Beberapa meter di depan terlihat makam Rasulullah dan dua sahabat utama; Abu Bakar dan Umar. Hatiku tiba-tiba bergetar ketika langkah kaki mendekati makam ketiga manusia paling mulia itu. Perasaan gugup, takut, dan ngeri menjalari sekujur tubuh. Aku merasa seolah-olah akan berhadapan langsung Rasulullah, Sang Kekasih Allah. Aku yang berlumur dosa ini ‘bertemu’ Rasulullah? Nikmat Tuhan mana lagi yang lebih baik dari ini?
Begitu langkah kakiku terhenti persis di depan lubang kecil yang terdapat di dinding makam Nabi, yang terlihat sekilas hanyalah siluet abstrak di kejauhan. Refleks kutundukkan muka seraya berucap, “Assalamu alaika ya Rasulallah, assalamu alaika ya Nabiyallah.” Kalimat ini terus-menerus keluar dari bibirku bersamaan dengan air mata yang tak lagi menetes, tapi bercucuran.
Ketika tiba di depan makam Abu Bakar, yang ditandai tulisan namanya, aku mengucap, “Assalamu alaika ya Aba Bakr.” Begitu pula ketika melewati dinding yang terdapat tulisan Umar, kata-kata ‘assalamu alaika ya Umar’ menjadi salam dan doaku pada sosok yang dikenal tegas, keras namun adil itu. Keluar melewati Pintu Baqi’, aku menyeka muka yang sembab dan basah dengan lengan baju.
Aku terus melangkah mengikuti arus jemaah yang baru keluar dari makam Rasulullah. Ketika langkah kaki hampir mendekati tembok area Makam Baqi’, aku baru sadar, “Oh ya, tadi aku disuruh masuk ke Raudah, kenapa malah kutolak.” Subuh pertama di Masjid Nabawi berlalu tanpa sempat mencium aroma surgawi di atas hamparan karpet hijau.
Sebagai salah satu anggota Tim MCH 2017, aku bersama Sarmoko ditugaskan di Daker Madinah-Jeddah. Bertindak selaku Kepala Seksi MCH Daker Bandara adalah Abdul Basyir, dan Kepala Daker Bandara Arsyad Hidayat. Mereka berdua adalah pejabat di Kemenag. Kawan-kawan MCH lain sebagian bertugas di Daker Mekkah, sebagian lagi di Daker Madinah. Jadi, seluruh pemberitaan seputar haji dipusatkan di tiga Daker ini.
Selain tugas utama melakukan reportase dan mensuplai berita kepada teman-teman MCH di Mekkah-Madinah, tugas lain yang kami lakoni di bandara adalah membantu petugas PPIH melayani jemaah haji Indonesia. Kadang tugas-tugas melayani ini malah lebih sering kami lakukan. Mengingat terbatasnya jumlah petugas PPIH, sementara kuota jemaah haji kembali ke angka normal.
Tak semua jemaah tiba dalam kondisi fisik prima sebagaimana sebelum keberangkatan mereka dari Tanah Air. Banyak di antara jemaah yang tiba-tiba sakit begitu menginjakkan kaki di Tanah Suci. Belum lagi jemaah lansia dan risiko tinggi (risti), cukup dominan dan rentan mengalami gangguan kesehatan. Tak hanya soal fisik, kadang beberapa jemaah juga mengalami gangguan mental begitu mendarat di bandara.
Gangguan psikis yang disebut demensia (disorientasi) ini kerap kami temukan terjadi pada jemaah lansia. Banyak faktor yang memengaruhi terjadinya demensia pada seorang jemaah. Berdasarkan data Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), sebagian besar faktor pemicunya adalah penyakit bawaan dan kekagetan saat berhadapan dengan kondisi atau lingkungan baru. Walau begitu, banyak juga jemaah yang tetap sehat dan bugar saat tiba di Madinah. Padahal, mereka dalam kondisi kurang fit saat berangkat dari rumah.
“Inilah keajaiban Tanah Suci,” begitu biasanya kata-kata yang terdengar di kalangan petugas, mengomentari ragam rupa dan kondisi jemaah saat tiba di Arab Saudi.
Terkapar di Arafah
Puncak haji adalah wukuf. Sebagai petugas PPIH yang juga berkesempatan melaksanakan ibadah haji, Tim MCH juga bertolak ke Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1438 H/30 Agustus 2017 M. Berangkat dari Kantor Daker Mekkah, mobil yang kami tumpangi bergerak lambat. Jalanan Kota Mekkah macet total. Beruntung Pak Sopir cukup paham anatomi jalanan kota ini, sehingga kami tak terlalu lama terjebak kemacetan.
Di dalam bus, suara serak sang ‘Jenderal’ MCH, Khoeron, terus memandu kami melafalkan kalimat-kalimat talbiyah. Bayangkan, dari pintu kantor Daker hingga Padang Arafah. Sungguh luar biasa! Tak peduli suaranya hampir habis, lelaki ramah ini tiada henti mengucapkan talbiyah. Dan terus diikuti teman-teman MCH hingga mobil berhenti di depan tenda.
Padang Arafah yang disebut-sebut sebagai tempat pertemuan manusia terluas dan terbanyak di muka bumi, merupakan daerah terbuka di sebelah timur Kota Suci Mekkah. Di sinilah umat Islam melaksanakan wukuf, yang merupakan salah satu rukun haji. Tak sah haji seseorang jika ia tidak mengikuti wukuf.
Di padang ini pula terdapat sebuah tempat bernama Jabal Rahmah, yang diyakini sebagai tempat pertemuan Nabi Adam AS dan istrinya (Hawa), setelah terpisah selama puluhan tahun. Konon Adam dan Hawa memohon ampun pada Sang Khalik di tempat ini selama bertahun-tahun, hingga permohonan mereka dikabulkan Allah.
Wukuf berarti berhenti, diam, tak bergerak. Dimulai sejak matahari tergelincir hingga senja menjelang. Di bawah terik mentari yang menyengat, jutaan jemaah haji melangitkan doa dan istigfar dalam balutan kain putih. Drama kolosal pertemuan manusia di Arafah juga disebut miniatur hari pembalasan nanti di Padang Mahsyar, kala manusia berhadapan dengan Tuhan-nya. Sebagaimana jemaah haji, kami di sini lebih banyak memfokuskan diri untuk ibadah. Melupakan sejenak tugas-tugas sebagai jurnalis atau petugas haji.
Kesempatan langka yang hanya setahun sekali dan di tempat khusus tentu saja takkan kusia-siakan. Usai meliput prosesi wukuf yang dipusatkan di masjid berbentuk tenda kotak, aku pun tenggelam dalam munajat pada Tuhan. Memusatkan hati dan pikiran agar dapat mengetuk Arasy, memohon ampunan atas segala dosa.
Memohon ampun atas dosa-dosa kedua orang tua, istri dan anak-anakku, mertua, saudara kandung, saudara ipar, kerabat, dan seluruh kaum Muslimin. Air mataku sudah tak terbendung lagi, terus bercucuran di antara ratap dan tangis. Tumpah ruah, terhenti, kembali tumpah, begitu seterusnya. Hingga kuterkapar tak sadarkan diri di lantai karpet.
Menjelang Magrib, aku terbangun karena sentuhan tangan seseorang di pahaku. Samar kulihat sosok di depanku ini bak malaikat pencabut nyawa dalam balutan cahaya putih di sekujur tubuhnya. Wajahnya tak tampak jelas, hanya berupa goresan sketsa di atas kanvas.
Aku mengucek kedua mataku, memusatkan pandangan ke sosok yang didominasi warna putih itu. Semakin lama, seiring dengan kesadaran yang mulai pulih dan pandangan yang menemukan titik fokusnya, ternyata yang menunduk di depanku itu adalah seorang pria berkain ihram. “Mas, Bangun. Sudah sore!” sapanya seraya menepuk-nepuk paha kiriku.
Entahlah, aku tak tahu berapa lama tertidur di masjid tenda ini? Yang kuingat hanyalah, tangis dan air mata, doa dan istigfar. Aku duduk sebentar, mengumpulkan seluruh pikiran dan energi di otak agar mengalir lancar bersama oksigen ke seluruh tubuh. Berdiri tegak, lalu melangkah meninggalkan masjid menuju tenda.

