MADINAH – Kesempatan menjadi petugas haji tidak datang pada percobaan pertama bagi Ardhi Wahdan. Wartawan Harian Kedaulatan Rakyat itu baru dinyatakan lolos sebagai anggota Media Center Haji (MCH) setelah lima kali mendaftar. Penantian yang tidak singkat itu membuat kabar kelulusannya memiliki arti tersendiri.
Karena itulah, ketika menerima pesan bahwa dirinya lolos sebagai petugas haji, orang pertama yang langsung ia hubungi bukanlah rekan kerja ataupun atasannya di kantor, melainkan ibunya.
“Langsung terlintas ibu. Begitu mendapat pesan informasi lolos sebagai petugas haji, saat itu juga telepon ibu,” kenangnya.
Bagi Ardhi, momen itu menjadi awal dari perjalanan yang sama sekali belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ini adalah kali pertama ia bertugas di Tanah Suci.
Selama berada di Madinah, tugas utamanya tidak berbeda dengan pekerjaan yang selama ini ia jalani sebagai jurnalis, yakni melakukan peliputan, menulis berita, lalu menerbitkannya melalui media tempat ia bekerja.
Namun semakin lama menjalankan amanah sebagai petugas haji, ia merasakan bahwa pekerjaannya tidak lagi sekadar menghasilkan berita.
Ada banyak keadaan yang membuatnya harus hadir sebagai petugas yang melayani, mendampingi, sekaligus membantu jemaah yang membutuhkan pertolongan.
Perasaan itu paling sering muncul ketika memasuki fase Armuzna. Menurut Ardhi, hampir setiap hari ia bertemu dengan jemaah yang kebingungan mencari jalan kembali ke tenda di Mina seusai melempar jumrah.
Di tengah jutaan orang yang bergerak menuju arah yang sama, tidak sedikit jemaah yang terpisah dari rombongan, lupa arah, atau tidak lagi mengenali jalan pulang.
“Hampir setiap momen memiliki keharuan,” ujar anggota MCH 2026 Daker Madinah ini.
Semua jemaah adalah orang tua
Pengalaman-pengalaman itulah yang perlahan membentuk cara pandangnya selama bertugas. Ardhi mengaku sejak awal ia selalu berusaha memandang setiap jemaah yang ditemuinya sebagai orang tua sendiri.
Cara pandang itu bukan muncul begitu saja. Ia berkaitan dengan pengalaman hidup yang sangat pribadi.
“Semua jemaah yang saya layani, sejak awal selalu saya jadikan tameng sebagai orang tua. Qadarullah, ayah saya sudah menghadap Sang Khalik. Sehingga beberapa kali ada orang tua yang berjalan sendirian dan lupa arah pulang, segera saya hampiri. Bagaimanapun, mereka sudah menjadi ayah dalam benak saya. Sosok yang harus dijaga, dilayani, dan dilindungi sekuat tenaga kami,” ungkapnya.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Ardhi benar-benar berusaha menjalankannya setiap kali bertugas di lapangan. Karena itulah, ketika melihat seorang jemaah lansia berjalan sendirian atau tampak kehilangan arah, ia merasa terpanggil untuk segera menghampiri.
Baginya, para jemaah itu bukan lagi orang asing yang baru ditemui di Tanah Suci, melainkan sosok ayah dan ibu yang membutuhkan pertolongan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika fase Armuzna. Hari sudah gelap ketika ia melihat sepasang suami istri duduk bersimpuh di pinggir jalan. Keduanya baru selesai melempar jumrah, tetapi tidak lagi mengetahui jalan kembali menuju tenda di Mina.
Di tengah lalu lintas jemaah yang masih ramai, pasangan lansia itu memilih berhenti karena tidak tahu harus melangkah ke mana. Melihat keadaan tersebut, Ardhi segera menghampiri mereka. Ia kemudian menggandeng tangan sang suami dan memapahnya berjalan menuju tenda di Mina.
Perjalanan itu berlangsung hampir satu jam. Tidak ada jalan pintas yang bisa ditempuh. Yang terpenting baginya saat itu hanyalah memastikan pasangan lansia tersebut dapat kembali bertemu dengan rombongannya.
Setelah akhirnya tiba di tenda, suasana yang semula dipenuhi kebingungan berubah menjadi haru. Pasangan lansia itu berulang kali mengucapkan doa sambil memeluk Ardhi dengan erat sebagai ungkapan terima kasih karena telah mengantarkan mereka kembali.
Bahkan, satu peristiwa yang hingga kini masih ia ingat terjadi sesaat kemudian. “Saya masih ingat betul, beliau menyodorkan uang 500 riyal.”
Ardhi menolak pemberian itu dengan halus. Ia menyampaikan bahwa membantu jemaah memang sudah menjadi tugas petugas haji dan meminta agar uang tersebut digunakan untuk keperluan mereka sendiri selama berada di Tanah Suci.
“Saya sampaikan bahwa ini sudah menjadi tugas kami. Mohon dengan sangat supaya uang tersebut digunakan untuk kebutuhan jemaah.”
Mendengar jawaban itu, pasangan lansia tersebut kembali memeluknya sambil terus memanjatkan doa. Ardhi mengaku memilih segera berpamitan. Bukan karena pekerjaannya telah selesai. Melainkan karena ia tidak ingin orang lain melihat air matanya mulai menetes.
