MADINAH – Tidak pernah terlintas dalam benak Ahmad Nuril Fahmi bahwa namanya akan tercantum sebagai salah satu petugas haji Indonesia pada musim haji 2026.
Ketika proses pendaftaran dibuka, Kepala Biro Times Indonesia Jakarta itu justru datang dengan tujuan yang sangat sederhana, yakni mendampingi Wakil Pemimpin Redaksi (Wapimred) mengikuti seleksi sekaligus melihat gambaran proses rekrutmen sebagai bekal apabila ingin mencoba lagi pada tahun berikutnya.
Karena itulah, ketika seluruh rangkaian seleksi berakhir, ia sama sekali tidak membayangkan bahwa justru dirinya yang akan berangkat ke Tanah Suci sebagai anggota Media Center Haji (MCH) 2026.
“Bagi saya, kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan ini adalah panggilan Allah tidak melihat jabatan,” ujarnya.
Datang hanya untuk mendampingi
Sejak awal, Fahmi sudah menyampaikan kepada kantornya bahwa ia hanya mendampingi Wapimred mengikuti tes. Ia tidak pernah datang dengan keyakinan akan lolos.
Bahkan, ia berkali-kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa keikutsertaannya kali itu lebih sebagai kesempatan untuk mengenal pola seleksi agar memiliki gambaran ketika mendaftar kembali pada tahun berikutnya.
“Tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa saya akan berangkat di tahun pertamanya Kementerian Haji dan Umrah menyelenggarakan ibadah haji,” katanya.“Saya selalu bilang bahwa saya cuma ikut tes untuk mendampingi dan punya gambaran untuk tes di tahun berikutnya.”
Namun, rencana manusia tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Allah, menurut Fahmi, ternyata memiliki kehendak yang lain.
Ia justru diberi amanah untuk mewakili Times Indonesia sebagai petugas haji. Setelah mengetahui dirinya dinyatakan lolos, langkah pertama yang ia lakukan bukan mempersiapkan keberangkatan, melainkan meminta izin kepada Wapimred dan Pemimpin Redaksi untuk menerima amanah tersebut.
Momen itu masih diingatnya dengan sangat jelas. Hari itu adalah Minggu, 28 Desember 2025. Sebuah pesan melalui WA Blast dan surat elektronik dari Kementerian Haji dan Umrah masuk ke telepon genggamnya. Isinya menyatakan bahwa ia dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi yang panjang.
Alih-alih langsung bersyukur, Fahmi justru sempat meragukan kabar tersebut. Ia khawatir telah terjadi kesalahan sistem. Karena belum yakin dengan informasi yang diterimanya, ia kemudian menghubungi Tenaga Ahli Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, untuk memastikan apakah pesan yang diterimanya benar.
Jawaban yang diterimanya justru menghapus seluruh keraguan itu. Ia memang dinyatakan lolos. “Saya sempat freeze dan bingung karena harus bicara apa ke Wapimred saya.”
Perasaan yang muncul saat itu, menurut Fahmi, bercampur antara senang dan bingung. Ia kemudian berdiskusi lebih dahulu dengan istrinya sebelum akhirnya memberanikan diri menyampaikan kabar tersebut kepada Wapimred.
Respons yang diterimanya justru menjadi salah satu kalimat yang paling membekas selama proses menuju Tanah Suci.
“Ya ndak apa, Mas. Ini mah sudah garis tangan, sudah urusan Tuhan. Dan yang dipilih Gusti Allah adalah Mas Fahmi.”
Kalimat itu membuatnya semakin mantap menerima amanah sebagai petugas haji.
Perjalanan menuju Tanah Suci ternyata belum benar-benar dimulai. Setelah dinyatakan lolos, Fahmi masih harus mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berlangsung selama satu bulan.
Sebelum berangkat, ia sempat mendengar banyak cerita dari para petugas Media Center Haji angkatan sebelumnya. Hampir semuanya menggambarkan bahwa diklat tidak jauh berbeda dengan pendidikan dan pelatihan pada umumnya yang lebih banyak diisi materi di dalam kelas.
Kenyataannya jauh berbeda. Sejak hari pertama, para peserta langsung berhadapan dengan instruktur dari TNI dan Polri yang menerapkan disiplin tinggi selama pelatihan berlangsung.
Seluruh aktivitas dilakukan dengan berjalan kaki. Kebiasaan yang pada tahun-tahun sebelumnya masih dianggap biasa, seperti menggunakan ojek dari asrama menuju ruang kelas, tidak lagi diperbolehkan.
“Saya dan teman-teman yang tinggal di Gedung A Asrama Haji itu setiap harinya minimal berjalan kaki sejauh enam kilometer,” katanya.
Selama dua puluh hari, para peserta tidak hanya menerima materi tentang tugas dan fungsi masing-masing, tetapi juga menjalani latihan fisik yang dirancang untuk membentuk petugas yang tangguh, responsif, dan memiliki bekal pengetahuan sesuai bidang penugasan.
Pelatihan itu dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama diisi latihan fisik dan materi kelas besar. Tahap berikutnya mulai memasuki kelas sesuai tugas dan fungsi masing-masing, sementara tahap terakhir difokuskan pada pembekalan berdasarkan daerah kerja sebelum seluruh rangkaian diklat ditutup dalam sebuah upacara di lapangan TNI AU.
Setelah kelas tatap muka berakhir, proses belajar ternyata belum selesai. Masih ada kelas daring yang harus diikuti sehingga keseluruhan masa pendidikan dan pelatihan berlangsung selama tiga puluh hari.
Bahkan setelah seluruh rangkaian itu selesai, aktivitas fisik para calon petugas tetap diminta dijaga karena waktu keberangkatan masih sekitar dua bulan lagi.
Fahmi mengira bagian tersulit telah dilalui. Ternyata, perjalanan menuju Tanah Suci masih menyimpan babak berikutnya.

