Bagaimana pengawasan produk dilakukan setelah makanan berada di Arab Saudi?
Iya. Kami mendelegasikan tim yang memiliki pengalaman serta memahami regulasi di Arab Saudi. Mereka melakukan koordinasi, memantau distribusi, memastikan persyaratan terpenuhi, dan menangani kebutuhan di lapangan. Jadi pengawasan tidak berhenti di Indonesia, tetapi tetap dilakukan sampai produk berada di Arab Saudi.
Mengapa penting menempatkan orang yang memahami kebutuhan jemaah di lapangan?
Betul. Kami ingin orang yang berada di lapangan memahami konteks pelayanan jemaah. Karena ketika berbicara tentang makanan haji, kita tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga pelayanan. Mereka harus memahami bagaimana kondisi jemaah dan bagaimana berkoordinasi ketika ada kebutuhan atau persoalan di lapangan. Jadi kombinasi antara teknologi, regulasi, pengalaman dan tim di lapangan itu yang menjadi kekuatan kami.
Apakah kombinasi itu yang akhirnya membuat PT HATI bisa dipercaya menjadi penyedia makanan jemaah?
Saya kira itu salah satu faktor penting. Kami harus memenuhi regulasi Indonesia, memenuhi regulasi Arab Saudi, mempunyai produk yang aman dan sesuai standar, memiliki kemampuan produksi, kemudian memiliki jaringan dan tim yang bisa berkoordinasi di Arab Saudi. Jadi prosesnya tidak instan.
Ada proses seleksi, ada beauty contest, ada pengujian produk, ada pemeriksaan regulasi dan ada pengawasan. Karena makanan jemaah haji ini menyangkut keselamatan dan kenyamanan jutaan orang. Jadi tidak boleh main-main. Pada akhirnya, kami ingin menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia yang dikelola oleh orang-orang Muslim juga mampu menghadirkan teknologi pangan dengan standar internasional dan memberikan pelayanan kepada jemaah dari Indonesia bahkan nantinya dari berbagai negara.
Selain aman dan tahan lama, bagaimana memastikan RTE tetap punya rasa yang disukai jemaah Indonesia?
Itu juga menjadi perhatian utama. RTE bukan hanya harus aman, tetapi juga harus enak dan sesuai dengan cita rasa Indonesia. Jadi kami tidak ingin membuat makanan yang sekadar tahan lama. Kami ingin ketika jemaah makan, mereka tetap merasakan makanan Indonesia. Itulah mengapa dalam proses seleksi atau beauty contest, produk juga diuji secara langsung. Jadi bukan hanya dokumennya yang diperiksa, tetapi produknya juga dicicipi dan dinilai.
Pada tahun 2026, proses beauty contest juga dilaksanakan melalui tahapan seleksi dan evaluasi terhadap perusahaan peserta. Dari proses tersebut, dilakukan penilaian secara objektif untuk menentukan perusahaan yang dinilai memenuhi kriteria dan layak untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Artinya perusahaan yang masuk bukan sembarangan. Banyak perusahaan besar yang ikut. Jadi untuk bisa menjadi penyedia makanan jemaah haji, tidak cukup hanya punya produk. Harus memenuhi regulasi, mempunyai teknologi, kemampuan produksi, distribusi, pengalaman dan kesiapan di Arab Saudi.
Anda menyebut RTE sebagai bentuk hilirisasi makanan. Apa yang sebenarnya ingin dicapai dari konsep itu?
Betul. Itu yang menarik. Bahkan bahan seperti ayam atau daging yang dalam bentuk tertentu belum dapat dikirim ke Arab Saudi, setelah melalui proses dan teknologi pengolahan makanan, bisa menjadi produk siap santap yang memenuhi standar keamanan pangan. Jadi kita mengirim nilai tambah, bukan sekadar bahan baku. Ini yang kami sebut hilirisasi makanan.
Kalau begitu, seperti apa konsep hilirisasi makanan yang Anda bayangkan?
Persis. Kalau selama ini kita sering bicara hilirisasi sumber daya alam, misalnya nikel, kami melihat konsep yang sama bisa diterapkan pada makanan. Indonesia tidak hanya menjual bahan baku. Kita harus meningkatkan nilai tambahnya. Misalnya ayam, ikan, daging, beras dan rempah-rempah yang digunakan berasal dari Indonesia. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi makanan siap santap dengan teknologi tertentu. Nilai tambahnya menjadi jauh lebih besar. Saat ini ada sekitar 500 orang yang terlibat dalam proses produksi. Jadi dampaknya bukan hanya pada perusahaan, tetapi juga kepada tenaga kerja dan rantai pasok bahan baku lokal dari UMKM lokal juga turut terkena imbas positif dari pembuatan RTE makanan jamaah haji ini.
Setelah dikonsumsi jemaah, bagaimana respons mereka terhadap makanan RTE?
Feedback-nya mayoritas positif. Ada jemaah yang bahkan membawa makanan tersebut pulang ke Indonesia sebagai oleh-oleh. Ada juga yang bertanya, “Kalau mau membeli makanan seperti ini di mana?” Artinya ada pengalaman baru bagi jemaah. Tetapi memang masih ada pekerjaan rumah, yaitu edukasi. Karena bagi sebagian masyarakat, makanan RTE masih asing.
Kenapa edukasi soal RTE masih penting?
Karena ada sebagian jemaah, terutama yang sudah lanjut usia, yang mungkin awalnya merasa khawatir. Mereka perlu tahu bahwa makanan ini aman, sudah melalui proses dan pengawasan sangat ketat dari otoritas di Indonesia yaitu BPOM dan di arab Saudi yaitu SFDA. Karena itu product knowledge harus diberikan kepada petugas dan jemaah. Peran media juga penting. Media bisa membantu menjelaskan bahwa ini adalah teknologi makanan yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan jemaah. Kami juga terus berkoordinasi dengan BPOM untuk selalu updateregulasi terkait aspek keamanan pangan.
Apakah RTE ini akan berhenti sebagai solusi untuk jemaah haji Indonesia?
Insya Allah tidak. Kami sudah mulai menjajaki pasar internasional. Bahkan untuk Afrika, Insya Allah tahun depan mudah-mudahan sudah bisa mulai produksi untuk jemaah dari sana. Nigeria juga sudah mulai kami jajaki. Kami sudah mulai membuat sampel-sampelnya. Jadi cita-citanya bukan hanya makanan untuk jemaah Indonesia, tetapi bagaimana teknologi yang dikembangkan di Indonesia ini bisa digunakan oleh jemaah dari berbagai negara.
Apakah itu berarti Anda punya cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi makanan haji dunia?
Insya Allah itu cita-citanya. Kami melihat setidaknya ada tiga kekuatan. Pertama, teknologi. Kami memiliki teknologi yang memungkinkan makanan tahan lama dan bisa langsung dikonsumsi tanpa pemanasan atau treatment tambahan. Kedua, market. Indonesia memiliki jumlah jemaah yang sangat besar. Pengalaman menangani jemaah Indonesia menjadi modal yang sangat penting. Ketiga, experience. Kami sudah dipercaya menjadi penyuplai makanan jamaah haji selama empat tahun terakhir, dimulai dari tahun 2023 hingga 2026 ini. Jadi bukan hanya punya teknologi, tetapi sudah punya pengalaman di lapangan.
Kalau begitu, apa target terbesar PT HATI ke depan?
Kami ingin Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi menjadi produsen makanan haji untuk dunia. Kalau selama ini banyak kebutuhan haji yang harus dibeli atau dipenuhi di Arab Saudi, makanan adalah salah satu produk yang bisa memberikan nilai tambah kembali kepada Indonesia. Jadi ada devisa yang masuk, ada tenaga kerja yang terserap, bahan baku lokal yang bergerak, dan yang paling penting kita bisa membawa cita rasa Indonesia ke dunia.
Setelah perjalanan panjang sejak 2017, apa yang paling Anda banggakan dari RTE ini?
Yang paling membanggakan adalah kami bisa ikut berkontribusi melayani jemaah. Bagi kami, ini bukan semata-mata soal berapa besar keuntungan yang didapat. Kami ingin teknologi ini benar-benar menjadi solusi. Kalau kemudian bisa menjadi amal bagi kami, itu yang paling kami harapkan. Karena dari awal niatnya adalah bagaimana sebagian umat Islam ikut mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan haji. Dan sekarang kami berharap solusi ini tidak berhenti di Indonesia. Mudah-mudahan ke depan bisa digunakan oleh jemaah dari Afrika, Asia, Timur Tengah dan berbagai negara lainnya. Terbaru kita juga mendapat penghargaan dari BPOM atas komitmen kami dalam menjalankan sistem keamanan pangan dalam proses produksi RTE kami.
Apa pesan Anda tentang masa depan hilirisasi makanan Indonesia?
Pesannya sederhana. Jangan melihat makanan ini hanya sebagai makanan siap saji. Di balik satu makanan ada teknologi, ada tenaga kerja, ada petani, peternak, nelayan, ada bahan baku lokal, ada proses panjang dan ada pengalaman. Kami berharap Indonesia berani mengembangkan produk pangan bernilai tambah tinggi. Karena kalau kita bisa membuat produknya di Indonesia, memenuhi standar dunia dan dikonsumsi masyarakat internasional, maka manfaatnya akan kembali kepada Indonesia. Dan bagi kami, yang paling utama, teknologi ini bisa menjadi bagian dari pelayanan kepada tamu-tamu Allah. Itu yang menjadi semangat kami.
Dari persoalan distribusi makanan di tengah kepadatan Armuzna, Puspo kemudian melihat peluang yang lebih besar. RTE tidak hanya dapat menjadi solusi untuk jemaah haji Indonesia, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi industri pangan Indonesia yang mampu menembus pasar internasional.
Bagi pengusaha yang memulai bisnis kuliner dari bawah itu, makanan siap santap akhirnya menjadi babak baru dalam perjalanan panjangnya di dunia kuliner.
Bukan lagi sekadar menjual makanan di restoran, tetapi mencari cara agar makanan Indonesia dapat diproduksi dalam skala besar, bertahan lama dan menjangkau masyarakat Indonesia bahkan ketika mereka berada ribuan kilometer dari tanah air.*
