Getaran haji
Setiap orang memiliki momen yang berbeda ketika berada di Tanah Suci. Ada yang mengaku tidak kuasa menahan air mata saat pertama kali melihat Ka’bah.
Ada pula yang merasakan getaran batin ketika menyelesaikan thawaf atau berdiri di hadapan Multazam. Bagi Fahmi, pengalaman itu hadir dalam cara yang berbeda.
Ia mengaku getaran paling kuat justru datang ketika sedang menjalankan thawaf. Bukan karena untuk pertama kalinya melihat Ka’bah, melainkan karena ingatannya tiba-tiba kembali kepada sang ibu yang telah lebih dahulu wafat.
“Setiap orang mungkin punya momentumnya tersendiri mengapa hatinya bergetar saat menjalankan ibadah umrah wajib, termasuk saya yang bergetar bukan karena melihat Ka’bah tetapi karena memori tentang mama saya yang telah wafat muncul saat saya thawaf,” ungkapnya.
Kenangan itu datang begitu saja di tengah rangkaian ibadah yang sedang dijalaninya. Fahmi mengatakan ia memang tidak sampai meneteskan air mata, tetapi getaran yang muncul saat itu benar-benar ia rasakan.
“Meskipun tidak meneteskan air mata, tetapi getaran itu terasa.”
Perasaan tersebut kemudian semakin kuat ketika ia mengingat ucapan keluarganya sebelum berangkat ke Tanah Suci. Mereka mengatakan bahwa seandainya sang ibu masih hidup, tentu ia akan merasa bangga melihat anaknya dapat datang ke Tanah Suci tanpa harus menjual harta benda terlebih dahulu.
Ucapan itu bukan tanpa alasan. Fahmi bercerita, bagi sebagian kecil masyarakat Betawi yang tidak memiliki simpanan, keinginan berangkat umrah atau haji kerap diwujudkan dengan menjual salah satu aset yang dimiliki, baik tanah maupun kendaraan. Gambaran itulah yang selama ini ia dengar dan pahami.
“Kalau mama saya masih hidup, pasti mama saya bangga melihat saya yang bisa ke Tanah Suci tanpa harus menjual tanah ataupun kendaraan,” katanya.
Kalimat itu menjadi penutup dari perjalanan yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. Semuanya berawal ketika ia hanya berniat mendampingi Wakil Pemimpin Redaksi mengikuti seleksi petugas haji.
Ia bahkan datang tanpa keyakinan akan berangkat pada tahun itu. Setelah dinyatakan lolos, ia masih harus menjalani pendidikan dan pelatihan selama tiga puluh hari, menghadapi ketidakpastian akibat visa yang sempat ditarik, hingga akhirnya berangkat bersama rombongan yang dijuluki “rombongan liar” karena hampir seluruh proses keberangkatannya berlangsung secara mendadak.
Di balik seluruh rangkaian peristiwa itu, ada satu keyakinan yang terus ia pegang sejak awal. “Panggilan Allah tidak melihat jabatan.”
Kalimat itu bukan hanya menjadi cara Fahmi memaknai keberangkatannya sebagai petugas haji, tetapi juga menjadi benang merah dari seluruh perjalanan yang ia alami.
Ia datang dengan niat sekadar mendampingi, tetapi pulang membawa pengalaman yang sama sekali tidak pernah direncanakannya.
Mungkin karena itulah, ketika mengenang musim haji 2026, yang paling diingat Ahmad Nuril Fahmi bukan hanya panjangnya proses seleksi, beratnya pendidikan dan pelatihan, atau rumitnya persoalan visa menjelang keberangkatan.
Yang paling membekas justru keyakinan bahwa di atas setiap rencana manusia, selalu ada kehendak Allah yang bekerja dengan cara-Nya sendiri.*
