3 years ago
32 mins read

Bersimpuh di Raudah, Sudut Sunyi Taman Surga

Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad)

Kisah Nenek di Mina
Sore usai salat Ashar, Amirul Hajj sekaligus Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin beserta rombongan keluar dari kantor Daker Mekkah menuju Jamarat untuk melempar Jumrah Aqabah. Kami sebagai Tim MCH turut serta dalam rombongan Menteri. Rombongan berjalan perlahan, menembus Terowongan King Fahd menuju Jamarat yang tak terlalu jauh dari lokasi kantor Daker.

Lalu-lintas jemaah tak seberapa ramai di terowongan. Jemaah Indonesia juga tak terlihat. Hanya beberapa jemaah dari negara-negara lain yang berjalan dari arah berlawanan. Sepertinya mereka telah selesai melontar jumrah. Di ujung terowongan, di bawah gedung Jamarat, suasana mulai ramai. Aku dan Moko berjalan menuju Jamarat di lantai tiga melalui eskalator. Begitu tiba di lantai tiga, kami bertemu arus jemaah Indonesia yang akan melontar Jumrah Aqabah. Mereka bergerak dalam barisan yang tertib, rapi, seragam. Sungguh membanggakan.

Usai melontar Jumrah, kami sempat mewawancarai beberapa jemaah dan mengambil gambar area Jamarat lantai tiga. Suasana begitu padat namun tertib. Jemaah yang telah melontar bergerak perlahan dan teratur menuju arah Terowongan Al-Mu’aishim. Berhubung ini pertama kali berada di Jamarat, kami sempat kebingungan harus bergerak ke mana? Aku meminta Moko (Sarmoko) menghubungi Khoeron via WhatsApp untuk meminta petunjuk jalan mana yang harus kami tempuh.

Saat menunggu balasan dari Khoeron, tiba-tiba datang seorang jemaah perempuan asal Makassar. Ia mengaku ditinggal rombongannya. Tak berapa lama kemudian, beberapa jemaah yang tersasar atau ketinggalan rombongan mulai mendekati kami, hingga terkumpul belasan orang. Begitu Moko mendapat kepastian dari Khoeron bahwa kami harus bergerak menuju terowongan, maka kami mengajak seluruh jemaah berjalan bersama menuju maktab di Mina.

Suasana yang padat merayap membuat pergerakan jemaah di terowongan agak tersendat. Menjelang Magrib, beberapa jemaah kelelahan dan rehat di pinggir jalan mulai terlihat di sejumlah titik. Aku dan Moko terpisah, demikian pula dengan jemaah yang jalan bersama kami. Sebagian telah bertemu rombongannya, sebagian lagi entah ke mana. Hanya beberapa meter usai memasuki Terowongan Al-Mu’aishim, aku melihat Khoeron yang sedang menolong jemaah perempuan di pinggir jalan.

Bersama lelaki yang biasa disapa ‘Pak Yai’ ini ada dua orang petugas kesehatan dan dua orang jemaah. Sepertinya dua orang jemaah ini adalah keluarga si ibu. Aku tak tahu pasti. Salah seorang petugas kesehatan itu adalah sosok yang kukenal; Suster Akfi. Suster yang bertugas di Daker Bandara bersamaku. Kami lantas membawa si ibu menuju pos kesehatan yang lumayan jauh dari lokasi. Berhubung tak ada kursi roda, Khoeron berinisiatif menggendong si ibu. Aku membantu menahan punggung ibu itu dari dari belakang untuk menjaga keseimbangan Khoeron saat berjalan.

Mengetahui bahwa dengan cara menggendong kurang efektif dan kondisi si ibu yang kian parah, akhirnya kami sepakat menggotongnya menggunakan kain ihram. Kain ihram ini milik dua jemaah yang menemani si ibu. Kami bersegera melanjutkan perjalanan sembari menyibak kerumunan dengan teriakan khas, “Thariq ya hajj, thariq ya hajj!” Arti bebasnya, “Tolong minggir, kasih jalan.”

Melihat adegan yang kami lakoni sepanjang terowongan, tiba-tiba seorang jemaah Turki menyerahkan kain ihramnya untuk kami gunakan. “Bentangkan di tengah tubuhnya (si ibu) dari bawah, pegang kain dari sisi kiri dan kanan,” ia menyarankan.

Lumayan, bantuan kain ihram dan saran jemaah Turki itu cukup ampuh mengurangi beban. Kami lantas bergegas menggotong si ibu hingga tiba di pos kesehatan darurat yang terletak di sebuah area kosong di tengah-tengah dua jalur Mina-Jamarat.

Usai mengantarkan si ibu yang langsung dirawat tim kesehatan, aku dan Khoeron berpisah untuk mencari dan membantu jemaah lain yang membutuhkan pertolongan. Begitu melangkah keluar dari posko kesehatan, tampak di depanku seorang nenek berjalan dengan langkah gontai. Ia baru saja mendapatkan perawatan di pos kesehatan, dan diperbolehkan pulang ke maktab. 

Jemaah haji asal Makassar ini tersasar dan ketinggalan rombongan. Aku menggandeng si nenek, berusaha mengantarkannya ke maktab yang ia tempati. Nenek 70-an tahun ini tak bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia. Kami berjalan dalam diam. Selingan percakapan hanya terucap lewat Bahasa Tarzan. Berdasarkan kartu yang terdapat di tas dokumen si nenek, ternyata ia tinggal di Maktab 10.

Aku sebenarnya tak tahu di mana posisi Maktab 10 itu. Pikirku, yang penting nenek bertubuh ringkih ini kuajak jalan dulu hingga ujung terowongan. Insya Allah, nanti pasti ketemu Posko Haji Indonesia atau petugas lainnya. Begitu tiba di Mina, aku bertemu dengan beberapa rekan MCH yang rata-rata tengah membantu jemaah. Setelah rehat sejenak di dekat sebuah kran air minum, aku dan nenek melanjutkan perjalanan. 

Beruntung kami bertemu seorang petugas dari unsur temus yang memiliki peta lokasi maktab jemaah Indonesia. Setelah mendapatkan lokasi maktab si nenek yang ternyata terletak di ‘ujung berung’, aku mengajaknya kembali melanjutkan perjalanan. Kian lama, langkah kami semakin pelan. Tenaga si nenek hampir habis, nafasnya tersengal. Aku juga letih, namun masih memiliki sedikit cadangan energi. Berulang kali aku menawarkan diri untuk menggendongnya, namun si nenek selalu menolak.

Di tengah perjalanan menuju Maktab 10, kami bertemu dengan Siswantini Suryandari alias Ndari (Media Indonesia) yang juga membawa jemaah. Akhirnya kami sepakat jalan bareng untuk mengantar jemaah ke maktab masing-masing. Pertemuan nan mengharukan pun menjadi adegan penutup ketika tugasku mengantar si nenek berakhir kala ia bertemu rombongannya di Maktab 10.

Malam itu banyak jemaah yang berjatuhan dan tumbang karena kelelahan mengikuti prosesi puncak haji atau Armina. Dimulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar Jumrah Aqabah. Puluhan orang meninggal dunia sepanjang Armina, karena kelelahan dan penyakit bawaan. Di lain pihak, pemerintah telah berupaya dan selalu mengimbau jemaah terutama lansia atau risiko tinggi (risti), agar mewakilkan pelemparan jumrah pada orang yang sehat atau kuat. Hal ini untuk meminimalkan risiko dan jatuhnya korban jiwa.

Prosesi lempar jumrah tak hanya berat karena jauhnya jarak tenda di Mina dan Jamarat, namun juga berat karena banyaknya jemaah yang melaksanakan ritual ini. Kaum lansia dan risti pasti akan terdesak oleh jemaah yang lebih kuat secara fisik. Namun sebagian besar jemaah tetap ngotot, memaksa diri melempar jumrah di tengah hambatan jasmaniah. Bagi mereka kapan lagi bisa melihat ‘simbol setan’. 

“Jauh-jauh kami dari Gorontalo, pinginlah rasanya melihat ‘Tugu Setan’,” begitu gumam nenek-nenek yang tersesat jalan, saat kutemui di Jamarat.

Jemaah haji melempar jumrah di Jamarat, Mina, Arab Saudi. (Foto: Chairul Akhmad)

Komentar

Your email address will not be published.

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Kemenhaj Siapkan Satu Haji Berbasis AI

BOGOR – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mendorong integrasi data

Wamenhaj Sapu Bersih Penyimpangan di Kemenhaj

JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88