Lelah yang menjadi amanah
Pengalaman mengantarkan pasangan lansia itu bukan satu-satunya peristiwa yang membekas dalam ingatan Ardhi. Selama bertugas di Tanah Suci, ia mengaku hampir setiap hari bertemu dengan jemaah yang membutuhkan bantuan.
Ada yang terpisah dari rombongan, ada yang lupa arah menuju hotel atau tenda, ada pula yang kebingungan setelah berjam-jam berada di tengah keramaian jutaan manusia.
Karena itulah, ketika ditanya bagaimana rasanya menghadapi jemaah lansia yang tersesat atau sedang sakit, Ardhi tidak berbicara tentang kesulitan yang harus dihadapi petugas. Yang lebih dulu muncul justru rasa iba.
“Trenyuh karena mereka sudah menantikan ini sehingga ketika kehilangan arah, merasa terpanggil untuk segera menghampiri.”
Perasaan itu semakin kuat karena sejak awal ia memang berusaha menempatkan dirinya sebagai anak bagi setiap jemaah lanjut usia yang ditemuinya. Cara pandang itulah yang membuat setiap pertemuan dengan para lansia selalu menghadirkan kesan yang berbeda.
“Bagi saya, membantu mereka bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga bentuk penghormatan kepada orang tua,” prinsipnya.
Di sela-sela tugas itu, ada pula pengalaman lain yang sampai sekarang masih ia kenang. Seorang jemaah pernah kehilangan arah menuju hotelnya. Ardhi kemudian melacak identitas jemaah tersebut melalui gelang yang dikenakan di tangannya hingga akhirnya menemukan nama hotel sesuai data manifes.
Namun ketika diberi tahu, jemaah itu justru bersikeras mengatakan bahwa hotel tersebut bukan tempatnya menginap.
“Muncul nama hotelnya, tetapi yang bersangkutan justru menyangkal,” katanya sambil tersenyum mengenang peristiwa itu.
Ardhi tetap mengantar jemaah tersebut sesuai data yang tercantum dalam manifes. Bahkan ketika sudah tiba di lobi hotel, jemaah itu masih mengatakan bahwa tempat tersebut bukan hotelnya.
Barulah setelah bertemu petugas kloternya sendiri, wajah jemaah itu berubah. Ia tersipu malu karena ternyata hotel yang ditunjukkan Ardhi memang benar tempat ia menginap.
Bagi Ardhi, peristiwa seperti itu justru menjadi pengingat bahwa kondisi fisik yang lelah, cuaca yang panas, dan padatnya aktivitas selama menjalankan ibadah haji bisa membuat siapa saja kehilangan orientasi.
Karena itu, ia memilih menghadapi situasi semacam itu dengan kesabaran. Menurutnya, kesabaran memang menjadi tantangan terbesar ketika harus melayani ribuan jemaah dengan karakter yang berbeda-beda.
“Karena banyak jemaah yang belum mampu mengendalikan emosi dengan baik. Sedikit
saja mengalami pengalaman kurang menyenangkan, nada bicaranya ada yang kurang terkontrol.”
Namun ia memahami bahwa keadaan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh watak seseorang. Kelelahan fisik, tekanan selama menjalankan ibadah, dan situasi yang serba tidak biasa sering kali membuat emosi lebih mudah muncul. Karena itulah, ia merasa petugas harus menjadi pihak yang lebih dulu menahan diri.
Di balik berbagai pengalaman itu, Ardhi juga mengaku pernah berada pada titik ketika tubuhnya hampir tidak sanggup lagi mengikuti ritme tugas. Pengalaman tersebut terjadi ketika bertugas di Mina.
Pada malam pertama, setelah kelelahan menjalani rangkaian tugas dari Arafah, ia belum mendapatkan tempat untuk beristirahat. Dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak, ia akhirnya memutuskan berjalan kaki menuju hotel di Makkah.
Perjalanan itu belum benar-benar berakhir. Keesokan paginya, ia harus kembali berjalan kaki menuju Mina karena mendapat giliran berjaga di pos pantau. Tas besar yang semalam dibawanya kembali dipanggul di pundak.
“Capek, letih, dan badan kurang sehat, tapi memaksakan untuk tidak menyerah,” tuturnya.
Ketika ditanya apakah pernah berada di titik ingin menyerah, jawabannya tidak jauh berbeda. “Hampir menyerah, namun tetap saya paksakan.”
Bagi Ardhi, rasa lelah memang tidak bisa dihindari. Bahkan selama puncak operasional haji, waktu tidurnya dalam sehari kadang hanya sekitar satu jam. “Paling hanya satu jam tidur, tapi terasa nikmat.”
Kalimat itu menggambarkan bagaimana seluruh tenaga seolah dicurahkan untuk menjalankan amanah yang sedang diemban. Di tengah waktu istirahat yang sangat terbatas, ia memilih tetap menjalankan tugas sebaik mungkin.
Yang membuat semangatnya tetap terjaga justru datang dari rumah. Ia mengaku sering mengingat keluarga yang ditinggalkan di Indonesia.
“Ingat keluarga yang di rumah karena pesannya untuk mengabdi di Tanah Suci. Ada banyak doa yang dititipkan sehingga hati tak boleh kendur,” kata anggota MCH Daker Madinah ini.
Bagi Ardhi, pesan dan doa dari keluarga menjadi pengingat bahwa tugas yang sedang dijalaninya bukan hanya tanggung jawab pribadi. Ada harapan yang ikut dititipkan kepadanya sehingga ia merasa tidak boleh menyerah hanya karena rasa lelah.
