MADINAH – Deretan koper bergerak perlahan di area kedatangan. Petugas sibuk berkoordinasi. Sementara satu per satu jemaah haji Indonesia melangkah keluar dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa haru.
Di tengah suasana itulah Diki Firmansyah menjalani hari-harinya sebagai anggota Media Center Haji (MCH) Daker Bandara. Bukan sekadar meliput atau mendokumentasikan perjalanan para tamu Allah, ia juga menjadi bagian dari sistem pelayanan yang menyambut kedatangan mereka di Tanah Suci.
Dari titik itu, Diki belajar bahwa haji bukan hanya tentang perjalanan spiritual jemaah, tetapi juga tentang pengabdian mereka yang mendapat amanah untuk melayani.
Ia datang bukan sebagai jemaah, melainkan sebagai pelayan bagi para tamu Allah. Karena itu, sejak pesawat mendarat dan langkah pertama menjejakkan kaki di Tanah Suci, pikirannya langsung tertuju pada amanah yang harus dijalankan.
Umrah pertama dan rasa takjub
Meski demikian, ada satu momen yang tetap membekas dalam ingatannya. “Momen paling berkesan sejak tiba di sini adalah bisa menjalankan umrah wajib dalam suasana yang kondusif, tidak sumpek,” ucapnya.
Di tengah kesibukan melayani jemaah, kesempatan menunaikan ibadah itu menjadi pengalaman yang menenangkan. Sebuah ruang hening yang membuatnya merasakan langsung suasana spiritual yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang lain.
Saat pertama kali melihat bangunan suci yang selama ini menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia, Diki mengaku tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. “Takjub dengan arsitekturnya yang indah dan megah,” ujarnya.
Rasa takjub serupa juga muncul ketika pertama kali memasuki Masjid Nabawi. Namun berbeda dengan banyak orang yang datang untuk berziarah atau beribadah, Diki merasa kedatangannya kali ini memiliki fokus yang jelas.
Ketika ditanya apakah ada momen yang membuatnya berhenti sejenak untuk menikmati suasana, ia menjawab lugas. “Tidak ada, karena kedatangan saya sebagai petugas haji Indonesia.”
Kalimat itu menggambarkan bagaimana ia memaknai tugasnya. Ada tanggung jawab yang harus didahulukan sebelum menikmati pengalaman pribadi.
Sebelum berangkat ke Arab Saudi, Diki mengaku tidak melakukan persiapan yang rumit. Baginya, yang terpenting adalah memastikan kondisi fisik dan mental berada dalam keadaan terbaik.
“Sebelum berangkat saya menyiapkan fisik dan mental sehat untuk menjadi petugas haji Indonesia,” katanya.
Melihat haji sebagai pengabdian
Perjalanan hidup yang membawanya hingga berada di Tanah Suci juga tidak ia lihat sebagai sesuatu yang luar biasa rumit. Ia justru memilih menjalani hidup dengan prinsip sederhana: berprasangka baik dan menjalani segala sesuatu tanpa terlalu banyak beban.
“Berprasangka baik dan nothing to lose terhadap perbuatan apa saja,” ujarnya.
Mungkin karena itulah ia mengaku tidak pernah merasa hidupnya penuh perjuangan berat. “Kalau jujur, hidup saya termasuk mudah,” katanya sambil tersenyum.
Sikap yang sama juga terlihat dalam cara pandangnya terhadap berbagai tantangan selama bertugas. Ketika ditanya apakah pernah merasa tidak kuat menjalani tugas atau ibadah, jawabannya singkat. “Tidak pernah.”
Begitu pula ketika ditanya apakah ada keputusan besar yang harus diambil sebelum berangkat. “Tidak ada. Gaaaas terus.”
Di balik jawaban yang ringan itu tersimpan keyakinan yang kuat. Ia melihat kesempatan bertugas di Tanah Suci sebagai panggilan yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan.
“Ini perjalanan panggilan langsung dari Allah SWT yang harus dipatuhi sekaligus menyempurnakan rukun Islam kelima sebagai muslim yang beriman,” katanya.
Sebelum berangkat, ia membayangkan ibadah haji seperti sebuah perjalanan mendaki gunung.
“Saya membayangkan seperti perjalanan mendaki gunung. Ada fase berjalan, kemudian pada satu titik yaitu Padang Arafah kita akan bermukim atau berwukuf pada waktu yang sementara,” tuturnya.
Perumpamaan itu menggambarkan bahwa haji bukan hanya soal perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan batin yang memiliki tahapan-tahapan tertentu.

