Jemaah yang membawa pelajaran
Musim haji membuat Bhery bertemu dengan banyak orang. Tetapi tidak semua mengendap lama dalam ingatan. Yang membekas justru biasanya mereka yang datang dengan cerita sederhana, lalu diam-diam mengguncang batin.
Salah satunya seorang ibu yang ditemuinya di sekitar Nabawi. Ibu itu sedang sakit dan memakai kursi roda. Bhery bersama rekan-rekannya menghampiri, lalu mendengarkan kisahnya.
Beberapa waktu sebelum berangkat ke Tanah Suci, rumah si ibu sempat kemalingan. Harta bendanya hilang. Di saat yang sama, tubuhnya juga tak lagi sehat. Ia terkena stroke. Kakinya tak bisa dipakai berjalan seperti biasa. Tetapi yang diingat Bhery dari pertemuan itu bukan daftar musibahnya. Melainkan cara si ibu bercerita.
“Ibu itu tidak terdengar marah. Tidak terdengar sibuk menyalahkan nasib. Ia justru menerima semuanya dengan tenang. Kehilangan harta, keterbatasan fisik, rasa sakit, semua diucapkan seperti bagian dari jalan yang memang harus ia lalui sebelum sampai ke Tanah Suci,” tutur Bhery dengan sorot mata yang mendadak sayu.
Bhery mengaku tak kuasa menahan air mata saat mendengar kisah itu. Bukan karena iba semata, melainkan karena merasa sedang dipertemukan dengan keteguhan yang tak gampang dijelaskan. Ia melihat seorang perempuan yang secara fisik rapuh, baru saja tertimpa musibah, tetapi masih bisa memandang takdir dengan lapang.
“Di hadapan jemaah seperti itu, saya merasa justru yang sedang belajar. Belajar tentang ikhlas. Tentang menerima. Tentang cara orang-orang biasa menyimpan kekuatan yang sering tak terlihat dari luar,” ujarnya.
Ada pula seorang jemaah tunanetra yang kisahnya tak kalah menempel di kepala. Dan ceritanya sederhana sekali: sejak muda ia bekerja membantu mengurus sapi. Dari hasil kerja itu ia menabung, lalu membeli sawah. Ketika sawah tersebut laku, hasilnya bukan dipakai untuk berobat, melainkan untuk mendaftar haji. Ia menyebutnya dengan bercanda: Haji Payu. Haji karena sawahnya payu alias laku.
Bagi Bhery, cerita itu bukan sekadar kisah lucu yang enak didengar. Ia melihat sesuatu yang lebih dalam: betapa panggilan berhaji bisa mengalahkan banyak pertimbangan lain yang bagi orang kebanyakan terasa lebih mendesak.
“Ada orang yang menjual sawah demi haji. Ada yang menabung puluhan tahun. Ada yang datang dengan tubuh renta. Ada yang berangkat dalam keadaan sakit. Ada yang secara hitungan dunia mungkin tampak tidak siap, tetapi tetap berangkat karena panggilan itu datang juga,” ungkapnya.
Dan Bhery—sebagai petugas—berdiri di tengah arus manusia dengan cerita-cerita seperti itu. Sulit untuk tidak ikut berubah.
Wajah lansia, bayangan orang tua
Ada satu jenis jemaah yang paling mudah mengguncang hati Bhery: jemaah lansia. Setiap melihat orang-orang tua turun dari bus dengan langkah pelan, atau duduk kelelahan di lorong hotel, ia selalu teringat pada orang tuanya sendiri. Ingatan itu makin kuat ketika ia melihat langsung kerja petugas layanan lansia dan disabilitas.
Mereka membantu jemaah makan, mandi, ke toilet, berpindah tempat, sampai mendengarkan keluhan-keluhan kecil yang mungkin tak akan pernah masuk berita. Semua dilakukan kepada orang-orang yang bukan keluarga mereka, tetapi diperlakukan seperti orang tua sendiri.
Pemandangan seperti itu membuat Bhery sering flashback ke rumah. Ia teringat masa-masa ketika orang tuanya sakit, ketika keluarga harus bergantian menjaga, ketika perawatan bukan lagi soal teori, melainkan soal kesabaran sehari-hari.
Karena itu, saat melihat jemaah sepuh terpisah dari rombongan atau kesulitan berjalan, Bhery nyaris tak pernah bisa tinggal diam. Barangkali karena di wajah-wajah lansia itu, ia melihat bayangan orang tuanya sendiri.
