Menjadi “rombongan liar”
Menjelang keberangkatan, Fahmi dan rekan-rekannya di Media Center Haji kembali menghadapi situasi yang sama sekali tidak mereka perkirakan. Sesuai Surat Perintah Masuk Asrama, mereka dijadwalkan masuk Asrama Haji pada 16 April 2026.
Namun, menjelang hari keberangkatan, visa petugas MCH justru ditarik kembali. Keadaan itu membuat mereka berada dalam posisi yang serba tidak pasti.
Bagi Fahmi, situasi tersebut menghadirkan persoalan lain. Di satu sisi, keluarganya telah bersiap mengantarkannya ke Asrama Haji. Di sisi lain, para petugas MCH yang berdomisili di Jakarta belum diizinkan masuk asrama sampai ada kepastian mengenai visa. Hanya mereka yang berasal dari luar Jakarta yang tetap diminta berangkat sesuai rencana semula.
“Ini menjadi dilema saya, karena di satu sisi keluarga ingin mengantarkan ke Asrama Haji, tetapi di sisi lain belum diizinkan masuk asrama sampai batas waktu yang ditentukan.”
Di tengah ketidakpastian itu, pada 16 April 2026 Fahmi memutuskan bersilaturahim ke rumah Muhammad Umar Fadloli atau yang akrab disapa Cak Doli, sesama anggota MCH Daker Madinah. Kebetulan, rumah kakak Cak Doli tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Pertemuan itu semula hanya menjadi ajang bertukar pikiran mengenai situasi yang sedang mereka hadapi. Namun setelah berdiskusi cukup lama, keduanya mengambil keputusan yang tidak dilakukan sebagian besar rekan lainnya.
Mereka memutuskan tetap berangkat ke Asrama Haji meskipun saat itu belum diizinkan masuk. Sebelum berangkat, Fahmi menghubungi beberapa anggota MCH lain yang berada di Jakarta dan mengajak mereka ikut bermalam di sekitar Asrama Haji.
Namun, hanya dirinya dan Cak Doli yang akhirnya berangkat. Rekan-rekan yang lain memilih menunggu panggilan berikutnya sambil bersiap apabila sewaktu-waktu diminta datang.
Keputusan itu, menurut Fahmi, kemudian terbukti tidak keliru. Malam harinya, mereka akhirnya mengetahui alasan mengapa visa seluruh petugas MCH sempat ditarik. Lalu, pada dini hari 17 April 2026, kabar yang sejak lama ditunggu akhirnya datang. Visa mereka telah terbit sehingga petugas MCH Daker Madinah dapat berangkat bersama kelompok pertama menuju Arab Saudi.
“Pada 17 April 2026 kami mendapatkan kabar gembira bahwa visa kami terbit dini hari dan akhirnya kami bersama rekan-rekan MCH Daker Madinah lainnya bisa terbang bersama menuju Jeddah,” tuturnya.
Meski demikian, perjalanan mereka tetap tidak berlangsung seperti rombongan petugas lainnya. Dari total 20 anggota MCH Daker Madinah, hanya tujuh orang yang sejak awal tidak mengalami persoalan visa.
Sementara Fahmi bersama dua belas rekannya baru memperoleh kepastian menjelang keberangkatan. Kondisi yang serba mendadak itu membuat hampir semua persiapan dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.
Wartawan senior yang juga anggota MCH, Cak Iban, bahkan memberi julukan khusus kepada mereka.”Rombongan liar.”
Julukan itu lahir karena hampir semua hal mereka jalani secara mendadak. Visa baru terbit beberapa jam sebelum keberangkatan. Kartu Nusuk belum seluruhnya selesai. Gelang identitas pun belum lengkap. Bahkan ketika hendak berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta, nama mereka tidak tercantum dalam manifes bus yang telah disiapkan.
Akibatnya, mereka harus membagi diri, masing-masing hanya dua orang di setiap bus agar tetap bisa ikut menuju bandara bersama rombongan lain.
Setelah tiba di Jeddah, Fahmi mengaku tidak henti-hentinya bersyukur. Penantian panjang sejak proses seleksi, pendidikan, hingga persoalan visa akhirnya terbayar dengan kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Namun perjalanan “rombongan liar” ternyata belum sepenuhnya mulus. Dalam perjalanan dari Jeddah menuju Makkah, kartu Nusuk milik tiga belas anggota rombongan mereka berulang kali tidak terbaca ketika diperiksa petugas keamanan Arab Saudi.
Setiap kali kartu dipindai dan gagal terbaca, mereka diminta menunjukkan visa untuk memastikan bahwa benar mereka merupakan petugas haji Indonesia.
Peristiwa itu berulang kali terjadi di sepanjang perjalanan. Meski demikian, seluruh kelelahan yang mereka rasakan perlahan menghilang ketika akhirnya tiba di Masjidil Haram untuk menunaikan umrah wajib.
Saat itu jumlah jemaah tidak terlalu banyak karena musim umrah dari Indonesia telah berakhir. Fahmi, yang mengaku belum pernah menunaikan umrah maupun haji sebelumnya, memilih bergabung dengan kelompok yang dapat membimbingnya menjalankan thawaf dan sa’i sesuai tuntunan.
“Sebagai orang yang tidak pernah umrah apalagi berhaji, saat itu saya hanya mencari kelompok yang bisa membersamai setiap langkah thawaf dan sa’i sesuai dengan syariat.”
Setelah seluruh rangkaian umrah wajib selesai, ia juga memperoleh kesempatan yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.
“Alhamdulillah saya dikasih kesempatan mencium Hajar Aswad,” ucapnya.
Pengalaman itu menjadi penutup dari perjalanan panjang yang diawali dengan satu keyakinan sederhana bahwa dirinya hanya datang untuk mendampingi atasannya mengikuti tes. Kenyataannya, justru ia yang dipilih Allah untuk menjadi salah seorang tamu-Nya.
