Ragam karakter manusia
Menurut Putri, tantangan terbesar dalam melayani jemaah Indonesia adalah memahami beragam karakter manusia.
“Ada yang mudah memahami arahan, ada yang harus dijelaskan berkali-kali, ada yang emosional karena lelah. Jadi petugas harus punya hati yang luas dan tidak gampang emosi,” katanya.
Meski pekerjaan nyaris tanpa jeda, ia mengaku belum pernah sampai ingin menyerah. Salah satu alasan terbesarnya adalah solidaritas antarpetugas. Ia bersyukur dikelilingi kawan-kawan petugas yang baik dan solid. Itu yang menjadi penguatnya dalam menjalani hari-hari di Tanah Suci.
Ada pula momen-momen sederhana yang diam-diam begitu membekas. Seperti ketika seorang nenek mengucapkan terima kasih sambil mendoakannya panjang lebar setelah dibantu.
“Bantunya sedikit, tapi doanya banyak,” kata Putri sambil tersenyum.
Di Tanah Suci, jurnalis Garuda TV ini merasa manusia benar-benar dipertemukan dalam posisi yang sama di hadapan Allah.
“Di sini saya melihat orang kaya, orang sederhana, pejabat, petani, semuanya menangis di tempat yang sama,” ujarnya.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya tentang ibadah. Dulu mungkin ia melihat ibadah lebih sebagai kewajiban pribadi. Tapi di sini ia belajar bahwa dimensi ibadah itu begitu luas.
Melayani jemaah, menenangkan yang panik, membantu lansia berjalan, hingga memastikan informasi tersampaikan dengan benar, semuanya terasa menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.
Tangis sunyi di kesendirian
Di balik kesibukan yang nyaris tak berhenti, ada juga malam-malam ketika dirinya diam-diam menangis. Biasanya setelah hari yang sangat panjang, atau ketika melihat jemaah yang begitu tulus bersyukur atas hal-hal yang sering dianggap biasa oleh orang lain.
“Kadang saya lihat mereka berdoa dengan sangat tulus, lalu saya ikut menangis diam-diam,” ucapnya pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kerinduan terhadap rumah pun tak bisa dihindari. Yang paling ia rindukan bukan hal besar, melainkan anak perempuannya dan empat kucing peliharaannya di rumah.
Menjelang musim haji berakhir, ada satu hal yang paling ingin ia bawa pulang dari perjalanan ini: cerita tentang ketulusan manusia.
“Di sini saya melihat banyak ketulusan yang mungkin jarang ditemui di tempat lain. Ketulusan jemaah, ketulusan petugas, dan ketulusan orang-orang yang hanya ingin ibadahnya diterima Allah,” tuturnya.
Bagi Putri, melayani tamu Allah bukan sekadar pekerjaan pelayanan publik, tapi melayani dengan hati yang tidak perhitungan. Sebab, yang dihadapi bukan sekadar manusia yang sedang bepergian.
“Tapi orang-orang yang sedang memenuhi panggilan paling besar dalam hidupnya,” tandas Putri.*
