JAKARTA – Aksi panggung komedian Pandji Pragiwaksono melalui special show bertajuk Mens Rea pada penghujung Desember 2025 lalu bukan sekadar aksi komedi biasa. Berbekal substansi politik yang kuat dan dibungkus oleh sindiran dan lelucon tajam terhadap fenomena politik dan beberapa figur penting nasional, ia sukses menimbulkan diskursus, perdebatan, dukungan, bahkan kegeraman dari pihak-pihak yang ia singgung.
Merespons berbagai serangan balik yang muncul pasca aksi panggung tersebut, Pandji berargumen bahwa Mens Rea bertujuan untuk mengubah pola pikir publik agar lebih kritis dalam menggunakan hak-hak politiknya. Seberapa relevan dan efektif mekanisme komedi politik untuk membangun keberanian politik di masyarakat sebagai pemegang daulat rakyat?
Apa yang hendak diproduksi sebagai resultante dari pertujukan tersebut sejatinya adalah keberanian, bukan sekadar kesadaran. Jika hanya kesadaran, masyarakat Indonesia yang didominasi oleh sebagian besar generasi muda dan kelas menengah pada dasarnya sudah banyak yang melek politik. Pemilu 2024 lalu yang hingar bingar telah menjadi wadah artikulasi dan agregasi kepentingan bagi mayoritas generasi muda yang memiliki hak pilih dalam Pemilu.
Demikian pula aktivisme masyarakat di media sosial yang sangat masif telah membuat politik menjadi menu santapan mereka sehari-hari. Namun demikian, persoalan terpentingnya bukan di situ. Kapasitas untuk menajamkan literasi politik sangat penting di tengah sirkumstansi politik nasional yang penuh distorsi dari pemegang kepentingan. Dan, yang terpenting adalah keberanian untuk merubah sistem politik menjadi lebih bersih dan sehat bagi masyarakat melalui partisipasi secara aktif dalam sistem politik.
Ilusi dan demokrasi semu
Indonesia hari ini sejatinya masih terjebak pada transisi demokrasi. Bahkan pada pandangan yang lebih ekstrem, Indonesia justru berkubang dalam pseudo-demokrasi. Pseudo-demokrasi dalam dinamikanya menghasilkan ilusi demokrasi yang membuat apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan rakyat seolah-olah terpenuhi, padahal tidak. Sebagai contoh, Pemilu langsung seolah-olah menjunjung tinggi daulat rakyat, tapi sejatinya menjadi instrumen yang menyuburkan praktik politik uang secara vetikal dan horizontal, serta pembodohan terhadap rakyat.
Rakyat diberikan hak memilih tanpa disokong oleh pendidikan dan penguatan kapasitas politik yang baik untuk memilih wakil-wakilnya. Maka dari itu, tak heran jika rakyat hanya sekadar mencoblos, diarahkan, tanpa tahu siapa dan apa yang menjadi poin penting bagi mereka dalam memilih wakil-wakilnya. Ilusi demokrasi yang tak kalah mengerikan adalah bagaimana kebijakan-kebijakan ditelurkan dengan mengatasnamakan rakyat, tapi sejatinya justru menimbulkan kemiskinan dan pembodohan struktural di masyarakat itu sendiri.
Pertunjukan Mens Rea mampu membaca situasi yang ada, memecah ilusi demokrasi dan memecah selaput pseudo-demokrasi yang menyelubungi negeri ini dalam periode waktu yang jujur tidak pernah kita sadari. Tatakala politik nasional penuh sesak oleh buzzer bayaran, kaum relawan yang mencari rente politik, akademisi dan intelektual yang mengkhianati kebenaran, pers yang partisan, kaum terdidik yang cenderung diam dan tidak mengambil risiko, Pandji dan Mens Rea yang dibawakan mampu menjadi angin segar yang menyaput kesadaran kognitif masyarakat yang selama ini dininabobokan.
Mereka bukan hanya sadar, tapi secara perlahan akan tergelitik keberaniannya. Keberanian menjadi modal sosial politik yang mahal yang harus dirawat agar tetap hidup di masyarakat. Dengan keberanian, setiap warga negara tak akan segan menyuarakan haknya sebegai pemegang daulat, mengkritisi praktik yang menyimpang, bahkan menghakimi wakil-wakilnya yang duduk di eksekutif dan legislatif apabila menyalahi amanah yang diberikan.
Mens Rea terbilang cerdas dalam melihat peluang. Ia menolak bodoh karena sejatinya di era yang menjunjung tinggi demokrasi saat ini, kebebasan berekspresi dan menyuarakan kepentingan bukanlah sesuatu yang harus dibelenggu dengan kekerasan seperti era orde baru. Bisa dibayangkan apabila Mens Rea dihadirkan di era Orde Baru, sudah dipastikan sosok Pandji akan dicap sebagai setan gundul, ditertibkan, atau bahkan dihilangkan.
Mens Rea menolak stagnan, hadir sebagai debottlenecking. Jujur saja, mungkin saja mekanisme edukasi politik melalui orasi ilmiah, siniar politik, atau tulisan-tulisan kritis di media hanya memiliki spektrum kecil dalam memantik kesadaran dan keberanian masyarakat. Mens Rea hadir dengan instrumen yang lebih segar- derai tawa pemirsa dengan kesadaran dan keberanian politik yang mulai terpantik. Mens Rea seolah hendak berkata, “ketika semua tidak efektif mengedukasi masyarakat secara politik, maka komedi harus bicara”.
Spektrum dan daya jangkau luas
Jika kita hendak sedikit menoleh ke belakang, apa yang dilakukan oleh Pandji serupa dengan ikhtiar yang dilakukan oleh sastrawan, Seno Gumira Adjidarma. Seno adalah sedikit dari sekian banyak sastrawan yang terpantik kesadarannya untuk melawan rezim yang tak ramah terhadap rakyat. Seno pada waktu itu, hadir dengan langgam perlawanan yang menggelegar, yakni ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Ketika jurnalisme disumbat oleh seribu satu kendala, mulai dari kendala bisnis, bredel, embargo, hingga manipulasi fakta, sastra hadir dengan keberaniannya menyuarakan kebenaran.
Kritik-kritik keras terhadap pemerintah disuarakan oleh para seniman melalui cerpen-cerpen yang mudah dikunyah, pembacaan puisi yang lugas dan menukik, pertunjukan teater, dan masih banyak lagi. Sebagai konsekuensinya, banyak seniman yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara orde baru yang terkenal tak ramah terhadap para pengkritik.
Artikulasi dan agregasi kepentingan melalui komedi tentu lebih praktis, dan juga efektif dalam mengedukasi masyarakat secara politik. Suka tidak suka, komedi mempunyai spektrum dan daya jangkau yang lebih luas ketimbang jurnalisme dan sastra. Jurnalisme akan berbenturan dengan literasi masyarakat yang masih harus ditingkatkan. Sastrawan akan berbenturan dengan fakta bahwa hanya sedikit masyarakat yang berkubang dalam ekosistem seni.
Sedangkan komedi adalah sesuatu yang selalu membersamai masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Komedi dapat membuat orang menertawakan kemiskinan dan nasib sialnya sendiri. Komedi dapat membuat banalitas hidup menjadi sesuatu yang tidak harus selalu dimurungi. Ceruk ini yang diambil oleh Mens Rea. Politik yang berat dengan segala teori dan praksisnya menjadi lebih mudah dikunyah oleh masyarakat di segala lapis sosial apapun.
Semua harus bergerak
Tentu saja politik baik sistem maupun sirkumstansinya adalah sesuatu yang besar. Politik tidak bisa dibenahi hanya melalui mekanisme komedi, apalagi semata bersandar pada Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono yang sewaktu-waktu dapat di-take down oleh pemerintah. Namun, Mens Rea telah menggigit urat malu ekosistem politik nasional. Partai politik harus meningkatkan kembali tanggung jawabnya dalam memberikan edukasi politik kepada masyarakat, tidak sekadar berburu power politics.
Kelompok masyarakat madani harus mencari cara-cara yang lebih inovatif dalam membangun kesadaran dan keberanian politik masyarakat, tidak melulu pada cara-cara konvensional dengan bersandar pada populisme. Para intelektual di lingkungan kampus harus duduk dan berdiri bersisian mendampingi rakyat secara langsung, bukan berjarak dan bermukim di menara gading.
Mereka yang duduk di suprastruktur politik dapat mengingat kembali janji yang mereka lontarkan kepada rakyat saat Pemilu, bukan membiarkan rakyat bisu setelah suara mereka diambil. Dan, yang tak kalah penting, partisipasi dan kepentingan masyarakat harus selalu menjadi nafas dalam setiap formulasi kebijakan pemerintah. Semua harus bergerak menegakkan kedaulatan rakyat.*
Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P., Alumnus Magister Ilmu Pemerintahan dan Kebijakan Publik SGPP Indonesia/Direktur Eksekutif Baturaja Project.
