pindah ke Jakarta sekitar akhir 2004. Mengadu nasib di Ibukota, menjadi reporter Majalah Sabili. Selain Sahid, Sabili termasuk majalah Islam terbesar di Tanah Air pada masa itu. Terbit dua pekan sekali, tiap hari Jumat. Banyak kalangan menilai majalah ini corong kelompok Islam radikal. Namun menurutku, Sabili tak jauh beda dengan media mainstream lain. Cuma ia sengaja memosisikan diri sebagai ‘pembela’ umat tanpa tedeng aling-aling. Sebuah pilihan yang tentu saja tak diminati sebagian kalangan.
Saat bekerja di Sabili aku berkesempatan keliling hampir ke seluruh pelosok Indonesia. Meliput berbagai jenis reportase, terutama yang berkaitan dengan dakwah Islam. Pengalaman liputan lapanganku kian matang. Aku kemudian lebih banyak meliput soal konflik dan terorisme.
Ada satu pengalaman paling menarik dalam karierku sebagai jurnalis, yakni saat aku berhasil menembus Lapas Nusakambangan, Cilacap. Bertemu Trio ‘Bomber’ Bali I, beberapa saat sebelum mereka dieksekusi. Aku masih ingat betul, hari itu Sabtu 30 Agustus 2008. Di hari yang ‘bersejarah’ itu aku berkesempatan menjenguk sang ‘Tiga Sekawan’ (Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera), dan berbicara empat mata dengan tiap orang dari ketiganya. Aku berhasil masuk ke Nusakambangan dengan menyamar sebagai sepupu Imam Samudera.
Bertemu Imam merupakan pengalaman paling berkesan di antara ‘tiga sekawan’ tersebut. Dengan sorot mata tajam, seolah-olah menembus jantung orang yang dihadapinya, mantan mujahidin Afghanistan ini banyak berbicara tentang jihad. “Akhi (saudaraku) jika ana (aku) jadi antum (engkau), maka ana sudah tidak berada di sini (Indonesia) lagi. Ana akan pergi ke Pattani, Palestina, Afghanistan, Irak, Kashmir, Moro, Chechnya, dan bumi jihad lainnya. Antum masih muda. Masih banyak jalan menggapai syahid,” ucapnya dengan nada tinggi, tegas, bergetar. Imam sangat ahli mengagitasi orang. Kepiawaiannya merangkai kata disertai mimik, gesture dan sorot mata tajam, seolah mampu membuat lawan bicaranya bertekuk lutut.
Selain konflik di Tanah Air, aku juga berkesempatan meliput ke Pattani, Thailand selatan, tak berapa lama setelah pertemuan dengan Imam Samudera. Liputan ke Thailand ini seolah menegaskan ‘ramalan’ si Imam. “Antum harus jihad ke Pattani…”
Saat itu, konflik antara umat Islam (Melayu) dengan militer Thailand sedang panas-panasnya. Berkat Sabili pula aku berkesempatan liputan di Jalur Gaza, Palestina. Bak mimpi yang menjadi nyata. Lagi-lagi seolah menegaskan kata-kata Imam Samudera di Nusakambangan, bahwa aku harus ke Palestina. Aku berangkat ke Gaza bersama rombongan Tim MER-C yang dipimpin dr Joserizal Jurnalis. Bersamaku ada Desi Fitriani dan Saduddin Mukhlis (Metro TV) dan Anton Saputra (TV One).
Akhir 2010, aku bergabung dengan Republika. Berkarier di media kebanggaan umat Islam ini tentu saja merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Aku tidak lantas masuk dalam jajaran redaksi koran, namun ditempatkan di laman daring; Republika.co.id atau ROL (Republika Online). Walau diamanahi tugas sebagai editor, aku juga diminta menulis beberapa artikel tentang Timur Tengah setiap hari. Aku sangat menikmati tantangan baru sebagai wartawan online ini. Tiap Ramadhan dan musim haji, aku diamanahi tanggung jawab mengelola Kanal Ramadhan dan Jurnal Haji. Di Republika, selain tugas pokok di ROL, aku juga ditugaskan ke koran. Bertanggung jawab mengelola rubrik Khazanah, khusus berita-berita keislaman.
Bertahun-tahun lamanya memegang rubrik Khazanah dan Jurnal Haji, memunculkan harapan besar di lubuk hati dapat liputan haji secara langsung di Tanah Suci. Sayang, harapan itu tak terwujud. Walau kadang sedih melihat teman-teman yang terpilih sebagai peliput haji, aku mencoba berbaik sangka. Allah SWT mungkin belum berkenan memanggilku saat masih berseragam Republika. Dan akhirnya, panggilan haji justru datang saat aku telah berkarier di media lain.
Awal 2016, aku keluar dari koran yang membesarkan namaku itu. Aku bergabung dengan MSN Indonesia. Sebuah portal berita kurasi hasil kolaborasi Microsoft dan PT Telkom. Di MSN, para editor hanya ditugaskan mengkurasi dan menyunting berita yang layak tayang. Kami tidak melakukan liputan di sini. Ketika kerja sama Microsoft-Telkom berakhir pada 2016, seluruh editor MSN diberi pilihan; tetap bergabung dengan MSN atau ikut membidani kelahiran situs berita yang akan dibangun Telkom lewat anak perusahaannya; PT Metranet. Aku memilih bergabung dengan Uzone.id, nama portal yang akan dikembangkan Metranet.
Sebenarnya, laman daring yang khusus menyajikan artikel-artikel musik, games, dan teknologi ini sudah lama berdiri. Namun belum digarap secara maksimal. Bos-bos Telkom ingin portal ini dibesarkan dan digarap lebih serius.
Keputusanku memilih Uzone.id karena masih ingin liputan di lapangan. Sebab, selama bergabung di MSN, aku tak lagi melakukan reportase. Hanya mengkurasi berita yang dipasok media partner. Selain kurasi, Uzone.id rencananya juga bakal diisi berita hasil liputan sendiri. Inilah alasan utamaku bergabung. Aku menemukan kembali gairah liputan di lapangan selama bekerja di Uzone.id. Namun—karena satu dan lain hal—aku harus meninggalkan media ini.

