MADINAH — Di tengah mulai berkurangnya kepadatan layanan pasca-puncak ibadah haji, Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Dendi Suryadi, mengingatkan para petugas haji Indonesia agar tidak kehilangan fokus. Baginya, tugas belum benar-benar berakhir sebelum seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dan tiba di rumah masing-masing dengan selamat.
Pesan itu disampaikan Dendi saat mengunjungi Sektor 3 Daerah Kerja (Daker) Madinah, Rabu (10/6/2026). Usai mengikuti apel pagi bersama petugas haji, ia melihat langsung bagaimana suasana kerja dan kekompakan yang terbangun di lingkungan Daker Madinah selama masa operasional haji berlangsung.
Menurut Dendi, apel pagi bukan sekadar rutinitas administratif. Di tengah kompleksitas penyelenggaraan haji yang melibatkan banyak jenis layanan dan ribuan petugas, apel menjadi instrumen penting untuk menjaga konsolidasi organisasi.
“Ya, teman-teman sekalian, apel ini sudah saya dapat laporan dari Kadaker Madinah kan sudah hal yang rutin. Dan saya kira teman-teman semua menyadari bagaimana pentingnya apel tersebut ya, karena seperti yang saya sampaikan, apel itu adalah sebenarnya sarana konsolidasi,” kata Dendi.
Ia menjelaskan bahwa besarnya tanggung jawab pelayanan membutuhkan mekanisme pengendalian agar seluruh unsur organisasi tetap siap menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
“Dari menghadapi suatu pekerjaan yang banyak kan, banyak jenis layanan, sehingga perlu adanya alat kendali untuk supaya organisasi para petugas ini terus siap, terus solid gitu.”
Dari pengamatannya selama berada di Madinah, Dendi melihat suasana kerja yang hangat dan penuh kebersamaan. Menurutnya, kekompakan menjadi modal penting agar pelayanan kepada jemaah tetap berjalan optimal hingga fase pemulangan selesai.
“Salah satunya ya berkumpul dalam apel tersebut. Dan saya lihat tadi di Daker ini, suasananya sejak kemarin saya datang guyub, bagus. Nyaman suasana kerjanya, terus suasana keakrabannya juga kelihatan. Nah, ini penting kekompakan ini untuk supaya kita sebagai petugas haji bisa bekerja secara optimal.”
Terima kritik dengan lapang dada
Memasuki lebih dari 50 hari masa operasional haji, Dendi menilai setiap unit kerja sudah memiliki gambaran mengenai capaian yang berhasil diraih maupun aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki.
Karena itu, ia meminta seluruh petugas menjaga sikap terbuka terhadap berbagai penilaian yang muncul, baik pujian maupun kritik dari masyarakat dan jemaah.
“Ya, masing-masing bagian tentunya sudah tahu ya, unit-unit apa yang berhasil, target yang diinginkan yang sudah dicapai, dan apa-apa yang masih harus disempurnakan ke depan.”
Bagi Dendi, evaluasi dan kritik merupakan bagian penting dari proses penyempurnaan layanan haji yang tahun ini dikelola untuk pertama kalinya oleh Kementerian Haji dan Umrah.
Jemaah pulang dengan selamat
Meski fase puncak haji telah berlalu, Dendi mengingatkan bahwa pekerjaan terbesar belum sepenuhnya selesai. Fokus kini bergeser pada proses pemulangan jemaah ke Indonesia.
“Dan saya berpesan jangan lengah, karena ini tugas belum berakhir. Ukurannya itu nanti jemaah terakhir bisa kembali ke rumahnya dengan aman. Karena memang itulah, kita ini kan representasi dari negara. Kita penyelenggara negara di bidang haji.”
Ia meminta seluruh petugas tetap menjaga semangat dan konsistensi pelayanan hingga masa tugas berakhir pada awal Juli mendatang.
“Jadi teman-teman semua tetap istiqamah. Masih nanti sampai kalian pulang tanggal 1 Juli ya. Mudah-mudahan semua lancar, diamankan, dan jemaah kita merasa puas dalam melaksanakan haji.”
Dendi juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan haji tahun ini akan menjadi bahan evaluasi besar untuk perbaikan layanan pada musim haji berikutnya. Evaluasi tersebut akan dilakukan tidak hanya oleh internal kementerian, tetapi juga melibatkan berbagai lembaga pengawas eksternal.
Ia mengakui bahwa sebagai penyelenggara baru, masih banyak pelajaran yang diperoleh selama proses operasional berlangsung.*
