1 hour ago
3 mins read

Urgensi Revisi UU Pemilu dan UU Parpol: Demi Perbaikan Tata Kelola Pemilu dan Penguatan Institusi Partai Politik

Suasana Rapat Paripurna DPR RI (Foto: Kompas/Hendra A. Setyawan)

JAKARTA – Partai politik sejauh ini masih belum sepenuhnya mampu melahirkan kader berkualitas. Di sisi lain, tingginya biaya politik sering kali membuat para kader partai lebih mendekat kepada oligarki ketimbang menjadi saluran aspirasi rakyat. Penguatan kelembagaan partai politik menjadi krusial seiring momentum pembahasan revisi Undang-Undang Pemilu.

Ihwal pentingnya revisi Undang-Undang Partai Politik itu dikemukakan oleh anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia. Baginya, regulasi yang mengatur tata kelola parpol di negara ini membutuhkan pembaruan setelah revisi terakhir pada 2011.

Dalam rentang waktu 15 tahun itu, menurut Doli, ada banyak dinamika politik dan demokrasi yang telah terjadi, baik di tingkat domestik maupun global. Sederet keadaan itu menuntut berbagai penyesuaian. Keperluan itu menemukan irisannya karena belakangan ini pembuat UU juga tengah menyusun revisi UU Pemilu. 

”Apabila kita nanti dapat merumuskan sistem pemilu yang ideal sebagai hasil revisi UU pemilu, akan sempurna bila didukung oleh sistem kepartaian yang juga lebih baik,” kata Doli, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Badang Legislasi DPR, Selasa (27/10/2026) malam.

Di sisi lain, jelas Doli, upaya kodifikasi guna memperkuat demokrasi substansial sudah dimasukkan dalam UU Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Adapun mekanisme kodifikasi itu akan diberlakukan untuk tiga regulasi, yakni UU Pemilu, UU Parpol, dan UU Pilkada.

Istilah kodifikasi dimaknai sebagai salah satu metodologi penyusunan UU yang tidak bisa memisahkan keterkaitan satu sama lain. Dengan begitu, pembuat UU bisa tinggal memilih saja apakah tiga UU itu perlu disusun menjadi satu UU, serentak, beriringan, atau berdekatan. 

”Intinya adalah sudah saatnya kita harus juga segera melakukan revisi UU Parpol yang arahnya membangun sistem kepartaian yang modern dan penguatan kelembagaan partai politik pada kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Doli. 

Suasana Rapat Paripurna di Gedung DPR RI Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2026 (Foto: Kompas/Hendra A. Setyawan)

Ditemui terpisah, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas tak memungkiri jika UU Parpol memang perlu direvisi. Namun, upaya perbaikan regulasi itu belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, segenap pihak sekarang tengah memusatkan perhatian untuk menyusun revisi UU Pemilu. 

”UU Pemilu kita masih menunggu parlemen (DPR) selesai. Begitu selesai dan disepakati di parlemen, pemerintah akan menyusun DIM (daftar inventarisasi masalah). Namun, kalau UU Parpol belum. Itu nanti usul inisatif pemerintah, kami lagi siapkan,” kata Supratman. 

Ia mengakui, pembahasan UU Parpol tidak akan mudah. Selain ada banyak pihak yang perlu dilibatkan, perbincangan menyoal revisi itu juga akan sangat dinamis. Adapun sejumlah isu krusial yang menjadi perhatian antara lain menyangkut pembiayaan partai politik dan persyaratan kepengurusan.

Di antara sederet isu, sambung Supratman, salah satu usulan yang patut dipertimbangkan adalah soal pembiayaan partai politik. Kebijakan peningkatan pembiayaan partai politik diyakininya mampu menjaga independensi para kader. Dengan demikian, partai politik juga bisa menempatkan kader-kader terbaiknya pada posisi eksekutif maupun legislatif. 

”Kalau parpol tidak berdaya dan tidak mandiri. Itu pasti akan dibiayai oleh cukong-cukong yang pada akhirnya akan memengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan diambil. Itu yang paling krusial,” ucapnya.

Saling terkait

Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Iqbal Kholidin, menyatakan, pembahasan revisi UU Parpol menemukan momentumnya seiring bergulirnya revisi UU Pemilu.

Sejak awal, ia menilai, kedua regulasi itu saling terkait sehingga harus dibahas secara bersamaan. Urusan pemilu yang menyoal syarat menjadi peserta, cara menyusun kandidat, keterwakilan perempuan, rekam jejak calon, hingga relasi antara keuangan partai dan dana kampanye menunjukkan irisan di antara dua regulasi itu.

Iqbal mencontohkan, eratnya hubungan antara UU Pemilu dan UU Parpol juga terlihat pada usulan penyederhanaan syarat peserta pemilu yang disertai kewajiban laporan keuangan terbuka. Usul itu hanya bisa berjalan jika UU Pemilu dan UU Parpol dirancang dengan logika yang sama. 

”Desain pemilu dan pelembagaan partai tidak bisa dipisahkan sehingga perubahan pada satu sisi harus diimbangi pembenahan pada sisi lainnya agar keduanya tidak bertabrakan,” kata Iqbal. 

Iqbal menilai, UU Parpol yang berlaku saat ini sudah sangat tertinggal sehingga mendesak disesuaikan. Terlebih lagi, model pemilu sudah banyak berubah diiringi sederet putusan Mahkamah Konstitusi yang berupaya memperbaiki pemilu dari waktu ke waktu. Adapun kelemahan utama UU itu terletak pada mekanisme organisasi partai yang sangat tertutup. 

Oleh karena itu, lanjut Iqbal, upaya penguatan kelembagaan partai mesti dimulai dari demokratisasi internal, terutama pada aspek pencalonan. Salah satu usulannya adalah pencalonan anggota legislatif dan eksekutif yang perlu dilakukan secara terbuka, partisipatif, obyektif, terdesentralisasi, dan melibatkan segenap anggota partai.

Suasana Deklarasi Kampanye Damai, Tertib, dan Taat Hukum Peserta Pemilu Tahun 2024 di Jakarta, Senin 27 November 2023 (Foto: tvonenews/Bagas)

Tak kalah pentingnya, ia menekankan pula soal syarat seorang anggota partai untuk mengikuti kaderisasi, memperoleh pendidikan politik, hingga disertai kewajiban sedikitnya 30 persen keterwakilan perempuan. Segenap kader pun diharuskan terlihat rekam jejaknya guna mencegah praktik pencalonan instan yang sebatas mengandalkan popularitas daripada kaderisasi. 

Kepercayaan publik

Urusan demokratisasi, lanjut Iqbal, juga harus menyentuh cara partai politik menentukan pemimpin dan menuntaskan konfliknya. Seharusnya pemilihan ketua partai ditempuh secara demokratis disertai penyelesaian sengketa internal yang terbuka dan independen. Keterbukaan tata kelola keuangan juga dibutuhkan agar publik bisa ikut memberikan penilaian kepada siapa suatu partai bergantung. 

Penampakan bendera-bendera partai politik di sepanjang jalan yang dinilai mengganggu pemandangan (Foto: Kompas.com/Zintan Prihatini)

Sederet aspek itu, kata Iqbal, membuat partai rentan korupsi, melanggengkan oligarki politik, memperkuat elitisme, dan membuat biaya politik mahal. Akhirnya, segala persoalan itu membuat kepercayaan publik terhadap partai politik relatif rendah. 

”Partai adalah satu-satunya pintu bagi warga untuk duduk di DPR, DPRD, serta mengusung calon presiden dan kepala daerah sehingga selama tata kelola partai tertutup dan bergantung pada segelintir elite atau pemodal. Perbaikan sistem pemilu apa pun akan sulit menghasilkan wakil rakyat yang lebih berkualitas,” tutup Iqbal. 

Sumber: Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/bukan-hanya-uu-pemilu-uu-parpol-pun-perlu-direvisi?open_from=Kompas_Hari_Ini

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam
Go toTop

Jangan Lewatkan

Syarat Pencalonan Presiden

JAKARTA – Beberapa waktu lalu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) membentuk

Ahmad Doli Kurnia: Orang Ramai Bicara Pemilu 2029, Pemain Sudah Pemanasan, Tapi Lapangannya Belum Jelas

JAKARTA – Jelang Pemilu 2029, arena politik Indonesia mulai menunjukkan
toto slot situs togel situs togel
toto slot
slot88