Hidayah yang tumbuh perlahan
Pratiwi mengingat 2023 sebagai titik awal perubahan dalam hidupnya. Saat pertama kali menunaikan umrah dan melihat Baitullah, ia merasa hatinya dirangkul oleh Sang Khalik. Sejak itu, setiap bepergian ke luar rumah, ia mulai mengenakan hijab.
Semuanya berjalan mengalir. Sebagai presenter berita, bersiaran dengan hijab memang belum menjadi kebijakan redaksi. Karena itu, hijab yang dikenakannya masih lepas-pasang. Ia mengaku masih belajar. Saat pergi ke kantor pun, ia belum mengenakannya.
Orang yang paling dahulu menyaksikan proses itu adalah suaminya. Menurut Pratiwi, suaminya tidak pernah memaksanya. Meski memiliki kewajiban sebagai suami untuk meminta istrinya menutup aurat, ia memilih tidak melakukannya.
Baginya, hijab adalah bentuk ketaatan seorang muslimah kepada Penciptanya, bukan sesuatu yang lahir karena paksaan. Yang ia lakukan adalah terus berdoa agar hidayah itu datang.
Tiga tahun berlalu. Pratiwi merasa Allah terus merangkul, memeluk, dan menyayanginya melalui berbagai nikmat yang diberikan. Sampai pada satu titik, menurutnya, tidak ada lagi alasan untuk tidak mematuhi apa yang diperintahkan-Nya.
Pada saat yang hampir bersamaan, kerinduannya kepada Tanah Suci juga semakin besar. Pada momen hari jadi pernikahan mereka pada 2024, suaminya menghadiahkan pendaftaran haji khusus. Pratiwi mengaku ingin kembali ke Baitullah dan berharap dapat tinggal lebih lama di Madinah.
Saat itu ia sempat mengatakan ingin umrah setiap tahun. Namun suaminya mengajaknya melihat keinginan itu dari sudut yang berbeda.
Menurut Pratiwi, suaminya mengusulkan agar rezeki yang ada lebih dahulu digunakan untuk memberangkatkan kedua orang tua mereka ke Tanah Suci karena keduanya belum pernah umrah. Baginya, ibadah juga harus mengutamakan keadilan.
Keinginan itu akhirnya terwujud. Kedua orang tuanya berangkat umrah pada November 2025, bertepatan dengan ulang tahun sang ibu.
Melalui orang tuanya, Pratiwi menitipkan doa, terutama keinginannya untuk bisa berhaji.
Saat itu pendaftaran petugas haji bahkan belum dibuka. Ia mengaku sama sekali tidak menyangka bahwa tes petugas haji yang kemudian diikutinya justru menjadi jalan untuk memenuhi doa tersebut.
“Ternyata di situ jawaban muncul. Allah mengundangku lewat jalur sebagai petugas.”
Menurut Pratiwi, semua yang ia harapkan seolah terjawab melalui jalan itu. Ia dapat kembali bertemu Baitullah, tinggal lebih lama di Madinah selama bertugas di Daerah Kerja Madinah, dan menyempurnakan rukun Islam meski belum bersama suaminya.
Menjaga istiqamah
Sekembalinya dari Tanah Suci, ia mengambil keputusan yang selama ini dipersiapkan dalam proses panjangnya. Ia meminta restu kepada suaminya untuk mengenakan hijab sepenuhnya. Jawaban yang diterimanya masih ia ingat.
“Alhamdulillah, ini yang kutunggu-tunggu.”
Pratiwi mengaku menangis mendengar jawaban itu. Setelah meminta restu suami, ia juga meminta ridha kedua orang tuanya.
Ia sempat mengkhawatirkan keputusan tersebut karena dapat berdampak pada kariernya sebagai presenter berita di layar kaca. Namun, menurutnya, jawaban kedua orang tuanya justru semakin menguatkan langkah yang sudah dipilih.
Ia menyadari ada kemungkinan harus meninggalkan pekerjaannya sebagai presenter. Meski demikian, ia mengatakan masih dapat berkarya dari balik layar karena sehari-hari juga menjalankan tugas sebagai Executive Producer.
Ia tetap berdoa. Jika kesempatan berkarier di depan layar masih terbuka, ia akan menjalaninya. Namun jika tidak, ia mengatakan hatinya tidak akan goyah untuk tetap pada ketetapan imannya sebagai seorang Muslimah.
“Banyak wanita Muslimah menginspirasi yang menemukan jalan pulang namun tetap dicurahkan banyak pintu rezeki.”
Kini, menurut Pratiwi, tugasnya tinggal satu. Istiqamah. Ia mengakui jalan itu tidak mudah. Namun ia yakin bisa menjalaninya atas ridha Allah. Perjalanan sebagai petugas haji, menurutnya, telah mengubah cara pandangnya memaknai hidup.
“Dengan segala lebih dan kurangnya selama pelayanan terhadap jemaah haji Indonesia, kuyakin tak sedikit pula yang merasakan hal sama dalam hidup mereka.”
Di akhir penugasannya, Pratiwi Kusuma menyimpan satu keyakinan yang lahir dari seluruh perjalanan itu. “Perjalanan haji ini benar-benar membuka mataku bahwa kasih sayang Allah sungguh luas. Dan hidayah-Nya amatlah membekas. Mohon doanya.”*
