MADINAH – Bagi banyak orang, menjadi petugas haji mungkin terlihat seperti pekerjaan penuh kehormatan. Mengenakan seragam, berada di Tanah Suci, dan membantu ribuan jemaah dari Indonesia. Namun bagi Putri Anggia, amanah tersebut justru datang bersama rasa takut yang besar.
“Waktu pertama kali mendapat amanah ini, rasanya campur aduk,” ucapnya pelan.
Ini adalah kali pertama Putri bertugas di Arab Saudi sebagai bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026. Di balik rasa syukur karena dipercaya melayani tamu Allah, ada kegelisahan yang terus mengikutinya sebelum berangkat.
“Bagi saya ini sebuah kehormatan. Tugas mulia yang selama ini saya pikir hanya untuk orang-orang istimewa yang dipilih Allah. Tapi setelah itu yang terlintas justru rasa takut. Takut tidak mampu. Takut mengecewakan jemaah,” ujarnya.
Sebab ia sadar, orang-orang yang datang ke Tanah Suci bukan sekadar pelancong biasa. Mereka membawa doa panjang, tabungan bertahun-tahun, bahkan harapan terakhir dalam hidup mereka.
Di Daker Madinah, Putri bertugas sebagai anggota Media Center Haji (MCH), pewarta pelaksanaan haji. Pekerjaannya memastikan informasi terkait layanan haji bisa tersampaikan dengan baik kepada jemaah maupun masyarakat di Indonesia. Namun di lapangan, batas antara tugas formal dan kemanusiaan sering kali melebur.
“Tugas petugas haji itu sering melampaui jobdesk. Kadang yang dibutuhkan jemaah bukan jawaban, tapi ditemani. Tidak harus solusi cepat, tapi yang penting ditenangkan dulu,” ungkapnya.
Hari-harinya dipenuhi koordinasi, pengiriman naskah dan foto, menjawab pertanyaan jemaah, hingga membantu mereka yang kebingungan di hotel atau pelataran masjid. Kadang sambil jalan, ia selalu memegang ponsel. Koordinasi, kirim laporan, hingga menjawab pertanyaan jemaah. Intinya memastikan semuanya aman.
Cerita yang berbeda
Namun dari sekian banyak pengalaman, ada satu keyakinan yang terus tumbuh dalam dirinya: setiap jemaah memiliki cerita perjuangan masing-masing.
“Saya percaya perjalanan haji setiap orang membawa cerita sendiri-sendiri. Makanya setiap melihat wajah jemaah, hati saya selalu tersentuh,” tutur Putri.
Ia sering membayangkan bagaimana para jemaah itu berjuang sebelum akhirnya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci. Ada yang menabung bertahun-tahun, menjual aset, menahan keinginan pribadi, bahkan menunggu usia senja.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah cerita tentang Mbah Sarjo. Jemaah lansia itu berangkat haji dalam kondisi kehilangan penglihatan. Untuk bisa berhaji, ia sampai menjual sawah miliknya.
“Ketika kami tanya kenapa tetap ingin berangkat haji, beliau bilang mungkin usianya tidak akan lama lagi. Haji adalah satu-satunya keinginan yang ingin diwujudkan di akhir hayatnya,” kenang Putri.
Cerita seperti itu membuat Putri berkali-kali terdiam. Apalagi kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak puluhan tahun lalu. Karena itu, setiap kali bertemu jemaah lansia, ada ruang kosong dalam dirinya yang seperti disentuh kembali.
“Kadang rasanya seperti sedang menjaga orang tua sendiri yang dulu belum sempat saya bahagiakan lebih banyak,” ujarnya sambil menarik napas panjang, seperti sedang memungut kembali kenangan lama.
Momen-momen kecil justru sering menjadi penghangat di tengah kelelahan panjang. Ia bercerita bagaimana wajah jemaah bisa langsung berubah cerah hanya karena dibantu mengaktifkan aplikasi Nusuk.
“Mereka senyum, lalu kegirangan. Hal kecil begitu saja sudah bikin hati hangat,” tutur Putri sambil tertawa kecil.
Namun tugas di lapangan tentu tidak selalu mudah. Salah satu situasi paling sulit adalah menghadapi jemaah tersesat yang panik sementara bahasa yang digunakan tidak ia pahami.
Jika mengalami hal seperti itu, biasanya ia meminta jemaah yang bersangkutan untuk tenang dulu. Mencari identitasnya, lantas meminta bantuan petugas-petugas sektor. Dalam kondisi seperti itu, kata Putri, petugas dituntut bukan hanya cepat, tetapi juga lembut dan sabar.

