Jauh dari rumah, dekat dengan jemaah
Bhery bertugas di Madinah lebih dari 70 hari. Selama itu pula ia meninggalkan anak dan istrinya di rumah. Ada satu momen yang terus ia ingat sebelum berangkat: anak pertamanya yang masih kecil menangis dan melarang ayahnya pergi. Beberapa hari sebelum keberangkatan, anak itu bahkan berkali-kali berkata bahwa papanya tak boleh berhaji.
Kenangan itu kerap muncul di sela-sela tugas. Saat malam mulai sepi. Saat tubuh lelah. Saat melihat jemaah-jemaah sepuh yang membuatnya teringat keluarga di rumah. Ia rindu anak, istri, suasana rumah, obrolan biasa, bahkan masakan keluarga.
Tetapi mungkin justru karena jauh dari rumah itulah, jemaah-jemaah Indonesia yang ia temui di Madinah perlahan berubah menjadi keluarga kedua. Ada bapak yang harus diantar karena lupa hotel. Ada jemaah yang kehilangan sandal di pelataran Nabawi. Ada yang terpisah dari rombongan dan hanya bisa bicara bahasa daerah. Ada yang kebingungan karena kartu kamarnya tertinggal di dalam.
Bagi Bhery, membantu mereka membuat keberadaannya di Madinah terasa punya makna yang sangat konkret. Ia tidak sekadar ada untuk mengirim berita. Ia ada untuk berguna.
Bertugas sepenuh hati
Mungkin di situlah musim haji mengubah cara Bhery memandang ibadah. Sebelum datang ke Tanah Suci, ibadah mungkin lebih mudah dibayangkan dalam bentuk shalat, doa, atau ritual-ritual yang akrab bagi seorang Muslim.
“Di Madinah saya menemukan bentuk lain dari ibadah. Meminjamkan sandal, mengantar jemaah pulang ke hotel, mencarikan kursi roda, membuka kamar, atau sekadar menemani orang tua yang ketakutan karena terpisah dari rombongan,” ujarnya.
Ia belajar bahwa pelayanan tidak selalu hadir dalam momen-momen besar. Kadang ia justru datang dalam pekerjaan yang nyaris tak terlihat, yang selesai dalam hitungan menit, dan yang tak akan pernah dianggap penting kalau dikerjakan di luar Tanah Suci. Tetapi di Madinah, di tengah tubuh-tubuh lelah yang datang dari perjalanan panjang, hal kecil semacam itu bisa berarti banyak.
Bhery tak sedang menyelamatkan dunia ketika naik ke lantai tujuh untuk mengantar kunci kamar seorang jemaah. Ia juga tak sedang melakukan sesuatu yang heroik saat membantu membawa konsumsi ke lantai enam.
Ia hanya hadir di saat yang tepat, untuk orang yang sedang membutuhkan bantuan. Mungkin itu saja. Tetapi justru dari situ ia belajar bahwa melayani tamu Allah bukan pertama-tama soal jabatan, seragam, atau pembagian tugas. Ia adalah kesediaan untuk tidak menutup mata ketika ada orang lain yang sedang kesulitan.
Dan kadang, pelajaran itu datang di tempat yang tak terduga. Di lorong hotel. Di pelataran Nabawi. Di samping kursi roda seorang ibu yang tetap ikhlas meski baru kehilangan banyak hal. Atau di tangga darurat Hotel Front Taiba, ketika lift penuh, tubuh lelah, dan satu-satunya pilihan adalah terus naik.
Bhery Hamzah datang ke Tanah Suci sebagai jurnalis yang ditugaskan meliput operasional haji. Tetapi ia pulang dengan sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam: keyakinan bahwa kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi bentuk pengabdian yang paling jujur. Bahwa melayani tamu Allah, pada akhirnya, mungkin memang sesederhana itu.*
