Sesampainya di Arab Saudi, ia menemukan banyak hal yang berbeda dari bayangannya. Mulai dari kebiasaan masyarakat, cuaca, pola istirahat, hingga lingkungan yang sama sekali berbeda dengan Indonesia.
“Ada perbedaan kebiasaan berperilaku, perbedaan cuaca, perbedaan pola istirahat, dan perbedaan lingkungan,” ujarnya.
Namun semua perubahan itu tidak menjadi hambatan berarti. Bagi Diki, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci penting dalam menjalankan tugas sebagai petugas haji.
Apalagi tugas yang ia emban sesungguhnya sederhana namun memiliki makna besar. “Bertugas sebagai petugas haji Indonesia melayani tamu-tamu Allah SWT,” katanya.
Kalimat itu berulang kali muncul dalam berbagai jawabannya. Seolah menjadi kompas yang terus mengarahkan langkahnya selama berada di Arab Saudi.
Karena itulah, ketika ditanya apa arti haji secara pribadi, ia tidak berbicara tentang gelar atau status sosial. “Haji adalah mengubah hidup yang sudah baik menjadi lebih baik lagi secara istiqamah,” jawabnya.
Ia juga mengaku tidak pernah menangis selama berada di Tanah Suci. Namun bukan berarti hatinya tidak tersentuh. “Tidak pernah menangis, tetapi terharu, iya.”
Momen itu datang ketika dirinya menyambut kedatangan para jemaah Indonesia yang baru mendarat.
Melayani tamu-Nya
Di tengah hiruk-pikuk bandara, deretan koper, dan antrean panjang jemaah, Diki melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar proses kedatangan. Ia melihat orang-orang yang baru saja memenuhi panggilan Allah.
“Yang paling menyentuh adalah bisa menjalankan panggilan untuk melayani tamu-tamu Allah sekaligus menjadi tamu-Nya juga di Tanah Suci,” ujarnya.
Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa segala sesuatu akan terasa ringan jika dijalani dengan keimanan.
Ketika ditanya apa hal tersulit yang mungkin tidak diketahui banyak orang, jawabannya lagi-lagi sederhana. “Tidak ada. Semua dimudahkan atas dasar keimanan diri.”
Bahkan soal doa pun, Diki memiliki pandangan yang tenang. “Berdoa di mana saja sama. Yang penting yakin dengan doanya,” kata dia.
Karena itu, kebiasaan yang paling ia jaga selama bertugas bukan ritual khusus, melainkan kedisiplinan, yaitu disiplin bertugas melayani tamu-tamu Allah SWT.
Menjelang akhir musim haji, Diki sudah tahu apa yang ingin ia bawa pulang dari perjalanan ini. Bukan oleh-oleh, bukan pula cerita tentang megahnya bangunan-bangunan di Tanah Suci. Ia ingin membawa pulang semangat kebaikan.
“Kebaikan dan dakwah untuk umat agar menyegerakan menyempurnakan rukun Islam kelima, yaitu berhaji,” katanya.
Dan jika seluruh perjalanan itu harus diringkas dalam satu kalimat, Diki tampaknya sudah menemukan jawabannya sejak awal. Ia datang bukan untuk mencari pengalaman pribadi, bukan pula untuk mengejar cerita tentang dirinya sendiri.
Musim haji suatu saat akan berakhir. Jemaah akan kembali ke kampung halaman masing-masing dengan cerita dan pengalaman spiritual yang mereka bawa pulang. Namun bagi Diki Firmansyah, ada pelajaran lain yang akan tetap tinggal jauh lebih lama daripada perjalanan itu sendiri.
Dari bandara tempat ribuan jemaah datang dan pergi, ia belajar bahwa melayani adalah bagian dari ibadah. Bahwa di balik setiap wajah yang tiba dengan harapan dan pulang dengan kebahagiaan, selalu ada orang-orang yang bekerja dalam senyap untuk memastikan semuanya berjalan baik.
Dan selama amanah itu masih ada, Diki ingin tetap menjadi bagian dari cerita tersebut: menyambut, melayani, dan mengantar tamu-tamu Allah dalam perjalanan paling penting dalam hidup mereka.*
