JAKARTA — Nama Puspo Wardoyo selama ini lekat dengan Wong Solo. Dari usaha kuliner yang dirintis dari bawah, ia membawa bisnis tersebut berkembang menjadi jaringan restoran yang tersebar di berbagai daerah, bahkan merambah Malaysia dan Arab Saudi.
Namun, di balik nama besar Wong Solo, Puspo melihat dirinya bukan sekadar pemilik jaringan restoran. Ia menyebut dirinya sebagai pengusaha muslim yang sejak kecil memang memiliki ketertarikan terhadap dunia kuliner.
Dalam perbincangan bersama Total Politik, Puspo bercerita tentang awal mula kecintaannya pada masakan, keputusan meninggalkan jalur pekerjaan sebelumnya, perjalanan membangun Wong Solo, hingga ambisinya membawa makanan Indonesia ke pasar internasional. Berikut petikan wawancaranya:
Kalau harus memperkenalkan Puspo Wardoyo kepada orang yang hanya mengenal Anda sebagai pemilik Ayam Bakar Wong Solo, siapa sebenarnya Puspo Wardoyo?
Saya hanya seorang yang memulai usaha di dunia kuliner dari nol. Dari warung kecil kaki lima hingga sekarang memiliki 1260-an outlet di seluruh Indonesia, 12 outlet di Malaysia, dan satu outlet di Jeddah, Arab Saudi. Mungkin itu prestasi saya. Orang kaya itu bisa punya usaha banyak, itu biasa. Tapi kalau dari bawah mungkin itu luar biasa, hingga orang jadi ingin tahu. Setelah itu, saya ikut tender juga meramaikan makanan untuk jemaah haji.
Yang fenomenal kan baru kali ini ada makanan ready to eat (RTE), siap makan. Sebelumnya kan tidak ada untuk jemaah haji. Awalnya kan belum ada solusi untuk makan jemaah haji saat Armuzna. Itu kan susah membawa makanan ke Arafah dan Mina. Kadang kan orang ibadah itu telat makan. Mereka butuh makanan siap saji yang sehat dan tahan lama. Kalau nasi kan kadang bisa busuk kalau lama tidak dimakan. Nah, ini makanan (RTE) yang kami buat adalah hal yang tidak pernah dipikirkan orang.
Anda pernah meninggalkan profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan memulai usaha dengan modal yang sangat kecil. Apa yang membuat Anda berani mengambil keputusan itu?
Iya saya jadi PNS sejak 1983 sampai dengan 1986.
Kenapa bisa ganti profesi?
Ya, dulu kan tidak tahu ya, namanya hobi saya itu di kuliner. Tapi orang dulu pokoknya kalau disuruh kuliah, ya kuliah, jadi PNS. Tapi kita enggak tahu bagaimana perjalanan ke depan.
Jadi bagaimana latar belakang berdirinya Wong Solo ini?
Jadi kuliner itu kan hobi saya sejak kecil, terutama ayam dan lain-lain. Dan juga kuliner atau masak-memasak ini sudah keturunan di keluarga saya. Nenek saya itu dulu jualan sate, Mbah Wongso. Makanya sebutannya Wong Solo. Saya orang Solo, Mbah saya Wongso. Ibu saya juga jualan ayam. Jadi memang sudah turun-temurun, dan akhirnya turun ke saya juga. Kebetulan saya merantau ke Medan pada tahun 1991, ya sudah, istri saya jadi dosen, saya berjualan kecil-kecilan. Namanya ayam bakar Wong Solo.
Sekarang kan Wong Solo jadi merek dagang yang besar sekali, apakah dulu sempat terpikirkan akan sebesar ini?
Nggak juga. Saya hanya mengalir saja. Tapi tidak lepas dari bisnis kuliner. Kemudian ada bisnis Berasku. Walaupun sekarang punya pabrik Makanku untuk jemaah haji, itu kan juga tidak jauh dari dunia kuliner. Makanan juga. Jadi memang saya komitmen untuk bisnis atau usaha di bidang kuliner saja.
Apa keputusan bisnis paling sulit yang pernah Anda ambil selama membangun Wong Solo Group?
Keputusan terbesar itu ya saat akan membuka di luar negeri, baik Malaysia, Arab Saudi dan mendunia nantinya. Saya ingin Wong Solo ada di mana-mana.
Dalam membangun bisnis, apa kesalahan terbesar yang pernah Anda lakukan?
Kalau itu nggak ada. Karena kan memang fashion saya kuliner, ya Insya Allah jalan saja. Walaupun saya otodidak, tapi kan berjalan dengan waktu juga. Manajemen kan tidak saya persiapkan dulu. Waktu yang terus menata sendiri.
Saat ini Wong Solo Group sudah berkembang ke berbagai bisnis. Apakah Anda masih melihat diri sebagai pengusaha restoran, atau sudah sebagai pengusaha industri makanan?
Oya. Kita terus mencari peluang untuk memperbaiki dan membesarkan. Saat ini kan masih kuliner: nasi, ayam dan lain-lain. Nanti kita mulai akan gagas untuk sayuran dan lauk-pauk. Ini juga untuk menjaga warisan atau budaya ya. Nanti akan ada gudeg, lontong, bakso, mie ayam, dan lain-lain.
Kita sudah mulai mempersiapkan untuk kuliner Nusantara. Yang belum disadari kan bagaimana kita membuat makanan-makanan siap santap untuk daerah-daerah yang terkena bencana, misalnya. Seperti gempa, banjir dan tanah longsor. Itu kan kita tidak bisa langsung buat dapur umum. Paling yang bisa masuk mie instan. Nah, yang belum adalah nasi dan lauk yang siap santap. Ya sejenis makanan RTE.
Tadi Anda sebutkan sudah masuk ke Saudi ya. Mengapa Arab Saudi menjadi salah satu pasar penting bagi Wong Solo Group?
Ada ribuan jemaah haji Indonesia yang umrah di Saudi. Haji juga ada ratusan ribu jemaah di sana. Nah mereka itu pasti ingin makan khas Indonesia di restoran. Mereka bosan juga makan di hotel tiap hari. Apalagi di hotel yang masak orang Arab. Walau ada menu Indonesia di hotel, tapi rasanya rasa Arab juga. Nah, kita masih orisinsil, asli makanan Indonesia. Nah, kita siapkan menu-menu Nusantara.
Apa tantangan terbesar membangun bisnis kuliner Indonesia di Arab Saudi?
Awalnya sih soal birokrasi, yang agak susah. Dulu kami kerja sama dengan orang sana. Nah, sekarang saya punya perusahaan sendiri di sana. Jadi sudah bebas investasi di sana. Saat ini kan Saudi sudah terbuka. Mereka suka orang Indonesia investasi di sana. Makanya sekarang kita dikasih kesempatan, tidak perlu lagi kafil (sejenis perwakilan) orang sana.
Bagaimana respons orang Saudi melihat restoran Indonesia?
Mereka suka. Mereka senang dengan masakan Indonesia. Pelanggan kita banyak orang Saudi. Masakan-masakan Sunda juga laris di sana. Nasi campur juga laris.
Bagaimana prospek bisnis kuliner Indonesia di Saudi?
Sangat bagus dan menjanjikan.
Apakah ada rencana juga bikin industri makanan di Saudi?
Iya. Rencana ke depan memang begitu. Kita juga ingin punya pabrik makanan siap saji juga di sana. Peluangnya sangat menjanjikan. Karena jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia itu kan jutaan di Saudi. Mereka butuh makan semua.
Apa yang membedakan menjalankan bisnis di Indonesia dengan di Arab Saudi dari sisi regulasi, tenaga kerja, bahan baku dan persaingan?
Bedanya, kalau di Indonesia, bahan pokok itu dikuasai oleh pengusaha atau swasta. Kalau di sana (Saudi) dikuasai negara. Jadi harga di sana tidak akan naik turun. Harganya tetap. Bahkan harga bahan makanan di sana hampir sama bahkan lebih murah dari Indonesia. Contohnya daging. Di sana bisa lebih murah. Soal pajak juga tidak banyak.

