Saat ini, Puspo Wardoyo juga dikenal sebagai pengusaha kuliner yang menyediakan makanan siap santap atau ready to eat (RTE) bagi jemaah haji Indonesia. Bagi pria Solo ini, bisnis makanan RTE tidak bermula dari ambisi memperluas jaringan bisnis Wong Solo. Ide itu justru muncul dari persoalan yang ia lihat dalam penyediaan makanan bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.
Setelah Wong Solo masuk ke Arab Saudi, Puspo semakin memahami tantangan menyediakan makanan dalam jumlah besar bagi jemaah. Persoalan paling rumit terjadi ketika jemaah memasuki fase Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).
Di kawasan tersebut, kepadatan manusia membuat distribusi makanan bukan pekerjaan sederhana. Mobilitas kendaraan terbatas, sementara makanan segar harus segera dikirim setelah dimasak. Keterlambatan distribusi dapat membuat makanan tidak lagi layak dikonsumsi.
Dari persoalan itulah Puspo mulai berpikir mencari alternatif. Ia bersama tim kemudian mulai mengembangkan makanan siap santap yang dapat bertahan lama tanpa kehilangan cita rasa makanan Indonesia.
Gagasan tersebut mulai dikembangkan sejak 2017. Penelitian secara serius dilakukan pada 2019 bersama tim teknologi pangan. Prosesnya berlangsung lebih dari dua tahun hingga menghasilkan produk RTE yang kemudian dikenal dengan nama MakanKu.
Namun perjalanan Puspo membawa RTE ke layanan haji tidak langsung berhasil. Peluang penggunaan produk tersebut untuk kebutuhan haji mulai terbuka pada 2019. Pandemi Covid-19 kemudian membuat rencana tersebut tertunda. Setelah pandemi, RTE mulai digunakan dalam penyelenggaraan haji pada 2023.
Pengalaman awal itu juga tidak sepenuhnya mulus. Puspo mengakui masih ada keraguan terhadap makanan siap saji, terlebih setelah terdapat produk dari produsen lain yang mengalami kerusakan.
Situasi tersebut membuat Puspo dan tim harus terus memperbaiki produk sekaligus membuktikan bahwa RTE dapat menjadi solusi konsumsi jemaah. Titik penting datang pada 2024.
Setelah melalui proses seleksi penyedia RTE, PT Halalan Thayyiban Indonesia (HATI) dipercaya memasok makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia. MakanKu kemudian digunakan untuk kebutuhan konsumsi jemaah, termasuk di kawasan Armuzna.
Belakangan makanan RTE menjadi salah satu solusi konsumsi jemaah haji. Tapi sebenarnya, dari mana ide RTE ini bermula?
Kalau kita bicara RTE, sebenarnya ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul pada musim haji tahun ini. Perjalanannya sudah cukup panjang. Kami mulai melihat persoalan makanan jemaah haji sejak sekitar tahun 2017. Waktu itu kami sering berada di Arab Saudi dan melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan.
Salah satu persoalan yang selalu muncul adalah konsumsi makanan Jemaah haji, terutama menjelang, saat, dan, setelah di Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Pada periode sebelum Armuzna sampai setelahnya, konsentrasi jemaah sangat luar biasa. Jutaan orang berkumpul dalam waktu yang hampir bersamaan. Akibatnya, persoalannya bukan hanya soal bagaimana memasak makanan, tetapi bagaimana makanan itu bisa diproduksi, dikirim, disimpan dan sampai kepada jemaah tepat waktu.
Saat melihat persoalan itu, apa masalah paling besar yang langsung Anda tangkap?
Problem utamanya adalah logistik dan transportasi. Bayangkan jutaan orang berkumpul di Makkah. Kemudian menjelang puncak haji, jemaah bergerak menuju Arafah, Muzdalifah dan Mina dalam waktu yang relatif singkat. Transportasi menjadi sangat padat. Distribusi makanan juga ikut terdampak.
Kalau menggunakan makanan segar atau fresh meal, ada batas waktu tertentu. Makanan tidak bisa terlalu lama berada di perjalanan karena kualitas dan keamanan pangan harus dijaga. Nah, dari situ muncul pertanyaan: bagaimana membuat makanan yang tetap aman, tetap enak, tetapi mempunyai masa simpan lebih panjang di suhu ruang dan bisa langsung dikonsumsi jemaah? Dari situlah kami melihat RTE sebagai sebuah solusi.
Sejak kapan gagasan itu benar-benar berubah menjadi riset dan pengembangan produk?
Kami mulai melakukan riset dan pengembangan atau R&D sekitar tahun 2017. Jadi bukan langsung jadi. Kami melakukan penelitian, uji coba, memperbaiki formulasi, memperbaiki proses produksi, sampai akhirnya sekitar akhir tahun 2019 kami sudah mampu memproduksi RTE. Tetapi kemudian datang pandemi COVID-19. Tahun 2020 dan 2021 praktis tidak ada
penyelenggaraan haji seperti kondisi normal. Tahun 2022 sudah ada haji, tetapi masih dengan berbagai pembatasan. Baru kemudian aktivitas haji kembali berjalan lebih normal. Jadi perjalanan teknologi ini memang panjang.
Apa yang membuat Anda tidak melihat persoalan makanan haji ini sekadar sebagai peluang bisnis?
Bagi kami ini bukan hanya persoalan bisnis. Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Kami sebagai pengusaha Muslim melihat persoalan ini sebagai bagian dari tanggung jawab umat. Kami menyebutnya sebagai fardu kifayah. Harus ada sebagian umat Islam yang berusaha menyelesaikan persoalan yang dihadapi jemaah. Bukan berarti perusahaan yang bukan Muslim tidak bisa membuat makanan. Secara profesional tentu bisa. Tetapi kami memiliki pengalaman dan pemahaman langsung terhadap perjalanan ibadah haji dan kondisi jemaah Muslim. Itu menjadi salah satu modal penting kami.
Kami juga pernah mengalami sendiri bagaimana kondisi haji, bagaimana cuaca, bagaimana kepadatan transportasi, bagaimana jemaah bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Jadi kami tidak hanya melihat persoalan dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi pelayanan atau after sale service. Targetnya bukan sekedar bisa membuat makanan. Tetapi bagaimana makanan tersebut bisa diproduksi dalam jumlah besar, aman, didistribusikan dengan baik dan benar-benar siap dikonsumsi ketika dibutuhkan.
Berarti membuat RTE tidak cukup hanya bisa membuat makanannya?
Betul. Karena makanan ini bukan makanan biasa. Ini makanan yang dikonsumsi dalam rangkaian ibadah haji. Kami harus memahami kapan makanan itu dibutuhkan, di mana makanan itu akan dikonsumsi, bagaimana kondisi jemaah, bagaimana distribusinya dan bagaimana memastikan makanan tersebut tetap aman sampai ke tangan jemaah. Itulah mengapa pengalaman di lapangan menjadi sangat penting.
Lalu apa yang membuat RTE lebih relevan dibandingkan makanan segar untuk kondisi haji?
Yang paling penting adalah kepraktisan dan ketahanan serta tanpa bahan pengawet. Kalau makanan segar, kita sangat bergantung pada waktu produksi, distribusi dan konsumsi. Sementara RTE yang kami kembangkan bisa langsung dimakan tanpa harus dipanaskan atau melalui treatment tambahan. Ini sangat penting karena di lokasi jemaah tidak selalu tersedia fasilitas untuk memanaskan makanan. Jadi ketika makanan sudah sampai di hotel atau maktab, jemaah bisa langsung mengonsumsinya.
Untuk bisa sampai dipercaya melayani jemaah, seberapa panjang proses yang harus dilalui PT HATI?
Prosesnya sangat panjang. Kami harus memenuhi regulasi di dua negara, Indonesia dan Arab Saudi. Di Indonesia ada BPOM yang memastikan aspek keamanan pangan. Kemudian untuk Arab Saudi juga ada otoritas yang mengawasi keamanan pangan yaitu SFDA. Jadi produk tidak bisa begitu saja dikirim. Setiap tahun ada proses pengujian dan pemeriksaan. Sampel makanan juga diuji untuk memastikan tidak ada masalah keamanan pangan. Selain persyaratan teknis, terdapat pula persyaratan administrasi seperti pendaftaran izin sesuai regulasi SFDA di Arab Saudi memiliki tim yang bisa bertanggung jawab dan dapat berkoordinasi langsung dengan otoritas di Arab Saudi.

