Pengalaman lain datang saat mendampingi rombongan sembilan jemaah yang akhirnya berhasil masuk Raudhah.
Di Tanah Suci, terutama pada musim haji, masuk Raudhah bukan perkara sederhana. Jadwal, tasrih (semacam surat keterangan), dan aturan yang ketat sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Tetapi yang paling berat justru bukan soal teknis. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah ketika bertemu jemaah yang bersikeras masuk tanpa jadwal resmi.
“Ada yang keras kepala ingin masuk Raudhah padahal belum dapat tasrih ataupun jadwal Nusuk,” ujarnya.
Di situ kesabaran petugas diuji. Karena melayani bukan hanya tentang membantu. Tetapi juga menjelaskan, menenangkan, dan memahami.
Di antara banyak kisah jemaah yang ia temui, ada dua nama yang sulit dilupakan: Mbah Sardjo dan Nenek Jumaria. Nama-nama itu bukan sekadar objek liputan. Bukan pula sekadar tokoh berita. Mereka mengingatkan Pratiwi pada orang tuanya sendiri.
Tentang perjuangan. Tentang keterbatasan. Tentang perjalanan hidup panjang yang akhirnya berujung di Tanah Suci. Ia percaya, panggilan haji memang tidak mengenal batas. Bukan soal kaya atau miskin. Bukan soal kuat atau lemah. Tetapi soal siapa yang dipanggil Allah.
Dan kisah-kisah seperti itu berkali-kali membuat hatinya luruh.
Kekompakan sejawat
Rutinitas petugas haji nyaris tak mengenal waktu. Mode standby berlangsung 24 jam. Kapan saja bisa dipanggil. Ke mana saja bisa bergerak. Tidur pun terkadang hanya dua atau tiga jam sehari. Tetapi anehnya, ia tak merasa sedang menjalani beban.
“Alhamdulillah saya tidak menemukan kesulitan berarti karena kekompakan teman-teman,” ungkapnya.
Di tengah ritme yang berat, tim menjadi keluarga baru. Mereka saling mengisi. Saling menutupi kekurangan. Saling menguatkan. Meski tentu saja tak semua berjalan sesuai ritme dan kebutuhan masing-masing. Namun begitulah tim bekerja.
Di balik segala kesibukan itu, ada ruang sunyi yang diam-diam terasa kosong. Anak, suami, dan orang tua. Merekalah yang paling ia rindukan. Video call singkat dengan keluarga menjadi sesuatu yang amat berharga.
Di tengah keramaian manusia di Tanah Suci, ada bagian dalam dirinya yang tetap merindukan rumah.
Kebaikan kecil yang tak biasa
Perjalanan sebagai petugas haji juga mengubah cara pandangnya terhadap ibadah. Dulu mungkin ia memandang ibadah sebagai sesuatu yang besar. Sesuatu yang harus monumental. Tetapi Tanah Haram mengajarkan hal berbeda.
“Hal sekecil apa pun yang bermanfaat bagi sesama ternyata bagian dari ibadah mencari ridha Allah,” tuturnya.
Bahkan membantu mendaftarkan Nusuk seorang jemaah pun meninggalkan jejak mendalam.
Suatu hari, seorang jemaah mengucapkan terima kasih kepadanya. Karena berkat bantuan sederhana itu, sang jemaah akhirnya bisa melihat makam Rasulullah. Saat itu Pratiwi terdiam. Barangkali memang begitulah cara Allah bekerja.
Kebaikan-kebaikan kecil yang tampak biasa di mata manusia, justru menjadi sesuatu yang besar di sisi-Nya. Kini ia memahami satu hal. Di Tanah Suci semua atribut perlahan luruh: jabatan, profesi, status, semuanya tertinggal.
Yang tersisa hanyalah seorang manusia yang datang membawa dosa dan harapan. “Hanya seorang hamba yang banyak dosa dan lalai,” katanya.
Dan mungkin di situlah seluruh perjalanan ini bermuara. Bahwa pada akhirnya, petugas haji bukan hanya tentang melayani jemaah. Tetapi tentang perjalanan pulang untuk mengenali diri sendiri.*
